Rabu, 20 Mei 2026

Konflik Amerika vs Iran

Trump Didesak Dilengserkan, Dianggap Mulai "Tidak Waras", Amandemen Ke-25 Diusulkan

Wacana untuk menggulingkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mencuat.

Tayang:
Editor: Amirullah
Dok./Truth Social
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengunggah pidato terbarunya di media sosial Truth Social yang berisi pernyataan tegas terkait serangan militer terhadap Iran. Trump diusulkan dicopot jabatannya karena dianggap mulai 'tidak waras'. 

SERAMBINEWS.COM - Wacana untuk menggulingkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mencuat.

Pemicunya adalah unggahan terbaru Trump di media sosial bertepatan dengan hari Paskah yang memantik kontroversi luas.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menulis pernyataan bernada keras disertai ancaman terkait konflik dengan Iran yang masih berlangsung. Ia juga menyelipkan kalimat religius di tengah pernyataannya tersebut.

"Hari Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP," tulis Trump.

Unggahan itu langsung memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan politik di dalam negeri AS.

Salah satu yang paling keras bersuara adalah Senator AS Chris Murphy, politisi Demokrat dari Connecticut. Ia secara terbuka mendesak agar kabinet pemerintahan Trump mempertimbangkan penggunaan Amandemen ke-25 sebuah mekanisme konstitusional yang memungkinkan pemberhentian presiden dalam kondisi tertentu.

Murphy bahkan menilai kondisi Trump sudah mengkhawatirkan.

Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 6 April 2026: Awal Pekan Merosot! UBS, Galeri24 & Antam Kompak Turun

"Jika saya berada di Kabinet Trump, saya akan menghabiskan Paskah dengan menghubungi pengacara konstitusional tentang Amandemen ke-25," tulisnya.

"Dia (Trump) sudah membunuh ribuan orang. Dia akan membunuh ribuan orang lagi."

Pernyataan tersebut merujuk pada dampak konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran. Data dari kelompok hak asasi manusia berbasis di AS, HRANA, mencatat sedikitnya 3.531 orang telah tewas, termasuk 1.607 warga sipil.

Sementara itu, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah melaporkan angka korban mencapai setidaknya 1.900 orang tewas dan sekitar 20.000 lainnya mengalami luka-luka, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Korban juga datang dari pihak militer Amerika Serikat. Sedikitnya 13 personel dilaporkan meninggal dunia dalam konflik tersebut.

Apa itu Amandemen ke-25?

Amandemen ke-25 dirancang oleh Kongres AS setelah pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada tahun 1963 dan diratifikasi oleh 38 negara bagian pada tahun 1967.

Amandemen ini diberlakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan darurat medis dan ketidakmampuan Presiden AS menjalankan tugasnya secara normal.

  • Bagian pertama dari amandemen tersebut menyatakan, "Dalam hal Presiden diberhentikan dari jabatannya atau meninggal dunia atau mengundurkan diri, Wakil Presiden akan menjadi Presiden."
  • Pasal empat menyatakan bahwa wakil presiden dapat menjadi presiden apabila ia, bersama dengan mayoritas anggota Kabinet, menganggap presiden "tidak mampu menjalankan wewenang dan tugas jabatannya."

Baca juga: Karyawan Bank Kalteng Bobol Dana Rp16,4 Miliar untuk Judi Online

Kapan dan mengapa amandemen ke-25 diberlakukan?

Trump, dan pendahulunya, Presiden Joe Biden, kerap dihadapkan pada wacana Amandemen ke-25 karena kekhawatiran pada kebugaran fisik dan mental mereka untuk menjabat sebagai presiden  AS karena sudah lanjut usia.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved