Minggu, 7 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Dampak Utang Masih Terkendali

“Kuponnya fix. Jadi secara nominal dolar tidak berubah. Pembayaran utang lewat obligasi, dan kuponnya tetap,” ujarnya.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Kompas.com/Rahel
PURBAYA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kompleks Istana, Jakarta, Kamis (5/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian luas pelaku pasar, ekonom, hingga masyarakat.
  • Kondisi ini dinilai sebagai salah satu tekanan eksternal yang cukup kuat di tengah dinamika global, terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dunia dan gejolak harga komoditas.
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi berbagai kemungkinan skenario nilai tukar dalam perencanaan fiskal

 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian luas pelaku pasar, ekonom, hingga masyarakat.

Kondisi ini dinilai sebagai salah satu tekanan eksternal yang cukup kuat di tengah dinamika global, terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dunia dan gejolak harga komoditas.

Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi berbagai kemungkinan skenario nilai tukar dalam perencanaan fiskal, termasuk jika rupiah bergerak melewati asumsi awal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Masih Sesuai Perhitungan Fiskal

Dalam keterangannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/6), Purbaya menyebutkan bahwa meskipun asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 ditetapkan di level sekitar Rp16.500 per dolar AS, pemerintah telah menyiapkan simulasi jika terjadi pelemahan lebih lanjut.

Menurutnya, posisi rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp18.000 masih berada dalam rentang perhitungan risiko fiskal yang telah dipetakan sebelumnya, sehingga belum menimbulkan gangguan signifikan terhadap stabilitas anggaran negara.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dollar AS, Cetak Rekor Terlemah di Tengah Gejolak Global

Beban Utang Dinilai Tetap Terkendali

Salah satu perhatian utama dari pelemahan rupiah adalah dampaknya terhadap pembayaran utang pemerintah yang memiliki denominasi dolar AS.

Namun, Purbaya menjelaskan bahwa sebagian besar kewajiban tersebut berbentuk obligasi dengan kupon tetap (fixed rate), sehingga besaran bunga yang dibayarkan tidak berubah meskipun nilai tukar berfluktuasi.

“Kuponnya fix. Jadi secara nominal dolar tidak berubah. Pembayaran utang lewat obligasi, dan kuponnya tetap,” ujarnya yang dikutip dari Kompas.tv.

Dengan struktur tersebut, pemerintah menilai bahwa risiko utama dari pelemahan rupiah bukan pada kenaikan bunga utang dalam dolar, melainkan pada konversi nilai pembayaran ke dalam rupiah yang menjadi lebih besar ketika kurs melemah.

Artinya, meskipun secara kontrak internasional pembayaran tetap, beban fiskal dalam rupiah dapat meningkat karena dibutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli dolar guna membayar kewajiban tersebut.

Dampak terhadap APBN dan Subsidi

Purbaya menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar tetap memiliki implikasi terhadap postur APBN, terutama pada pos belanja yang berkaitan dengan impor dan pembayaran utang luar negeri. Namun, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario penyesuaian untuk menjaga defisit tetap dalam batas yang direncanakan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved