Jurnalisme Warga
Kokurikuler sebagai Jalan Menuju Sekolah Aman Bencana di SMAN 1 Matangkuli
Sulit memperoleh referensi tentang kebencaanaan meski berkali-kali Aceh diterpa bencana dahsyat.
KHAIRUDDIN, S.Pd., M.Pd., Kepala SMA Negeri 1 Matangkuli, melaporkan dari Matangkuli, Aceh Utara
ACEH tidak pernah benar-benar belajar tentang bencana dari buku pelajaran. Aceh selalu belajar dari luka, bangkit dengan ketangguhan bermodal pengalaman.
Sulit memperoleh referensi tentang kebencaanaan meski berkali-kali Aceh diterpa bencana dahsyat.
Pengalaman bangkit dari tsunami 2004 yang menghapus kota dan bangunan, serta memori tentang hilang atau wafatnya ratusan ribu keluarga; pandemi Covid-19 yang melumpuhkan sistem sosial dan pendidikan selama 2020-2022; hingga bencana hidrometeorologi Sumatra pada November 2025 kembali mengingatkan kita akan rapuhnya relasi manusia dengan alam.
Dalam konteks seperti ini, pendidikan tidak boleh lagi dibiarkan bersikap netral dan ahistoris. Sekolah dituntut mengambil posisi: apakah sekadar melanjutkan rutinitas belajar atau menjadikan pengalaman kolektif kebencanaan sebagai fondasi pembentukan generasi yang lebih tangguh.
Pilihan itulah yang kami coba ambil di SMA Negeri 1 Matangkuli pada semester 2 tahun pelajaran 2025–2026. Sekolah ini secara berkesadaran memasukkan isu kebencanaan ke dalam kegiatan kokurikuler, sekaligus menitipkan kebermaknaan dengan menetapkan kebencanaan sebagai tema karya tulis ilmiah (KTI) siswa kelas XII.
Kebijakan ini bukan reaksi sesaat terhadap peristiwa terbaru, melainkan refleksi panjang atas realitas Aceh sebagai wilayah dengan risiko bencana berlapis: geologi, hidrometeorologi, kesehatan, hingga ekologis.
Di titik ini, pendidikan tidak lagi semata soal capaian akademik, tetapi juga tentang keberanian membaca konteks dan mengubahnya menjadi sumber belajar yang bermakna. Sehingga, melalui karya ilmiah, bukan saja tentang kelulusan karena sudah memperoleh wawasan, tetapi juga pada akhirnya coba merangkai karya menjadi referensi agar ke depan kesiapsiagaan berawal dari dunia pendidikan.
SPAB dan kokurikuler
Langkah yang diambil di SMA kami sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Regulasi ini menegaskan bahwa satuan pendidikan memiliki peran strategis dalam pengurangan risiko bencana melalui tiga pilar utama: fasilitas sekolah yang aman, manajemen bencana di satuan pendidikan, serta pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana.
Pilar terakhir inilah yang menemukan ruang implementasi paling nyata melalui kegiatan kokurikuler.
Kebijakan kokurikuler dalam Kurikulum Merdeka—termasuk panduan implementasi terbaru—menempatkan kokurikuler sebagai ruang penguatan karakter, konteks nyata, dan pembelajaran lintas disiplin. Kokurikuler tidak dibatasi oleh struktur mata pelajaran yang kaku, melainkan memberi ruang bagi satuan pendidikan untuk merespons isu strategis lokal. Dalam konteks Aceh, kebencanaan merupakan isu strategis tersebut.
Melalui kokurikuler, SMA Negeri 1 Matangkuli menginternalisasi nilai-nilai SPAB secara bertahap dan kontekstual. Peserta didik diajak memahami bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan hasil interaksi antara ancaman dan kerentanan manusia. Kesadaran ini penting agar mitigasi tidak berhenti pada prosedur darurat, tetapi justru berkembang menjadi cara pandang terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Pada aspek bencana hidrometeorologi, siswa mempelajari banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, hujan dengan intensitas tinggi, serta keterkaitannya dengan deforestasi dan penggundulan hutan.
Isu lingkungan dipahami sebagai faktor kunci yang menentukan tingkat risiko bencana. Melalui diskusi, kajian literasi, dan refleksi lokal, siswa diajak membaca hubungan antara kerusakan hutan, perubahan tata guna lahan, dan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi.
Jurnalisme Warga
penulis jurnalisme warga
Penulis JW
Kokurikuler sebagai Jalan Menuju Sekolah Aman Benc
KHAIRUDDIN SPd MPd
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Ikhtiar Bersama Mewujudkan Pendidikan Bermutu di Bireuen |
|
|---|
| Potret Koper Jemaah Calon Haji Perempuan Menuju Baitullah |
|
|---|
| Hikayat Hasan Husein, Genderang Perang Rakyat Barsela Saat Melawan Belanda |
|
|---|
| Tujuh Tahun Uniki, Bergerak Mengejar Prestasi |
|
|---|
| Menyemai Ide Pendidikan Sehat, Berkelanjutan, dan Berakar pada Sejarah Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Khairuddin-SPd-MPd-BARU-LAGIIIII.jpg)