Jumat, 12 Juni 2026

Konflik Amerika vs Iran

Iran Minta AS Angkat Kaki dari Timur Tengah, Tegaskan Siap Balas Setiap Ancaman

Araghchi mengatakan keberadaan pasukan asing di sekitar wilayah Iran justru meningkatkan potensi terjadinya insiden yang tidak diinginkan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Faisal Zamzami
IRNA
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi 

AS Kerahkan Puluhan Ribu Personel di Timur Tengah

Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.

Pejabat Angkatan Laut AS menyebut hampir 20.000 pelaut dan marinir saat ini berada di laut untuk mendukung operasi militer di kawasan. Pengerahan tersebut mencakup:

-Kapal induk USS Abraham Lincoln

-Kapal induk USS George H.W. Bush

-18 kapal perusak berpeluru kendali

-Unit Ekspedisi Marinir ke-31

-Lebih dari selusin skuadron udara yang ditempatkan di kapal perang

Kekuatan tersebut merupakan bagian dari sekitar 50.000 personel militer AS yang kini berada di Timur Tengah, termasuk pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 dan sejumlah penerbang yang menjalankan operasi dari berbagai pangkalan militer di kawasan.

Baca juga: Iran ke AS: Tinggalkan Wilayah Kami Jika Ingin Aman, Teheran Ancam Eskalasi Lebih Luas

Ketegangan Memuncak Setelah Helikopter Apache AS Jatuh

Konflik terbaru bermula setelah jatuhnya sebuah helikopter Apache milik militer AS di kawasan Teluk.

Menurut Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), jet tempur AS kemudian melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran yang meliputi sistem pertahanan udara, radar pengawasan, serta stasiun kendali darat di sekitar Selat Hormuz.

Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons yang proporsional atas insiden jatuhnya helikopter tersebut.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim menyerang 21 target yang terkait dengan militer AS di kawasan, termasuk fasilitas di Bahrain dan Yordania. Militer Kuwait juga melaporkan berhasil mencegat salah satu serangan yang melintas di wilayahnya.

IRGC menyebut serangan AS sebagai tindakan "kejam", sementara Washington menegaskan langkahnya dilakukan untuk melindungi personel dan aset militernya di kawasan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved