Sabtu, 30 Mei 2026

AS dan Israel Serang Iran

Iran Batasi Akses Selat Hormuz, AS Dilarang Melintas

Teheran menyatakan akan membuka kembali Selat Hormuz, namun hanya bagi negara-negara yang bersedia mematuhi aturan baru yang

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
Kompas.com/Seto Ajinugroho
KAPAL PERTAMINA - Dua kapal Pertamina Indonesia masih tertahan di Selat Hormuz. 

SERAMBINEWS.COM - Teheran menyatakan akan membuka kembali Selat Hormuz, namun hanya bagi negara-negara yang bersedia mematuhi aturan baru yang ditetapkan Iran.

Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan jalur strategis tersebut “pasti akan dibuka kembali”, tetapi tidak untuk Amerika Serikat.

Sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada 28 Februari, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Saat ini, hanya kapal dari negara-negara yang dianggap “bersahabat” serta kapal tertentu yang membayar biaya sekitar £1,5 juta kepada IRGC yang diizinkan melintas.

Baca juga: Iran Belum Terkalahkan, Kekuatan Militernya Disebut Masih Canggih

Dalam unggahan di platform X, Azizi menyindir Presiden AS, Donald Trump, dengan mengatakan bahwa Trump “akhirnya mencapai mimpinya tentang perubahan rezim—namun di rezim maritim kawasan ini”.

“Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali, tetapi bukan untuk Anda. Jalur ini hanya terbuka bagi mereka yang mematuhi hukum baru Iran. Keramahtamahan selama 47 tahun telah berakhir,” tulisnya.

Di sisi lain, Uni Emirat Arab dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk bergabung dengan Amerika Serikat dalam operasi militer guna membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Para diplomat di Abu Dhabi menyebut negaranya sedang mengkaji peran dalam upaya internasional untuk mengamankan Selat Hormuz.

Namun, seorang pejabat UEA membantah perubahan sikap negaranya dalam konflik ini. Ia menegaskan bahwa UEA tetap mengedepankan posisi defensif, dengan fokus pada perlindungan kedaulatan, warga, dan infrastrukturnya, sembari tetap membuka kemungkinan mendukung upaya kolektif internasional.

Sementara itu, Trump kembali memicu kontroversi dengan pernyataannya di Truth Social. Ia menyarankan Inggris dan sekutunya yang terdampak lonjakan harga minyak untuk “mengambil minyak mereka sendiri” dan merebut jalur tersebut melalui operasi militer. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan menarik AS dari NATO setelah beberapa sekutu tidak bergabung dalam konflik melawan Iran.

Menanggapi hal itu, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam konflik. Namun, Inggris akan terus mendorong de-eskalasi di Timur Tengah dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Konflik yang meluas di kawasan tersebut telah menelan ribuan korban jiwa dan mengguncang stabilitas ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz sempat mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga 119 dolar AS per barel, sebelum turun kembali di bawah 100 dolar setelah pernyataan Trump terkait kemungkinan penarikan pasukan AS dalam dua hingga tiga minggu.

Dampaknya terasa langsung di kawasan Teluk. Di UEA, harga bahan bakar melonjak tajam—bensin naik lebih dari 30 persen dan solar hingga 72 persen. Antrean panjang kendaraan pun dilaporkan terjadi di sejumlah SPBU menjelang kenaikan harga.

Trump dijadwalkan menyampaikan pidato kenegaraan untuk memberikan pembaruan terkait perang dan kemungkinan langkah selanjutnya. Sementara itu, ribuan marinir AS dari Divisi Lintas Udara ke-82 telah dikerahkan ke Timur Tengah, memicu spekulasi mengenai kemungkinan operasi darat, termasuk perebutan pulau strategis Iran seperti Kharg.

Di lapangan, eskalasi terus berlanjut. Serangan Iran ke Israel dan negara-negara Teluk masih terjadi, termasuk insiden kapal tanker yang dihantam di perairan Teluk serta serangan drone yang memicu kebakaran besar di Bandara Internasional Kuwait.

Di pihak lain, Israel Defense Forces (IDF) mengklaim telah menewaskan pejabat penting IRGC, Mahdi Vafaei, yang disebut berperan dalam koordinasi operasi untuk Hizbullah dan rezim Assad melalui unit Pasukan Quds.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved