Opini

Bur Ni Telong Perlu Diwaspadai, bukan Ditakuti

Sebagai catatan bahwa status gunung api aktif ada 4 Level yaitu Level I Normal, Level II Waspada, level III Siaga dan Level IV Awas.

Editor: mufti
IST
Ir Faizal Adriansyah MSi, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Aceh 2010-2017 dan Widyaiswara Ahli Utama LAN RI 

Ir Faizal Adriansyah MSi, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Aceh 2010-2017 dan Widyaiswara Ahli Utama LAN RI

BERITA gempa tektonik dengan magnitudo 4,5 yang berpusat  di Bener Meriah dengan kedalaman 10 km (gempa dangkal) pada malam hari 30 Desember 2025 pukul 20.43 WIB yang getarannya dirasakan sampai ke Banda Aceh membuat masyarakat panik. Belum usai derita akibat banjir dan longsor masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah kembali dihantui oleh akan meletusnya gunung api Bur Ni Telong. Pada hari yang sama Badan Geologi mengeluarkan Laporan Khusus Nomor 181 /GL.03/BGL/2025 yang menetapkan status gunung api Bur Ni Telong dinaikan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Sebagai catatan bahwa status gunung api aktif ada 4 Level yaitu Level I Normal, Level II Waspada, level III Siaga dan Level IV Awas.

Semakin tinggi Level menggambarkan semakin tinggi tingkat bahaya yang ditimbulkan. Saya mengamati di medsos informasi simpang siur apalagi di era ini dengan mudah berbagai peristiwa didramatisir dibuat menakutkan yang semakin membuat masyarakat cemas, bahkan ada yang membuat animasi dengan teknologi AI yang menggambarkan betapa mengerikan ketika  gunung api Bur Ni Telong akan meletus. Tentu informasi yang tidak bertanggung jawab dan tidak didasari pemahaman ilmu geologi yang benar, hal ini perlu diluruskan. Opini ini mudah-mudahan bisa memberikan edukasi yang benar bagi masyarakat awam tentang gempa tektonik dan gempa vulkanik, dimana kedua jenis gempa ini tidak berkaitan secara langsung karena sumber gempa dan mekanisme gempa sangat berbeda.

Peristiwa gempa bumi yang bersamaan dengan aktivitas gunung api pernah terjadi di Yogyakarta pada tanggal 15 Mei 2006 status gunung merapi berada pada level IV (Awas) saat itu gunung Merapi memuntahkan lava pijar disertai gumpalan awan panas yang mematikan suhunya bisa mencapai 300 hingga 700 derajat Celcius. Awan panas ini disebut “wedus gembel” karena menyerupai gumpalan besar berbulu seperti kambing gembel, terdiri dari gas panas, abu, dan material padat yang meluncur cepat menuruni lereng dengan kecepatan bisa lebih 200 km/jam.

Di saat masyarakat diungsikan untuk menghindari ancaman letusan Merapi, tiba-tiba pada pagi hari 26 Mei 2006 pukul 05;53;58 WIB bumi Yogyakarta berguncang keras, terjadi gempa bumi hebat dengan kekuatannya 5,9 Skala Richter pada kedalaman 10 km, akibatnya Kabupaten Bantul mengalami kehancuran yang sangat parah. Saat itu asumsi sebagian masyarakat bahwa gempa yang terjadi karena letusan gunung Merapi. Dugaan ini bagi masyarakat awam dapat dimaklumi karena ketidakpahaman bahwa gempa yang terjadi adalah gempa tektonik karena pergeseran lapisan bumi dan tidak ada kaitan dengan letusan gunung Merapi.

Gempa tektonik tidak ada hubungan langsung dengan letusan gunung api. Kalau gempa tektonik terjadi dalam dimensi lempeng bumi yang bergeser sehingga bisa dirasakan meluas, seperti kita berada dalam satu papan besar yang digetarkan pada salah satu tempat, pasti seluruh papan akan merasakan getarannya, semakin dekat pusat getaran semakin keras goncangannya. Sedangkan gempa yang terjadi saat gunung api akan meletus disebut dengan gempa vulkanik, sumber gempanya bukan pergeseran lempeng bumi atau adanya patahan dalam bumi.

Gempa vulkanik terjadi ketika magma yang sudah penuh dalam gunung api ingin keluar dan mendesak tudung lava yang menutup kepundan/kawah. Analoginya seperti minuman bersoda yang ada dalam botol kalau kita goncang dan tutup botol kita longgarkan maka akan terjadi semburan keluar yang mendorong tutup botol. Demikianlah kondisi setiap gunung api apabila magma didalam perut gunung api sudah penuh maka akan berupaya keluar, desakan magma ini kadang secara visual nampak dengan perut gunung api membesar diikuti dengan gempa-gempa vulkanik. Getaran gempa hanya dirasakan oleh masyarakat yang berada disekitar gunung api, bisa dikatakan bersifat lokal tidak regional dan meluas seperti gempa tektonik.

Sahabat manusia

Mengapa status gunung api Bur Ni Telong tiba-tiba dinaikan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada tanggal 30 Desember 2025? Tentu hal ini berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan oleh petugas pengamat gunung api dari Badan Geologi. Untuk menentukan status suatu gunung api aktif telah ada kriterianya hal ini yang diuraikan dalam  Laporan Khusus Badan Geologi Nomor: 181 /GL.03/BGL/2025 tentang kenaikan tingkat aktivitas Gunung Bur Ni Telong dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Selanjutnya setelah melakukan pemantauan intensif maka pada tanggal 3 Januari 2026 status gunung Api Bur Ni Telong telah diturunkan statusnya dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada), hal ini disampaikan dalam Laporan Khusus Badan Geologi Nomor:  4/GL.03/BGL/2026. Dengan penurunan status ini diharapkan masyarakat dapat tenang kembali dan jangan terpengaruh dengan informasi dari sumber yang tidak jelas. Penulis ingin menegaskan apabila terjadi gempa bumi maka sumber informasi yang resmi adalah BMKG sedangkan untuk aktivitas gunung api sumber resmi adalah Badan Geologi Kementerian ESDM.

Gunung Api Bur Ni Telong adalah salah satu gunung api aktif yang ada di Aceh, dua lainnya adalah gunung api Seulawah Agam di Kabupaten Aceh Besar dan gunung api Peut Sago di Kabupaten Pidie. Ketiga gunung api ini memiliki pos pengamatan gunung api di bawah Badan Geologi, informasi aktivitas gunung api selalu dipantau oleh petugas baik secara visual maupun instrumental.

Untuk gunung api Bur Ni Telong dari sumber yang ada disebutkan pernah meletus sebanyak 5 kali. Tiga kali pada pertengahan abad ke-19 Masehi di bulan September 1837, 12 dan 13 Januari 1839 tercatat abunya sampai ke Pulau Weh kemudian meletus lagi 14 April 1856.  Setelah itu gunung api Bur Ni Telong istirahat sekitar setengah abad, barulah pada abad 20 tercatat dua kali letusan kecil Desember 1919 dan 7 Desember 1924. Sejauh literatur yang ada tidak ditemukan informasi bahwa gunung api Bur Ni Telong meletus dengan amat dahsyat seperti catatan pada letusan gunung api raksasa Toba di Sumatera Utara yang meninggalkan kawah besar berupa Danau Toba yang kita lihat hari ini dan Pulau Samosir adalah sebagai tutup kawah.

Aktivitas pemantauan gunung api merupakan suatu keharusan sebagai bagian dari kewaspadaan, namun masyarakat jangan terlalu berlebihan menjadikan gunung api “monster” yang mengerikan. Justru gunung api adalah sahabat manusia di samping sejuk dan memberi pemandangan nan indah gunung api juga  menyediakan bahan material bangunan, hamparan debu vulkanik yang menyuburkan tanah, menyimpan air dalam bentuk air tanah.

Aktivitas magma yang bergerak menuju permukaan bumi banyak membawa mineral logam, dan barang tambang lainnya seperti sulfur, emas, perak dan tembaga. Batu permata seperti intan bisa muncul dari dalam perut bumi karena dibawa oleh jenis magma yang disebut kimberlite. Banyaklah bersyukur agar Allah SWT memberikan keberkahan dengan kehadiran gunung api di wilayah kita. 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved