Kupi Beungoh
Pemerintah NPD di Tengah Bencana
Individu dengan NPD cenderung merasa dirinya paling mampu, tidak membutuhkan bantuan, dan menolak kritik atau masukan dari luar.
*) Oleh: Prof. Mailizar
DALAM dunia psikologi, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa percaya diri berlebihan, kebutuhan akan kekaguman, dan kurangnya empati terhadap orang lain.
Individu dengan NPD cenderung merasa dirinya paling mampu, tidak membutuhkan bantuan, dan menolak kritik atau masukan dari luar.
Jika karakteristik ini melekat pada individu, dampaknya bisa terasa dalam lingkup keluarga atau pertemanan.
Namun, bagaimana jika pola pikir NPD ini justru tercermin dalam kebijakan pemerintah, terutama saat menghadapi bencana besar yang menelan banyak korban jiwa?
Bencana banjir besar yang melanda Sumatera baru-baru ini menjadi ujian nyata bagi pemerintah Indonesia. Data terakhir menunjukkan korban meninggal telah mencapai 1.030 orang, dengan 206 lainnya masih dinyatakan hilang.
Di tengah situasi darurat ini, pemerintah justru menegaskan sikap menolak bantuan asing. Presiden Prabowo, misalnya, secara tegas menyatakan bahwa Indonesia mampu menangani bencana ini sendiri dan tidak membutuhkan bantuan dari negara lain.
Sikap ini, meski mungkin dimaksudkan untuk menjaga harga diri bangsa, justru menimbulkan pertanyaan besar: Apakah kebanggaan nasional lebih penting daripada keselamatan dan nyawa rakyat?
Penolakan bantuan asing ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Di satu sisi, ada kebanggaan tersendiri ketika negara mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Namun, di sisi lain, banyak korban yang tidak mendapatkan pertolongan yang layak seperti di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah yang sampai hari masih terisolir melalui jalur darat.
Kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak warga yang terisolasi, kekurangan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Sementara itu, waktu adalah faktor krusial dalam penanganan bencana. Setiap jam yang terbuang tanpa bantuan berarti semakin banyak nyawa yang terancam.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pola pikir NPD bisa berbahaya jika diterapkan dalam kebijakan publik. Jerrold M. Post dalam bukunya Narcissism and Politics: Dreams of Glory menegaskan bahwa narsisisme pada pemimpin politik adalah pedang bermata dua.
Di satu sisi, sifat percaya diri dan visi besar dapat menjadi kekuatan pendorong bagi kepemimpinan yang efektif.
Namun, jika tidak diimbangi dengan empati dan refleksi diri, narsisisme dapat berubah menjadi keangkuhan yang membahayakan, terutama ketika pemimpin menutup diri dari kritik dan masukan luar.
| Refleksi HAB Ke-80 Kemenag Pasca Bencana Aceh-Sumatra: Sinergi Umat Dan Kemajuan Bangsa |
|
|---|
| Bencana Hidrometeorologi dan Kajian Dampak Defisit Komunikasi Lingkungan |
|
|---|
| Bencana Banjir Aceh, Urgensi Pelukan Hangat Lintas Sektoral |
|
|---|
| Pulihkan Hulu Hutan Aceh Mulai dari Kesepakatan Moral ke Kerja Kolektif |
|
|---|
| Venezuela di Tengah Tarikan Kepentingan Global antara Cina dan Amerika Serikat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)