Jumat, 24 April 2026

Konflik Amerika vs Iran

Mantan Petugas CIA Sebut Trump Ingin Gunakan Kode Nuklir Hadapi Iran

Johnson mengklaim Trump ingin menggunakan kode nuklir dalam konteks pembahasan konflik, namun ditentang oleh Caine.

Editor: Faisal Zamzami
SERAMBINEWS.COM/AI
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui bahwa faktor dendam pribadi turut memengaruhi keputusannya melancarkan serangan terhadap Iran.  

Ringkasan Berita:
  • Mantan petugas Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA), Larry Johnson, menyebut bahwa Presiden Donald Trump diduga ingin menggunakan kode nuklir dalam konflik dengan Iran.
  • Pernyataan tersebut disampaikan Johnson dalam siniar “Judging Freedom” yang dipandu Andrew Napolitano pada Senin (20/4/2026).
  • Ia mengklaim kejadian itu terjadi dalam pertemuan darurat di Gedung Putih pada Sabtu (18/4/2026) untuk membahas situasi konflik dengan Iran.

 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON – Mantan petugas Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA), Larry Johnson, menyebut bahwa Presiden Donald Trump diduga ingin menggunakan kode nuklir dalam konflik dengan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Johnson dalam siniar “Judging Freedom” yang dipandu Andrew Napolitano pada Senin (20/4/2026).

Ia mengklaim kejadian itu terjadi dalam pertemuan darurat di Gedung Putih pada Sabtu (18/4/2026) untuk membahas situasi konflik dengan Iran.

Klaim adanya perdebatan di Gedung Putih

Menurut Johnson, pertemuan tersebut berlangsung tegang.

Ia mengatakan ada perdebatan antara Trump dan Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, yang disebutnya berlangsung sengit.

Johnson mengklaim Trump ingin menggunakan kode nuklir dalam konteks pembahasan konflik, namun ditentang oleh Caine.

“Caine berdiri dan berkata ‘tidak’. Dia menggunakan hak istimewanya sebagai kepala militer,” kata Johnson dalam pernyataannya.

Ia juga menyebut Caine kemudian meninggalkan ruangan dalam kondisi marah.

Baca juga: Iran Mulai Raup Pendapatan dari Tarif Kapal di Selat Hormuz

Tidak ada konfirmasi resmi

Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi.

Tidak ada catatan resmi mengenai pertemuan darurat sebagaimana yang disebutkan, baik dari Gedung Putih maupun Pentagon.

Dilaporkan pula bahwa tidak ada bukti yang mendukung adanya rapat terkait keputusan penggunaan senjata nuklir seperti yang diklaim.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa bahkan sumber yang mengemukakan klaim tersebut tidak memberikan bukti yang dapat diverifikasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved