Minggu, 31 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Derita Aceh, Kejahatan Belanda Hingga Penantian Imam Mahdi

Semoga Presiden RI mendengar suara dan jeritan korban bencana di Aceh dengan menerima uluran tangan negara-negara sahabat untuk membantu Aceh

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com
Jafar Insya Reubee, Pemerhati Pembangunan Aceh, berdomisili di Negeri Selangor Kerajaan Malaysia 

Oleh: Jafar Insya Reubee*)

Dalam sebuah kajian politik Islam di sebuah warung kopi di kawasan Lueng Bata Banda Aceh, kami mendiskusikan sejarah politik Islam klasik, dengan nara sumber Hasan Basri M Nur, seorang kolumnis dan alumnus Program PhD dari UUM Malaysia.

Jamaah pengajian yang berlangsung malam hari dalam suasana santai, sambil ngopi dan mengepulkan asap tembakau ini sebagian adalah jurnalis yang hobi mengetik pada tengah malam.

Tiba-tiba bahasan menyerempet ke akar histori kelahiran akan keyakinan datangnya Imam Mahdi, sang juru selamat dari kemelaratan dan penindasan.

Pembahasan mengenai Imam Mahdi ini muncul karena rakyat Aceh seperti dibiarkan dalam kesengsaraan saat ini, terlunta-lunta dalam duka bencana akibat ulah tangan jahat dari luar Aceh manusia yang membabat hutan.

Baca juga: Presiden Prabowo Sebut Perbaikan Listrik di Aceh Bisa Seminggu Lagi: Tapi Jangan Berharap Ya

Akibat banjir raksasa 2025, kondisi Aceh saat ini sedang phang phoe (hancur lebur), ruyang rayoe (kebingungan), deuk troe (kelaparan), saket asoe (ancaman penyakit). Duh!

Apa itu Imam Mahdi?

Imam Mahdi adalah sosok juru selamat yang diyakini akan datang untuk menyelamatkan manusia manakala sudah sangat terjepit.

Dalam istilah Nusantara ia dikenal sebagai Ratu Adil. Dalam konsep Barat ia sering disebut sebagai Mesias.

Dalam kajian keislaman, keyakinan akan datangnya Imam Mahdi pertama sekali muncul setelah Perang Shiffin antara Khalifah Ali bin Abi Thalib versus Gubernur Suriah Muawiyah bin Abi Sufyan dalam perkara kepemimpinan yang sah setelah meninggalnya Khalifah Utsman bin Affan.

Dalam Perang Shiffin, Ali dikalahkan oleh kelicikan Muawiyah. Pengikut Ali lalu di uber-uber, dikerdilkan, diintimidasi dan seterusnya.

Walau bagaimana pun, sejumlah pengikut Ali tetap setia dalam membela Ali dan mereka ini disebut kaum Syiah.

Baca juga: VIDEO - Viral Zulhas Panggul Beras di Lokasi Banjir: Aksi Tulus atau Gimmick Politik?

Dalam kepemimpinan Syiah dikenal konsep Imamah, kepemimpinan tertinggi ada pada Imam.

Orang Syiah menunggu datangnya imam terakhir atau Imam Mahdi Al-Muntadhar sebagai penyelamat manusia dan tegaknya keadilan.

Orang Syiah hidup dalam intimidasi dan korban penipuan politik dalam jangka waktu lama. 

Tapi mereka tetap optimis akan berhasil, dan akhirnya memang berhasil mendirikan Khilafah Fatimiyah di Afrika Utara serta Persia Islam yang kini berubah menjadi Republik Islam Iran.

Iran menjadi negara Islam termaju dalam teknologi dan sangat ditakuti musuh, terutama Israel dan sekutunya. Mereka optimis dan selalu mencari jalan agar menjadi sebagai pemenang. 

Gara-gara Belanda

Aceh sudah sangat lama hidup dalam penderitaan. Tercatat, sejak Deklarasi Perang dari Kerajaan Belanda terhadap Kesultanan Aceh Darussalam pada 1973, rakyat Aceh hidup dalam derita.

Jahatnya Belanda, Deklarasi Perang 1873 belum dicabut sampai saat ini. Ini adalah PR khsusus bagi elite Aceh, terutama Gubernur, DPRA, dan Paduka.

Baca juga: Kisah Pilu Korban Bencana Aceh Tamiang, Ibu Terpaksa Beri Minum Bayinya dengan Air Banjir

Gara-gara Belandalah rakyat Aceh jadi phang-phoe dan deuk troe. Sungguh jahat, Belanda telah merusak segalanya di Aceh, mulai struktur politik hingga strata sosial.

Kita yang hidup saat ini selaku cucu Sultan Iskandar Muda mesti menuntut Kerajaan Belanda agar mencabut Deklarasi Perang 1873 dan melakukan rehabiltasi kepada Aceh seperti sedia kala. 

Ini wajib diperjuangkan agar harga diri Aceh terpulihkan.

Imam Mahdi dan Aceh

Aceh saat ini sedang kesulitan, kesengsaraan, bahkan dapat dikatakan menderita. Derita Aceh saat ini adalah bencana banjir Siklon Senyar 2025.

Banjir bandang terbesar dalam sejarah Aceh ini telah menghancurkan puluhan ribuan rumah, merenggut nyawa dan ratusan ribu orang hidup di bawah tenda pengungsian.

Gubernur Aceh Bapak Haji Muzakir Manaf pun harus menangis. Beliau merasa dikhianati oleh elite. 

Beliau tak tahu meminta pertolongan pada siapa pun, karena Pemerintah NKRI ngotot menutup pintu dari bantuan asing. 

Baca juga: Derita Warga Alue Kuta Jangka Bireuen, Rumah Hanyut Ke Laut, Jembatan Putus, Tiang Listrik Tumbang

Pemerintah Pusat di Jakarta ngotot melarang orang asing untuk bantu banjir Aceh dengan alasan harga diri bangsa, jangan sampai dianggap tak mampu dan miskin.

Som gasien peulumah kaya. Padahal pada lain sisi, Pemerintah berutang sangat banyak pada negara luar, termasuk untuk membeli Kereta Api Woosh di Pulau Jawa.

Selain itu, harga diri bangsa Indonesia rendah di luar negeri, manakala passport Indonesia sangat rendah nilainya, lebih rendah dari passport Timor Leste, utang luar negeri membengkak, pengiriman TKI buruh kasar kian ramai dan lain-lain.

Pengiriman tenaga kerja kasar ke LN seperti tukang cuci piring, tukang bersihkan WC, dan pembantu rumah tangga, sungguh menyayat hati. Pilu.

Mereka lahir di negara kaya SDA, tapi jadi harus cari nafkah sebagai buruh kasar di luar negeri.

Mana harga diri bangsa kita, Pak? Jangan asbun ya Pak.

Orang Aceh saat ini tak tahu mengadu ke mana lagi. Mereka hanya bisa menangis dan berdoa kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Terus Bertambah, Korban Meninggal Bencana Banjir Aceh Capai 430 Jiwa

Selain ini, orang Aceh hanya mengharapkan datangnya sosok yang mampu menyelamatkan mereka dari keterpurukan dan mengembalikan kepada kajayaan seperti era Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam, yang menjadi tokoh penakluk di Asia Tenggara.

Nah, adakah sosok itu akan lahir segera?

Tak ada yang mustahil. Allah Maha Kuasa, pemilik skenario terbaik. 

Ditambah lagi, doa kelompok manusia yang telah lama dan sedang teraniaya akan maqbul. Doa orang teraniaya itu tanpa hijab.

Kita tak tahu apa kandungan doa yang disuarakan oleh orang-orang yang teraniaya di Aceh sambil menadahkan tangan dan deraian air mata.

Makanya, para penguasa, baik daerah maupun pusat, perlu berjalan siang malam di tengah-tengah rakyat kecil di pedalaman.

Untuk mengetahui keadaan hakiki mereka agar mereka tidak membuat laporan ABS kepada atasan, agar mereka tidak terus menipu dan mendhalimi rakyat sendiri.

Baca juga: Tiga Kali Kunjungan Presiden Prabowo ke Aceh Tidak Menjawab Tuntutan Warga

Akhirnya, hanya kepada Allah kita menyerahkan semua persoalan. Semoga keadilan akan segera terwujud serta para penjahat dan penipu punah dari muka bumi.

Semoga Presiden RI mendengar suara dan jeritan korban bencana di Aceh dengan menerima uluran tangan negara-negara sahabat untuk membantu Aceh sehingga rakyat Aceh tak lagi menanti pada sosok Imam Mahdi. Semoga!

*) PENULIS adalah Pemerhati Pembangunan Aceh, berdomisili di Negeri Selangor Kerajaan Malaysia

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved