KUPI BEUNGOH
Venezuela di Tengah Tarikan Kepentingan Global antara Cina dan Amerika Serikat
Peristiwa di Venezuela pada awal 2026 memperlihatkan bagaimana konflik global tersebut menemukan manifestasi regionalnya.
Oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Irham, S.Si, M.Si*)
VENEZUELA kembali berada di pusat pusaran geopolitik global. Negeri dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu sekali lagi menjadi ruang pertemuan dan benturan kepentingan dua kekuatan besar abad ke-21, yaitu Amerika Serikat dan China. \
Peristiwa yang terjadi di Caracas pada awal 2026 tidak dapat dibaca sebagai episode politik domestik semata. Ia merupakan bagian dari dinamika yang lebih luas, ketika energi, investasi, dan pengaruh geopolitik saling berkelindan dalam tatanan dunia yang kian tidak pasti.
Sejak akhir 1990-an, Venezuela menempuh jalur kebijakan yang berbeda dari arus utama globalisasi ekonomi. Di bawah kepemimpinan Hugo Chávez, negara ini menasionalisasi sektor-sektor strategis, terutama energi, dengan tujuan memperkuat peran negara dalam distribusi kesejahteraan.
Kebijakan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Nicolás Maduro, meskipun dalam konteks ekonomi yang jauh lebih rapuh. Hubungan Venezuela dengan Amerika Serikat pun memburuk, diwarnai sanksi ekonomi, pembatasan perdagangan, dan isolasi finansial.
Dalam situasi itulah Cina hadir sebagai mitra alternatif. Selama hampir dua dekade, Beijing menanamkan modal dan menyalurkan pembiayaan besar ke Venezuela, terutama melalui skema pinjaman yang dibayar dengan pasokan minyak.
Hubungan ini kerap dipahami sebagai kerja sama saling menguntungkan. Venezuela memperoleh akses pembiayaan di tengah sanksi Barat, sementara China mendapatkan pasokan energi jangka panjang untuk menopang pertumbuhan ekonominya.
Namun, sebagaimana dicatat sejumlah pengamat, investasi berskala besar selalu membawa implikasi politik.
David Goldwyn, analis energi dari Center on Global Energy Policy Universitas Columbia, pernah mengingatkan bahwa hubungan energi lintas negara jarang bersifat netral.
Menurut Goldwyn energi bukan hanya soal pasar tetapi juga instrumen pengaruh jangka panjang. Dalam konteks ini, Venezuela secara perlahan menjadi bagian dari kalkulasi strategis China di kawasan Global South.
Dinamika tersebut mengalami perubahan signifikan ketika rivalitas Amerika Serikat dan China kembali mengeras sejak 2025.
Kebijakan tarif tinggi Washington terhadap produk China, disusul pembatasan ekspor mineral strategis oleh Beijing, menandai babak baru ketegangan ekonomi global.
Konflik ini memang tidak selalu tampil di permukaan, karena perhatian dunia sempat tersedot ke perang Rusia–Ukraina dan konflik Timur Tengah. Namun ketegangan struktural itu tetap berlangsung di bawah permukaan.
Peristiwa di Venezuela pada awal 2026 memperlihatkan bagaimana konflik global tersebut menemukan manifestasi regionalnya.
Amerika Serikat, dengan berbagai pertimbangan keamanan dan ekonomi, mengambil langkah yang mengubah peta politik Venezuela.
Venezuela
Amerika Serikat
Cina
Perang Global
Eksklusif
multiangle
Meaningful
minyak bumi
Caracas
Nicolas Maduro
| Earth Day: Saatnya Pendidikan Menjawab Krisis Lingkungan |
|
|---|
| Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA |
|
|---|
| Framing Negatif JKA, Strawman Fallacy Paling Telanjang |
|
|---|
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Muhammad-Irham-USK.jpg)