Jumat, 8 Mei 2026

Kupi Beungoh

Saatnya Menjelaskan Fungsi Hutan ke Siswa

Ketika pohon ditebang, tanah kehilangan pengikatnya. Permukaannya menjadi padat dan kedap.

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Laitani Fauzani, S.H. Guru Fiqih Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Aceh Jaya 

Oleh: Laitani Fauzani, S.H.

Sejak 26 November 2025 lalu, Aceh kembali berduka. Bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah kabupaten, meninggalkan luka yang dalam.

Data yang terhimpun menyebutkan ratusan nyawa melayang, banyak orang masih dinyatakan hilang, ribuan rumah hanyut atau rusak berat, dan puluhan ribu keluarga harus mengungsi, kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. 

Di antara mereka, ada anak-anak kita yang polos. 

Mereka tak hanya kehilangan tempat bermain, tetapi juga menyaksikan ketakutan, kepanikan, dan kesedihan yang mendalam. Trauma ini adalah warisan kelam yang kita tinggalkan untuk generasi penerus. Di balik tangis mereka, ada pertanyaan besar: mengapa ini terjadi?

Para ahli cuaca menunjuk pada “Siklon Tropis Senyar” di Utara dan Timur Aceh sebagai biang hujan ekstrem. Secara ilmiah, wilayah ekuatorial seperti Indonesia memang bukan “rumah” bagi siklon tropis.

Namun, analisis terbaru BMKG dan peneliti iklim mengungkap fakta mengerikan: panasnya suhu muka laut akibat pemanasan global bertemu dengan daratan Aceh yang memanas akibat hilangnya tutupan hutan.

Kombinasi ini menciptakan “mesin panas” yang luar biasa. Hutan yang gundul tidak lagi berfungsi sebagai penyerap karbon dan pengatur suhu; ia justru melepaskan panas tersimpan. 

Baca juga: Tak Turun Juga! Harga Emas di Banda Aceh Masih Bertengger di Harga Tinggi, Hari Ini Dijual Segini

Daratan yang terpanggang itu kemudian menjadi “kompor” yang menyuplai energi tambahan bagi sistem awan, memperkuat pusaran siklon dan memproduksi hujan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan kata lain, deforestasi di gunung-gunung Aceh secara tidak langsung “memanggil” badai untuk menghantam anak cucu kita sendiri.

Di antara seluruh mata rantai bencana ini, hilangnya pohon di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dan kawasan hutan lindung adalah mata rantai terlemah yang paling menentukan.

Logika alamiahnya sederhana namun fundamental. Akar pohon, terutama dari spesies hutan alam yang dalam dan menjalar, berfungsi sebagai jaring pengikat tanah dan pipa kapiler raksasa. Jaringan akar ini menciptakan rongga-rongga di dalam tanah, menjadikannya seperti spons raksasa yang mampu menyerap hingga 90 persen air hujan. 

Air kemudian disimpan dan dialirkan perlahan ke mata air dan sungai sepanjang tahun. 

Ketika pohon ditebang, tanah kehilangan pengikatnya. Permukaannya menjadi padat dan kedap. Air hujan tidak lagi diserap, tetapi langsung meluncur deras di permukaan, menggerus lapisan tanah atas, menghanyutkannya, dan akhirnya membanjiri dataran rendah dengan kekuatan yang menghancurkan.

Banjir bandang dan longsor bukanlah “bencana alam” murni, melainkan “bencana ekologis” akibat kita mencabut paku-paku pengunci tanah itu.

Lantas, mengapa tutupan hutan Aceh hilang sedemikian masif? Setidaknya ada 5 penyebab. Pertama, dan terbesar, adalah ekspansi pertambangan, baik legal maupun ilegal.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved