KUPI BEUNGOH
Derita Aceh, Kejahatan Belanda Hingga Penantian Imam Mahdi
Semoga Presiden RI mendengar suara dan jeritan korban bencana di Aceh dengan menerima uluran tangan negara-negara sahabat untuk membantu Aceh
Oleh: Jafar Insya Reubee*)
Dalam sebuah kajian politik Islam di sebuah warung kopi di kawasan Lueng Bata Banda Aceh, kami mendiskusikan sejarah politik Islam klasik, dengan nara sumber Hasan Basri M Nur, seorang kolumnis dan alumnus Program PhD dari UUM Malaysia.
Jamaah pengajian yang berlangsung malam hari dalam suasana santai, sambil ngopi dan mengepulkan asap tembakau ini sebagian adalah jurnalis yang hobi mengetik pada tengah malam.
Tiba-tiba bahasan menyerempet ke akar histori kelahiran akan keyakinan datangnya Imam Mahdi, sang juru selamat dari kemelaratan dan penindasan.
Pembahasan mengenai Imam Mahdi ini muncul karena rakyat Aceh seperti dibiarkan dalam kesengsaraan saat ini, terlunta-lunta dalam duka bencana akibat ulah tangan jahat dari luar Aceh manusia yang membabat hutan.
Baca juga: Presiden Prabowo Sebut Perbaikan Listrik di Aceh Bisa Seminggu Lagi: Tapi Jangan Berharap Ya
Akibat banjir raksasa 2025, kondisi Aceh saat ini sedang phang phoe (hancur lebur), ruyang rayoe (kebingungan), deuk troe (kelaparan), saket asoe (ancaman penyakit). Duh!
Apa itu Imam Mahdi?
Imam Mahdi adalah sosok juru selamat yang diyakini akan datang untuk menyelamatkan manusia manakala sudah sangat terjepit.
Dalam istilah Nusantara ia dikenal sebagai Ratu Adil. Dalam konsep Barat ia sering disebut sebagai Mesias.
Dalam kajian keislaman, keyakinan akan datangnya Imam Mahdi pertama sekali muncul setelah Perang Shiffin antara Khalifah Ali bin Abi Thalib versus Gubernur Suriah Muawiyah bin Abi Sufyan dalam perkara kepemimpinan yang sah setelah meninggalnya Khalifah Utsman bin Affan.
Dalam Perang Shiffin, Ali dikalahkan oleh kelicikan Muawiyah. Pengikut Ali lalu di uber-uber, dikerdilkan, diintimidasi dan seterusnya.
Walau bagaimana pun, sejumlah pengikut Ali tetap setia dalam membela Ali dan mereka ini disebut kaum Syiah.
Baca juga: VIDEO - Viral Zulhas Panggul Beras di Lokasi Banjir: Aksi Tulus atau Gimmick Politik?
Dalam kepemimpinan Syiah dikenal konsep Imamah, kepemimpinan tertinggi ada pada Imam.
Orang Syiah menunggu datangnya imam terakhir atau Imam Mahdi Al-Muntadhar sebagai penyelamat manusia dan tegaknya keadilan.
Orang Syiah hidup dalam intimidasi dan korban penipuan politik dalam jangka waktu lama.
Tapi mereka tetap optimis akan berhasil, dan akhirnya memang berhasil mendirikan Khilafah Fatimiyah di Afrika Utara serta Persia Islam yang kini berubah menjadi Republik Islam Iran.
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Jafar-Insya-Reubee-Pemerhati-Pembangunan-Aceh-berdomisili-di-Negeri-Selangor-Kerajaan-Malaysia.jpg)