Kupi Beungoh
Pleonexia Umayyah Bin Khalaf Dalam Tragedi Bencana Aceh
Bencana yang seharusnya menyalakan sikap solidaritas alih-alih justru menjadi kesempatan untuk praktik keserakahan
Oleh: Mohd. Heikal
Himbauan Mualem Muzakir Manaf selaku Gubernur Aceh kepada para pelaku usaha di Aceh dalam sebuah platform media sosial (04/12/2025), untuk tidak menaikkan harga dalam kondisi bencana yang sedang menimpa masyarakat Aceh, tidak hanya viral tapi juga miris dan memilukan.
Hal ini juga dilaporkan oleh Mualem dalam rapat bersama dengan Presiden H Prabowo Subianto di Pos Pendamping Nasional pada Minggu malam (7/12/2025) Altruism surge sebagaimana dikemukakan oleh Daniel Batson – American Social Psychologist dan juga dalam studi antropologi bencana dimana adanya “ledakan” kebaikan yang terjadi dalam suatu populasi atau masyarakat dimana sering kali dipicu oleh peristiwa krisis skala besar seperti bencana alam, pandemi, atau tragedi yang secara kolektif menunjukkan tingkat kepedulian dan tindakan membantu yang luar biasa tinggi, bahkan dengan mengorbankan sumber daya atau keselamatan pribadi mereka, tanpa mengharapkan imbalan, malah kebalikannya.
Dalam pada itu bahwa ujian sesungguhnya dari sebuah bencana bukan hanya soal sarana dan sesuatu yang berwujud fisik tapi juga ujian peradaban.
Dalam bencana kita dapat kembali membangun rumah yang hilang, jembatan yang putus dan jalan yang rusak namun yang paling sulit adalah membangun moral publik yang tercabik.
Bencana yang seharusnya menyalakan sikap solidaritas alih-alih justru menjadi kesempatan untuk praktik keserakahan yang dalam terminologi Presiden Prabowo Subianto kini telah menjadi buzzword yaitu Serakahnomics sebagai antitesa dari itu.
Bayang-bayang Umayyah Bin Khalaf yang bukan hanya sekadar tokoh jahiliah, tetapi simbol involusi moral akan keserakahan dan ketamakan, pedagang kaya yang mengeksploitasi manusia demi keuntungan, dan menolak nilai kemanusiaan telah me-mutasi dalam tragedi bencana Aceh kontemporer dan begitu relevan baik secara moral, historis, maupun teologis.
Baca juga: Profil Mualem, Gubernur Aceh yang Menangis Diwawancara Najwa Shihab Soal Banjir, Ini Rekam Jejaknya
Dalam kerangka metaforis, ketika pelaku usaha masa kini memanfaatkan tragedi untuk memperbesar keuntungan seolah mereinkarnasi watak kezaliman Umayyah bin Khalaf dalam bentuk modern yang lebih rapi dan terstruktur, ia menggunakan “madzhab” ekonomi berdasarkan logika: “Jika orang sedang terdesak, maka harga pantas dinaikkan.”.
Ketamakannya sangat sempurna karena terpenuhi semua bentuk kemungkaran, mulai dari zulm (kezaliman), gharar (ketidakadilan), ikhtikar (menimbun untuk keuntungan), dan tatfif (memainkan standar perdagangan secara tidak etis), hal ini persis saat ketika Abu Bakar Asshsiddiq akan mengakhiri penderitaan Bilal Bin Rabah dengan “membelinya” dari Umayyah yang menaikkan harga berlipat ganda sampai sembilan uqyah emas, dan ketika transaksi telah terjadi ia berkata kepada Abu Bakar…”andai engkau menawar sampai satu uqyah emas pun maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya”. (khazanah.republika.co.id 24/05/2018).
Pleonexia (keserakahan ekstrem), sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles sebagai dorongan akan ketamakan untuk mengambil lebih dari bagian yang semestinya ini dijelaskan dalam karyanya Ethika Nikomakheia terkait kebajikan dan karakter moral maka sejatinya pasar bukanlah sebagai ruang netral tempat dimana bertemunya pembeli dan penjual sehingga terjadinya transaksi tapi juga sebagai arena etika, tempat di mana nilai-nilai moral dibentuk, diuji, dan bahkan dipertarungkan untuk membangun keadilan korektif dan keadilan distributif sebagai pilar dalam kegiatannya dan dalam perspektif sosiologi ekonomi selalu embedded dengan nilai moral.
Pasar yang sehat hanya mungkin terjadi ketika simpati, moralitas, dan moderasi mengiringi interaksi ekonomi begitu kata Adam Smith dalam bukunya Theory of Moral Sentiments (1759).
Pasar adalah ekosistem etika di mana pedagang, pembeli, pemerintah dan masyarakat sebagai aktor harusnya menjalankan praktik moral kolektif dalam pasar yang memiliki dua sisi yaitu penciptaan nilai (value creation) dan penilaian moral (value judgement), melalui etika – pasar yang mengarusutamakan kemanusiaan dengan menghilangkan perilaku predatoris sehingga non eksploitasi untuk memaksimalkan kemashlahatan membangun ruang keadilan dan membuka peluang ekonomi lebih merata sekaligus mengurangi kerentanan sosial bila pelaku ekonomi tidak dengan bebas memanfaatkan keadaan darurat, kekurangan informasi, atau posisi tawar yang lemah.
Kegiatan dagang/usaha yang secara nyata merugikan masyarakat terutama saat bencana dan masa sulit juga merupakan bentuk fasad fil-ardh (kerusakan di muka bumi) dalam pandangan Al-Ghazali dan Ibnu Taymiyyah.
Para Pleonexia sama juga dengan pembabat hutan dan penambang ilegal yang menyebabkan bencana alam terjadi dan para pleonexic person selalu saja ingin “lebih banyak, lebih besar, dan lebih dari haknya.”
Pandangan Philip Kotler – Bapak Pemasaran Modern bahwa pemasaran melibatkan tanggung jawab sosial dan etika. Meskipun beberapa strategi penetapan harga berfokus pada memaksimalkan keuntungan, praktik yang mengeksploitasi konsumen, seperti penimbunan/menaikkan harga (price gouging), secara berlebihan selama krisis, bertentangan dengan prinsip-prinsip inti dalam membangun hubungan dan kepercayaan jangka panjang dengan pelanggan yang pada gilirannya tidak hanya merusak reputasi pelaku usaha, tetapi juga merusak kepercayaan sosial dan stabilitas pasar karena harga bukan soal angka tapi merupakan penyataan etis.
| Dari Thaif ke Aceh: Makna Isra Mikraj di Tengah Bencana |
|
|---|
| Jaga Marwah USK: Biarkan Kompetisi Rektor Bergulir dengan Tenang dan Beradab |
|
|---|
| Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung |
|
|---|
| Serambi Indonesia Cahaya yang tak Padam di Era Digital |
|
|---|
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-H-Mohd-Heikal-SE-MMDosen-pada-Fakultas-Ekonomi-dan-Bisnis.jpg)