Info Haji Aceh
Jamaah Haji Berdoa untuk Kemakmuran Aceh di Arafah
pegawai Kemenag Aceh. Saifullah mengajak jamaah untuk merenungi kesalahan dan dosa masa lalu dan Arafah adalah tempat paling tepat memohon
Laporan Hasan Basri M Nur dari Mekkah
Jamaah haji asal Aceh memanjatkan doa khusus untuk kemakmuran Aceh saat menjalani wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi. Di tengah suasana khusyuk puncak ibadah haji, mereka berdoa agar Aceh dijauhkan dari bala, dipimpin pemimpin yang adil dan amanah, serta syariat Islam dapat tegak secara kaffah. Perjalanan jamaah Aceh dari Arafah hingga Mina juga berlangsung lancar meski sempat ada jamaah tersasar. Berikut laporan kontributor Serambi Indonesia, Hasan Basri M Nur dari Mekkah:
PELAKSANAAN puncak ibadah haji di Arafah pada tahun 1447/2026 berlangsung lancar dan tertib. Hampir dua juta jamaah haji dari seluruh penjuru dunia menempati kemah-kemah yang tersedia. Jamaah asal Aceh mendapatkan tempat terkonsentrasi sesama jamaah dari Indonesia.
Pantauan Serambi, terlihat jamaah haji asal Aceh berzikir, berdoa dan membaca Al-Qur'an sepanjang malam sejak tiba di Arafah pada Senin malam hingga Selasa menjelang siang.
Pada setiap kemah dilaksanakan khutbah haji. Khutbah untuk kloter 14 disampaikan oleh Saifullah MAg, pegawai Kementerian Agama (Kemenag) Aceh. Saifullah mengajak jamaah untuk merenungi kesalahan dan dosa masa lalu dan Arafah adalah tempat paling tepat memohon pengampunan.
Usai mengikuti khutbah dan shalat dhuhur jamak dengan Ashar, jamaah haji Aceh menggelar doa bersama agar Aceh menjadi negeri yang makmur, terjauh dari bala, mendapat pemimpin adil dan amanah, sehat dan tegaknya Syariat Islam yang kaffah.
Selasa malam jamaah haji Aceh bergerak ke Muzdalifah untuk mabit lalu menuju Mina menjelang shubuh. Pada Rabu (27/5/2026) pagi hingga siang, jamaah haji Aceh berjalan kaki sekitar 5 kilometer menuju Jamarat untuk melontar jumrah Aqabah, disusul tahalul awwal.
Beberapa jamaah sempat salah dalam memilih rute jalan pulang sehingga tersasar ke tempat-tempat lain. Namun, semua kendala tersebut dapat ditangani oleh penyelenggara, dan pada sore hari semua jamaah dapat berkumpul kembali pada kemah yang ditentukan.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, sebagaimana dikutip dari CNNIndonesia mengatakan, seluruh jamaah haji Indonesia berhasil diberangkatkan dari Arafah menuju Muzdalifah dan selanjutnya tiba di Mina untuk melanjutkan rangkaian ibadah mabit serta lontar jumrah.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian pergerakan jamaah dari Arafah menuju Muzdalifah dan dilanjutkan ke Mina berjalan sesuai rencana operasional. Pergerakan terakhir jamaah dari Arafah menuju Muzdalifah berlangsung pada pukul 02.40 waktu Arab Saudi, sementara proses pergerakan dari Muzdalifah menuju Mina selesai pada pukul 07.00 dan area Muzdalifah telah dinyatakan steril,” kata Maria dalam keterangan tertulis, Rabu (27/5/2026).
Menurut Maria, kelancaran proses Armuzna merupakan hasil sinergi petugas haji Indonesia, otoritas Arab Saudi, serta kedisiplinan jamaah dalam mengikuti arahan selama fase puncak haji berlangsung.
Saat ini, fokus pelayanan diarahkan pada pendampingan jamaah selama berada di Mina, khususnya dalam pelaksanaan lontar jumrah Aqabah dan hari-hari tasyrik berikutnya. Sebanyak 751 petugas haji disiagakan di Mina dan ditempatkan di tenda jamaah serta sejumlah pos layanan di sepanjang jalur menuju Jamarat.
“Penguatan layanan ini dilakukan agar jamaah mendapatkan pendampingan, pelindungan, dan bantuan secara cepat serta terkoordinasi selama fase Mina berlangsung,” ujarnya.
Kemenhaj juga mengimbau jamaah agar mematuhi jadwal lontar jumrah yang telah ditentukan dan tidak memaksakan diri, terutama pada siang hari ketika suhu di Mina mencapai 41 derajat Celsius. Jamaah diminta menghindari lontar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi guna mengurangi risiko akibat cuaca panas dan kepadatan jamaah.
Selain itu, jamaah juga diimbau menjaga kesehatan dengan memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan secara teratur, menggunakan payung atau pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik di luar keperluan ibadah.
“Khusus bagi jamaah lansia, jamaah disabilitas, dan jamaah risiko tinggi, kami meminta keluarga kloter, ketua rombongan, dan sesama jamaah untuk terus memberikan perhatian dan pendampingan,” ujar Maria.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hasan-Basri-M-Nur-di-Mekkah.jpg)