Kamis, 28 Mei 2026

AS dan Israel Serang Iran

Iran Tolak Isu Uranium Masuk dalam Agenda Perundingan dengan AS

Pemerintah Iran kembali menegaskan sikap kerasnya dalam perundingan dengan Amerika Serikat. Teheran memastikan isu uranium yang diperkaya tidak

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
rappler
Iran saat ini menyimpan lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya. Menurut para pejabat Israel, jumlah itu cukup untuk membuat hingga 11 bom nuklir jika diperkaya lebih lanjut. Iran selama ini bersikeras program nuklirnya bersifat damai, meski tingkat pengayaan uraniumnya telah mendekati level senjata. 
Ringkasan Berita:
  • Pernyataan itu disampaikan Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri, di sela konferensi keamanan internasional di Moskow, Rabu (27/5/2026).
  • Sikap tersebut muncul hanya sehari setelah Donald Trump menyatakan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran akan segera dipindahkan ke Amerika Serikat untuk dimusnahkan, atau “dihancurkan di tempat atau di lokasi lain yang dapat diterima”.

 

SERAMBINEWS.COM - Pemerintah Iran kembali menegaskan sikap kerasnya dalam perundingan dengan Amerika Serikat. Teheran memastikan isu uranium yang diperkaya tidak masuk agenda dalam pembicaraan yang tengah berlangsung.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri, di sela konferensi keamanan internasional di Moskow, Rabu (27/5/2026).

“Masalah ini tidak ada dalam agenda perundingan,” ujar Bagheri, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Fars.

Sikap tersebut muncul hanya sehari setelah Donald Trump menyatakan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran akan segera dipindahkan ke Amerika Serikat untuk dimusnahkan, atau “dihancurkan di tempat atau di lokasi lain yang dapat diterima”.

Pernyataan Trump itu menambah tensi di tengah proses diplomatik Washington–Teheran yang dimediasi Pakistan. Upaya ini ditujukan untuk mengakhiri konflik yang meletus sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, disusul pembalasan dari Teheran.

Di tengah diplomasi yang bergulir, Kementerian Intelijen Iran menyatakan tujuan Amerika Serikat dan Israel tetap untuk menggulingkan Republik Islam dan memecah negara.

Baca juga: Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata, Israel Gempur Lebanon hingga Tewaskan Puluhan Orang

“Musuh kini mengejar tujuan menggulingkan dan membagi negara melalui cara lain—tujuan yang secara terbuka dinyatakan pada awal perang baru-baru ini namun gagal dicapai lewat serangan militer,” bunyi pernyataan resmi kementerian yang disiarkan media Iran.

Sementara itu, laporan dari media Israel menyebut Washington telah memberi tahu Tel Aviv soal kemungkinan menarik pesawat militer AS yang ditempatkan di Bandara Ben Gurion jika kesepakatan dengan Iran tercapai. Langkah itu dipandang sebagai sinyal keseriusan AS mendorong deeskalasi.

Dari Asia Timur, China turut turun tangan. Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan Beijing sedang berupaya menjembatani kebuntuan AS–Iran dan mendorong kelanjutan dialog.

Berbicara usai memimpin pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB di New York, Wang menegaskan bahwa meski persoalan lama tak bisa diselesaikan dalam semalam, setiap kemajuan negosiasi membuka harapan bagi perdamaian.

“Kami berharap pihak-pihak terkait mematuhi gencatan senjata, menghentikan permusuhan, saling mendekat, dan membawa perdamaian kembali ke Timur Tengah secepatnya,” ujar Wang.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved