Selasa, 12 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Pemulihan Trauma Anak Korban Banjir dan Harapan yang tak Boleh Runtuh

Bencana yang mereka alami bukan sekadar peristiwa sesaat, melainkan pengalaman yang membekas dalam ingatan dan emosi anak-anak.

Tayang:
Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
Cut Rumaisa, Staf KONI Aceh 

Oleh: Cut Rumaisa

PASCA bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya meninggalkan jejak kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan luka yang tak kasat mata, terutama bagi anak-anak.

Di antara lumpur yang belum sepenuhnya kering, bangunan yang rusak, dan aktivitas warga yang perlahan kembali bergerak, anak-anak menjadi kelompok paling rentan yang sering luput dari sorotan utama pemulihan.

Di lokasi terdampak, kondisi lingkungan masih jauh dari kata pulih. 

Sisa-sisa material bangunan, genangan lumpur, serta fasilitas umum yang belum sepenuhnya berfungsi menjadi pemandangan sehari-hari. 

Bagi orang dewasa, situasi ini mungkin dimaknai sebagai tantangan untuk bangkit. 

Namun bagi anak-anak, kondisi tersebut dapat memicu rasa takut, kebingungan, dan trauma berkepanjangan. 

Baca juga: Gedung Masih Dipenuhi Lumpur, Anak Korban Banjir di Aceh Tamiang Belajar di Sekolah Darurat

Bencana yang mereka alami bukan sekadar peristiwa sesaat, melainkan pengalaman yang membekas dalam ingatan dan emosi.

Anak-anak kehilangan rasa aman yang selama ini mereka kenal. 

Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung berubah menjadi simbol ketidakpastian.

Ruang bermain menyempit, rutinitas terganggu, dan sebagian dari mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang asing. 

Dalam situasi seperti ini, pemulihan trauma menjadi kebutuhan mendesak, bukan pelengkap dari proses rehabilitasi.

Pemulihan pascabencana tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat bangunan berdiri kembali atau infrastruktur diperbaiki. 

Baca juga: Kapolres Lhokseumawe Hibur Anak-anak Korban Banjir di Pengungsian Saat Malam Tahun Baru

Ada aspek psikososial yang sama pentingnya, terutama bagi anak-anak. 

Keceriaan mereka bukan sekadar tawa sesaat, melainkan indikator bahwa rasa aman perlahan kembali tumbuh. 

Aktivitas bermain, pendampingan psikologis sederhana, serta kehadiran orang-orang yang peduli dapat menjadi jembatan awal untuk memulihkan kondisi mental mereka.

Di tengah keterbatasan, berbagai pihak telah hadir memberikan dukungan. 

Penyaluran bantuan yang dilakukan oleh KONI Aceh, tidak hanya berfokus pada bantuan logistik.

Tetapi juga menghadirkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial. 

Kehadiran menjadi momentum untuk mengajak anak-anak berinteraksi, bermain, dan tersenyum kembali menjadi bentuk bantuan yang tak ternilai harganya. 

Baca juga: Bantu Pemulihan Mental dan Emosional, Anak Korban Banjir di Pedalaman Tamiang Diberi Trauma Healing

Bantuan seperti ini mengingatkan bahwa pemulihan sejati juga menyentuh sisi kemanusiaan.

Belajar dari Sejarah

Aceh memiliki sejarah panjang dalam menghadapi bencana. 

Dari pengalaman tersebut, satu pelajaran penting yang tidak boleh diabaikan adalah menempatkan anak-anak sebagai pusat perhatian dalam proses pemulihan. 

Mereka adalah generasi penerus yang akan membawa Aceh ke masa depan. 

Jika trauma mereka diabaikan, maka luka itu berpotensi terbawa hingga dewasa.

Pascabencana ini menjadi momentum refleksi bersama. 

Membangun kembali Aceh bukan hanya tentang memperbaiki yang rusak.

Baca juga: Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh Pulihkan Trauma Anak-Anak Korban Banjir di Tiga Kabupaten

Tetapi juga memastikan anak-anak dapat kembali merasa aman, bahagia, dan percaya bahwa masa depan tetap layak untuk diharapkan. 

Di tengah puing dan lumpur, harapan itu masih ada, dan harapan tersebut hidup di mata anak-anak Aceh yang tetap tersenyum meski baru saja melewati masa sulit.(*)

 

Penulis adalah Staf KONI Aceh (cutrumaisa2505@gmail.com)

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis
 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved