Kupi Beungoh
Kunjungan ke Kuil Hindu di Keudah: Framing Intoleran Terbantahkan
Komunitas Hindu di Banda Aceh berjumlah sekitar 30 orang—sebuah komunitas kecil namun memiliki sejarah panjang dan mendalam
Oleh: Nuril Fazillah
Tidak jauh dari gapura Kampung Keudah, Banda Aceh, berdiri sebuah rumah ibadah bernama Kuil Palani Andawer. Ia adalah kuil Hindu Tamil yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat selama beberapa generasi.
Berdasarkan catatan sejarah lisan komunitas Hindu Tamil, rumah ibadah di lokasi ini sudah ada sejak tahun 1934, menjadikannya salah satu jejak tua keberadaan Hindu Tamil di Banda Aceh.
Dari luar, bangunannya tampak sederhana, namun di baliknya tersimpan kisah panjang tentang keberagaman dan kerukunan yang tumbuh di wilayah yang dikenal dengan penerapan Syariat Islam.
Keberadaan komunitas Hindu Tamil di Aceh bahkan tercatat lebih lama. Pada tahun 1925, umat Hindu Tamil di Banda Aceh telah mewakafkan sebidang tanah kepada Baitul Mal Banda Aceh—sebuah fakta sejarah yang menunjukkan hubungan baik dan saling percaya antara komunitas Hindu dan Muslim sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Sejarah ini menjadi bukti bahwa toleransi dan kerja sama antarumat beragama bukanlah hal baru, tetapi sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Namun, kisah mereka juga tidak terlepas dari ujian berat. Pada tsunami 2004, seluruh bangunan kuil dan berbagai kitab-kitab suci di dalamnya hancur tersapu gelombang. Tidak satu pun struktur bertahan.
Setelah bencana, masyarakat Keudah, termasuk warga Muslim, ikut membantu proses pemulihan dan pendirian kembali kuil. Solidaritas inilah yang membuat komunitas Hindu Tamil terus bertahan hingga hari ini.
Baca juga: Bantuan Kemanusiaan Internasional, Negara, dan HAM: Apa Beda Nargis Myanmar dan Senyar25 Aceh?
Kunjungan Mahasiswa UIN Ar-Raniry
Pada hari Selasa 18 November 2025 pagi pukul 09.00 WIB, saya bersama 27 mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Jurusan Studi Agama-Agama UIN Ar-Raniry, melakukan kunjungan lapangan ke kuil tersebut.
Kegiatan ini dikoordinasi langsung oleh Wakil Dekan III, Dr. Mawardi, S.Th.I., M.A, sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Studi Agama-Agama (SAA). Kami berangkat dari kampus menggunakan Bus Trans Kutaraja menuju Keudah untuk melakukan observasi langsung mengenai kehidupan keagamaan umat Hindu Tamil.
Jejak Hindu di Tanah Syariat
Komunitas Hindu di Banda Aceh berjumlah sekitar 30 orang—sebuah komunitas kecil namun memiliki sejarah panjang dan mendalam. Rada Krisna, pengurus Kuil Palani Andawer, menjelaskan bahwa dirinya lahir dan besar di Aceh; begitu pula ayah dan kakeknya yang dahulu merantau dari India dan kemudian menetap di Keudah.
Selama hidup di Aceh, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah sekalipun mengalami diskriminasi dari masyarakat Muslim.
Ketika kami menanyakan tentang framing negatif yang sering diarahkan kepada Aceh terkait isu intoleransi, Rada Krisna dengan tegas membantahnya.
Menurutnya, narasi tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Masyarakat Aceh, khususnya warga Keudah, justru dikenal sangat membantu mereka—terutama saat perayaan besar.
“Kami merasa aman, sangat aman. Warga Muslim selalu mendukung kami,” ujar Rada Krisna.
Kehidupan sosial mereka pun berjalan harmonis. Meski minoritas, mereka dapat beribadah rutin setiap malam Sabtu, dan masyarakat sekitar tidak hanya menghormati, tetapi juga aktif membantu ketika ada kegiatan keagamaan di kuil.
Baca juga: Pekan Depan Masuk Bulan Rajab, UAH Ungkap Amalan & Keutamaannya: Waktu Terbaik Menuju Ramadhan
Memahami Ajaran Hindu dari Ruang Ibadahnya
Saat memasuki area kuil, aroma dupa dan suasana khas Hindu Tamil langsung terasa. Di dalam ruang utama, banyak arca seperti Ganesha, Siwa, dan dewa-dewa Hindu Tamil lainnya, diletakkan di altar bersama bunga, lilin, dan sesajen. Setiap susunan memiliki makna ritual dan teologi tersendiri.
Rada Krisna menjelaskan bahwa tradisi Hindu Tamil berbeda dari Hindu Bali yang lazim dikenal masyarakat Indonesia. Dalam Hindu Tamil, terdapat kekhasan pada arsitektur kuil, bentuk arca, serta filosofi simbol-simbol yang terukir di dinding.
Ia menunjukkan berbagai ukiran dan menjelaskan maknanya—mulai dari representasi Tuhan, perlambang kekuatan, hingga nilai filosofis tentang kehidupan manusia.
Penjelasan tersebut memberi wawasan bagi kami bahwa Hindu bukan hanya rangkaian ritual, tetapi juga sistem nilai yang kaya, seperti konsep dharma (kebenaran dan kewajiban), karma (akibat perbuatan), dan tujuan spiritual tertinggi, yaitu moksha.
Dialog dan Pembelajaran Toleransi
Dalam sesi dialog interaktif, mahasiswa menanyakan banyak hal: bagaimana tata cara ibadah harian, bagaimana perayaan besar dilaksanakan, bagaimana pendidikan agama anak-anak Hindu dijalankan, serta bagaimana interaksi mereka dengan masyarakat Muslim sekitar.
Rada Krisna menjelaskan bahwa setiap perayaan dilakukan dengan sederhana namun tetap mengikuti tradisi leluhur mereka. Dukungan masyarakat Keudah, menurutnya, membuat setiap kegiatan berjalan lancar. Tidak ada sekat, tidak ada batasan—yang ada hanyalah saling menghargai.
Dari dialog tersebut, kami belajar langsung bahwa toleransi bukan sekadar slogan; ia hidup dalam tindakan sehari-hari, dalam interaksi yang tulus dan penuh saling memahami.
Harmoni yang Menjadi Teladan
Kuil Palani Andawer berdiri sebagai contoh bahwa Aceh tidak hanya dikenal dengan keteguhan dalam menerapkan Syariat Islam, tetapi juga dengan kemampuannya merawat keberagaman. Di tengah lingkungan mayoritas Muslim, komunitas kecil Hindu Tamil terus menjalankan ibadah tanpa hambatan, bahkan dengan dukungan lingkungan.
Keberadaan mereka menunjukkan bahwa mayoritas dan minoritas dapat hidup berdampingan dengan damai. Harmoni ini menjadi pelajaran penting bahwa perbedaan tidak perlu menjadi sumber konflik. Sebaliknya, ketika dirawat dengan penghormatan, ia menjadi kekuatan sosial yang memperkaya kehidupan bersama.
Bagi kami, kunjungan ini lebih dari sekadar tugas akademik. Ini adalah pengalaman yang membuka wawasan mengenai realitas toleransi yang sering tidak terlihat oleh publik luas.
Minoritas dalam Naungan Mayoritas
Kunjungan ke Kuil Palani Andawer di Keudah memberikan gambaran nyata tentang bagaimana minoritas Hindu Tamil yang minoritas hidup berdampingan dan dalam naungan mayoritas masyarakat Muslim di Aceh.
Framing intoleran terhadap Aceh dari pihak luar pun terbantahkan. Sejarah panjang sejak 1925, keberadaan kuil sejak 1934, dan keteguhan mereka bangkit setelah tsunami 2004 memperlihatkan bahwa keberagaman telah dirawat oleh masyarakat Aceh dari generasi ke generasi.
Di balik gerbang kuil kecil itu, kami menyaksikan sendiri bahwa toleransi, penghormatan, dan dialog antaragama bukan hanya teori—tetapi praktik hidup yang dijalankan dengan ketulusan. Semoga kisah ini menjadi pengingat penting bahwa keharmonisan adalah fondasi damai di tengah keberagaman bangsa.
Penulis adalah Nuril Fazillah, Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Email: nurilfazillah10@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nuril-FazillahMahasiswi-Prodi.jpg)