Kupi Beungoh
Pemerintah NPD di Tengah Bencana
Individu dengan NPD cenderung merasa dirinya paling mampu, tidak membutuhkan bantuan, dan menolak kritik atau masukan dari luar.
Post menyoroti bahwa pemimpin dengan kecenderungan narsistik seringkali mengutamakan citra dan harga diri di atas kebutuhan riil masyarakat, sehingga respons terhadap krisis menjadi tidak efektif dan bahkan destruktif.
Dalam konteks bencana di Sumatera, pemerintah yang terlalu percaya diri dan menutup diri dari bantuan luar, tanpa mempertimbangkan realitas di lapangan, justru berisiko mengorbankan rakyatnya sendiri.
Dalam situasi bencana, yang dibutuhkan adalah kecepatan, kolaborasi, dan empati. Menolak bantuan atas nama harga diri, sementara korban terus berjatuhan, adalah bentuk abai terhadap tanggung jawab kemanusiaan.
Seperti yang diuraikan Post, kepemimpinan yang sehat adalah kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan visi besar dengan kerendahan hati untuk menerima bantuan dan kritik.
Beberapa tokoh publik seperti ketua DPD bahkan terang-terangan menyatakan bahwa donasi asing tidak perlu, dan bangsa Indonesia harus mengandalkan kekuatan sendiri.
Namun, pernyataan semacam ini justru menambah luka bagi para korban yang masih menunggu pertolongan.
Mereka yang kehilangan keluarga, rumah, dan harapan, tentu tidak peduli dari mana bantuan datang. Yang mereka butuhkan hanyalah uluran tangan, secepat mungkin.
Dalam konteks global, solidaritas antarbangsa dalam menghadapi bencana adalah hal yang lumrah dan bahkan dianjurkan.
Banyak negara besar pun tidak segan menerima bantuan internasional saat menghadapi bencana besar, karena mereka paham bahwa keselamatan rakyat adalah prioritas utama.
Menolak bantuan bukanlah tanda kekuatan, melainkan bisa menjadi cerminan keangkuhan yang membahayakan, sebagaimana diingatkan oleh Post dalam analisisnya tentang dampak negatif narsisisme politik.
Pemerintah seharusnya mampu membedakan antara menjaga martabat bangsa dan memenuhi kebutuhan mendesak rakyatnya.
Harga diri nasional memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan nyawa dan keselamatan warga.
Dalam situasi darurat, membuka diri terhadap bantuan asing bukan berarti lemah, melainkan menunjukkan kebesaran hati dan kepedulian terhadap sesama.
Kepemimpinan yang sehat, menurut Post, adalah kepemimpinan yang mampu menempatkan kepentingan rakyat di atas ego pribadi maupun kolektif.
Bencana di Sumatera ini menjadi cermin bagi pemerintah Indonesia. Apakah akan terus terjebak dalam ego dan ilusi ‘mampu melakukan segalanya’, ataukah kita berani mengakui keterbatasan dan membuka diri untuk menerima bantuan?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)