Romy Soekarno Tolak WFH Hari Jumat, Khawatir Picu Long Weekend dan Turunkan Produktivitas
Usulan kebijakan Work From Home atau WFH satu hari sepekan dinilai perlu dirancang secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif
Ringkasan Berita:
- Romy Soekarno menilai WFH pada hari Jumat berpotensi disalahgunakan menjadi long weekend yang justru meningkatkan mobilitas.
- Ia mengingatkan WFH dapat memperlambat koordinasi kerja, mengurangi interaksi langsung, serta berdampak pada produktivitas dan kualitas layanan.
- Pemerintah melalui Prasetyo Hadi memastikan kebijakan WFH hanya berlaku untuk sektor tertentu dan masih dalam tahap perumusan.
SERAMBINEWS.COM - Usulan kebijakan Work From Home atau WFH satu hari sepekan dinilai perlu dirancang secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti penurunan produktivitas dan kualitas layanan publik.
Penentuan hari pelaksanaan menjadi krusial, sementara pemerintah menegaskan kebijakan ini hanya akan berlaku untuk sektor tertentu.
Anggota Komisi II DPR Fraksi PDI-P Romy Soekarno meminta pemerintah tidak menempatkan WFH satu hari dalam sepekan bagi ASN dan swasta pada hari Jumat.
Romy menyebut, jika pekerja dibiarkan WFH di hari Jumat, maka mereka cenderung menjadikannya sebagai long weekend.
"Akan muncul moral hazard berupa kecenderungan menjadikannya sebagai long weekend. Ini berpotensi meningkatkan mobilitas, bukan menurunkannya.
Artinya, tujuan penghematan BBM bisa peleset," ujar Romy saat dimintai konfirmasi, Kamis (26/3/2026).
Baca juga: 56 Titik Panas Terpantau, Ini Prediksi Cuaca saat Weekend Libur Lebaran di Banda Aceh
Romy berpandangan, kebijakan WFH satu hari untuk penghematan BBM sebenarnya langkah yang rasional dalam konteks efisiensi energi nasional.
Hanya saja, dia mengingatkan, kebijakan ini tidak boleh berhenti pada niat baik semata, dan harus dirancang dengan presisi agar tidak kontraproduktif.
"Kita tidak boleh mengabaikan aspek kinerja birokrasi dan dunia kerja secara umum.
Dalam praktiknya, WFH sering membuat proses kerja menjadi kurang direct. Pengambilan keputusan menjadi lebih lambat, koordinasi tidak seefektif tatap muka, dan sering kali terjadi fragmentasi komunikasi," jelasnya.
Selanjutnya, Romy menyoroti interaksi langsung yang berkurang akibat WFH. Menurut dia, interaksi langsung merupakan fondasi dari trust, leadership presence, dan soliditas tim.
Ketika interaksi ini berkurang, maka yang muncul adalah pola kerja yang cenderung mekanistis dan kurang memiliki kedalaman kolaborasi.
Baca juga: Gaji ke-13 PNS, PPPK, TNI-Polri, Pensiunan 2026 Cair Usai Lebaran, Ini Rincian Nominal dan Jadwalnya
"Negara tidak boleh memberikan layanan yang 'setengah hadir' kepada masyarakat hanya karena pola kerja yang tidak optimal," papar Romy.
Oleh karena itu, Romy menilai bahwa, jika kebijakan WFH ini tetap akan dijalankan, maka beberapa prinsip harus dijaga.
Misalnya seperti penentuan hari yang netral seperti pertengahan minggu.
| Perdamaian Berkelanjutan Perlu Keadilan dan Partisipasi Masyarakat, Ini Pesan Michael Beer di USK |
|
|---|
| Pamit dari Aceh, Thasrif Murhadi Diangkat Jadi Kepala Pengelolaan Wilayah 1 BEI |
|
|---|
| Sebagian Peserta JKN di Aceh Berstatus Nonaktif, Ini Penjelasan BPJS |
|
|---|
| Dana Stimulan Rumah Rusak Akibat Bencana di Aceh Timur Disalurkan, Capai Rp118,935 Miliar |
|
|---|
| Personel Lantas Polres Aceh Utara Amankan Empat Sepmor Berknalpot Brong Saat Patroli Dini Hari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/WFH-26032026.jpg)