Opini

Kampus Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Ada model pertumbuhan ekonomi yang unik dan tak kalah penting, yang justru bersumbu pada kekuatan intelektual dan konsumsi massal: kota pelajar

Editor: mufti
IST
Zikra Noprita ST MT, Dosen Fakultas Komputer dan Multimedia UNIKI dan Alumni Program Pascasarjana Teknik dan Manajemen Industri ITB 

Zikra Noprita ST MT, Dosen Fakultas Komputer dan Multimedia UNIKI dan Alumni Program Pascasarjana Teknik dan Manajemen Industri ITB

DALAM narasi pembangunan Indonesia, kota-kota dengan basis industri besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Batam sering menjadi sorotan. Namun, ada model pertumbuhan ekonomi yang unik dan tak kalah penting, yang justru bersumbu pada kekuatan intelektual dan konsumsi massal: kota pelajar. Lhokseumawe, Aceh, adalah contoh nyata. Di tengah kondisi keuangan pemerintah kota yang sangat terbatas yang bahkan terkendala dalam melunasi hutang pembangunannya Lhokseumawe menemukan mesin penggerak ekonomi yang tangguh dan mandiri: kampus dan lebih dari 100 ribu mahasiswanya.Universitas Malikussaleh (UNIMAL), Universitas Islam Negeri Nadrisyah Lhokseumawe (UIN-Nadrisyah), Politeknik Lhokseumawe (POLTEKLA), Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), dan sejumlah perguruan tinggi swasta lainnya bukan sekadar lembaga pendidikan. Mereka telah menjelma menjadi simpul utama dan pusaran pertumbuhan ekonomi kota ini.

Angka 100 ribu lebih mahasiswa adalah kekuatan demografis yang luar biasa. Mari kita lakukan analisis sederhana. Dengan asumsi rata-rata uang kuliah dan hidup (living cost) mahasiswa sebesar Rp 2 juta per bulan (angka konservatif, mengingat biaya kos, makan, transportasi, dan kebutuhan lainnya), maka setiap bulan, ada aliran dana minimal Rp 200 miliar yang bersirkulasi langsung di ekonomi Lhokseumawe dari sektor mahasiswa saja. Dalam setahun, angka itu mencapai Rp 2,4 triliun. Ini adalah stimulus fiskal alamiah yang terjadi secara konsisten, tanpa membebani APBD.

Dampaknya terlihat nyata pada sektor riil. Pasar-pasar tradisional seperti Pasar Pusat Lhokseumawe dan Pasar Inpres mengalami peningkatan omzet signifikan, terutama di sektor bahan makanan, kebutuhan sehari-hari, dan pakaian. Namun, transformasi paling mencolok ada di sektor kuliner dan ruang publik. Deretan warung kopi (warkop), kedai makan, kafe modern, dan tempat nongkrong tumbuh bak jamur di musim hujan, terutama di kawasan sekitar kampus seperti Kampus Bukit Indah UNIMAL, Alue Awe, dan kawasan Blang Pase. Mereka hidup dan bertahan terutama karena konsumsi rutin mahasiswa. Sektor jasa seperti fotokopi, percetakan, bengkel sepeda motor, dan rental komputer juga menggantungkan hidupnya pada keberadaan mahasiswa.

Dampak multiplier

Sebagai perguruan tinggi terbesar, UNIMAL berperan sebagai epicenter atau pusat gempa ekonomi. Kampus yang memiliki sekitar 30 ribu lebih mahasiswa ini menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang lengkap. Kawasan sekitarnya telah berubah menjadi “mini city” yang mandiri. Mulai dari kos-kosan, asrama, warung makan 24 jam, laundry, kedai buku, hingga tempat kursus dan bimbingan belajar. Keberadaan fakultas dan program studi yang beragam dari teknik, pertanian, ekonomi, hingga ilmu sosial juga menarik mahasiswa dengan beragam latar belakang dan kebutuhan, memperkaya variasi usaha yang bisa berkembang.

Tidak hanya konsumsi, UNIMAL dan kampus lainnya juga menjadi penyerap tenaga kerja lokal yang signifikan. Mulai dari staf administrasi, tenaga kebersihan, keamanan, hingga dosen yang sebagian besar tinggal di Lhokseumawe dan sekitarnya. Gaji mereka kembali mengalir ke dalam perekonomian kota. Selain itu, berbagai event akademik dan non-akademik seperti seminar, lomba, festival, dan pameran yang digelar kampus menyedot peserta dari luar kota, meningkatkan okupansi hotel, penginapan, dan angkutan.

Kehadiran mahasiswa menciptakan efek multiplier (berpengganda) yang berjenjang. Pertama, pada sektor properti dan permukiman. Lonjakan kebutuhan tempat tinggal mendorong pembangunan rumah kos dan kontrakan secara masif. Banyak keluarga di Lhokseumawe yang mengandalkan pendapatan tetap dari menyewakan kamar atau rumah. Ini adalah bentuk redistribusi ekonomi langsung dari mahasiswa ke keluarga kelas menengah bawah.

Kedua, pada sektor transportasi. Pergerakan puluhan ribu mahasiswa setiap hari menggerakkan sektor angkutan kota (labi-labi, becak motor), ojek online, dan rental kendaraan. Ketiga, pada sektor kreatif dan digital. Mahasiswa adalah early adopter teknologi dan tren. Permintaan akan akses internet cepat melahirkan bisnis warnet dan ISP lokal, serta mendorong perluasan jaringan provider besar. Mereka juga menjadi pasar utama bagi bisnis online, dari jasa desain, pembuatan website, hingga konten media sosial.

Nilai tambah

Namun, ketergantungan pada mahasiswa sebagai “konsumen” juga memiliki kerentanan. Siklus ekonomi sangat terkait dengan kalender akademik. “Musim paceklik” terjadi saat libur panjang atau wisuda, di mana banyak usaha merasakan penurunan drastis. Di sinilah peran strategis kampus dan pemerintah daerah dibutuhkan untuk mentransformasi mahasiswa dari sekadar konsumen ekonomi menjadi kreator dan inovator ekonomi.

Program Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar seharusnya bisa diarahkan untuk memperkuat dampak ini. Kampus dapat mendorong lebih banyak mata kuliah dan proyek nyata yang bersinggungan dengan masalah dan potensi lokal Lhokseumawe. Inkubasi bisnis, technopark, dan program kewirausahaan mahasiswa harus diarahkan untuk membangun startup yang memecahkan masalah kota, baik di sektor agroindustri, teknologi, maupun jasa. Mahasiswa tidak hanya menghabiskan uang di Lhokseumawe, tetapi juga harus diajak untuk menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja di kota ini.

Pemerintah Kota Lhokseumawe, meski dengan anggaran terbatas, dapat memainkan peran sebagai katalisator dan fasilitator. Daripada hanya mengandalkan proyek fisik besar, pemerintah dapat membuat regulasi yang mendukung tumbuhnya ekosistem kewirausahaan berbasis kampus. Kedua, memfasilitasi kemitraan antara UKM/IKM lokal dengan perguruan tinggi untuk inovasi produk. Ketiga, mengembangkan infrastruktur pendukung seperti ruang publik, wifi gratis di kawasan kampus, dan pusat kreativitas mahasiswa. Keempat, mengintegrasikan data dan potensi kampus dalam perencanaan pembangunan kota jangka menengah dan panjang.

Fakta di lapangan jelas. Tanpa denyut nadi dari kampus dan mahasiswa, perekonomian Lhokseumawe akan jauh lebih lesu. Mereka adalah penggerak utama yang menjaga uang terus berputar, menciptakan lapangan kerja, dan menghidupkan sentra-sentra ekonomi lokal di saat kemampuan fiskal pemerintah terbatas. Potensi 100 ribu lebih mahasiswa ini adalah “emas pemimpin masa depan” yang dampaknya sudah dirasa hari ini.
Kini, tantangannya adalah bagaimana mengelola potensi besar ini secara lebih strategis dan berkelanjutan.

Kolaborasi sinergis antara pemerintah kota, pihak kampus, dunia usaha, dan mahasiswa itu sendiri harus ditingkatkan. Tujuannya adalah mentransformasi Lhokseumawe dari “kota yang hidup karena kampus” menjadi “kota pintar dan mandiri yang dibangun oleh dan untuk kampus serta warganya”. Dengan demikian, pusaran ekonomi yang berawal dari kampus ini tidak hanya besar, tetapi juga dalam, stabil, dan mampu melahirkan kemandirian ekonomi kota yang sejati. Lhokseumawe telah menemukan formulanya. Kini saatnya untuk menyempurnakan dan mempercepat laju pertumbuhan tersebut.
 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved