Breaking News
Senin, 1 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Kokurikuler sebagai Jalan Menuju Sekolah Aman Bencana di SMAN 1 Matangkuli

Sulit memperoleh referensi tentang kebencaanaan meski berkali-kali Aceh diterpa bencana dahsyat.

Tayang:
Editor: mufti
IST
KHAIRUDDIN, S.Pd., M.Pd., Kepala SMA Negeri 1 Matangkuli, melaporkan dari Matangkuli, Aceh Utara 

Pendidikan kebencanaan bertemu dengan pendidikan ekologi dan kewargaan.

Pada aspek bencana geologi, pembelajaran mencakup gempa bumi, tsunami, likuefaksi seismik, likuefaksi statis, dan erupsi gunung api. Bagi Aceh, tsunami bukan sekadar konsep ilmiah, melainkan ingatan kolektif yang membentuk kesadaran ruang dan risiko. Siswa mempelajari mekanisme terjadinya bencana, prinsip mitigasi, serta pentingnya kesiapsiagaan dan perencanaan evakuasi.

Pengetahuan ini tidak diarahkan untuk menumbuhkan ketakutan, tetapi untuk membangun kesadaran rasional dan kesiapan sosial.

SMA kami juga memasukkan bencana kesehatan sebagai bagian penting dalam kokurikuler. Pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran bahwa bencana tidak selalu hadir dalam bentuk guncangan tanah atau luapan air. Endemi, epidemi, dan pandemi memiliki dampak serius terhadap keselamatan, kesehatan mental, dan keberlanjutan pembelajaran.\ Melalui diskusi dan kajian, siswa diajak memahami peran perilaku individu, sistem kesehatan, dan kebijakan publik dalam mitigasi bencana kesehatan, sekaligus membangun literasi sains dan etika sosial di tengah krisis.

Selain itu, siswa juga mengkaji bencana lainnya seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan. Kebakaran hutan dipahami tidak hanya sebagai peristiwa ekologis, tetapi juga persoalan tata kelola sumber daya, ekonomi, dan keadilan lingkungan.

Kekeringan dipelajari sebagai ancaman terhadap ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat. Dengan pendekatan ini, kebencanaan dipahami secara holistik, tidak terfragmentasi.

Pendekatan komprehensif tersebut diperkuat melalui penugasan KTI bagi siswa kelas XII. KTI menjadi ruang pembelajaran berbasis masalah yang mendorong siswa meneliti fenomena kebencanaan di sekitar mereka, menganalisis dampak sosial dan pendidikan, serta merumuskan gagasan mitigasi dan pemulihan pascabencana.

Di sini, kebencanaan tidak lagi menjadi tema pinggiran, melainkan inti dari pembelajaran berpikir kritis, literasi ilmiah, dan tanggung jawab sosial.

Dari perspektif kebijakan pendidikan, praktik SMA Negeri 1 Matangkuli menunjukkan bahwa SPAB tidak boleh dipersempit pada ‘checklist’ administratif atau simulasi seremonial belaka. Pendidikan aman bencana harus hidup dalam proses belajar sehari-hari. Kokurikuler menyediakan ruang strategis itu: ruang refleksi, dialog, dan pembelajaran yang berangkat dari pengalaman nyata warga sekolah.

Tantangan dan peluang

Tentu, tantangan tetap ada. Tidak semua pendidik memiliki latar belakang pendidikan kebencanaan dan tidak semua sekolah memiliki sumber daya yang memadai. Namun, langkah SMA Negeri 1 Matangkuli menunjukkan bahwa kepekaan konteks dan keberanian kebijakan dapat menjadi modal awal yang kuat. Di wilayah rawan bencana, sekolah yang abai terhadap risiko sama artinya dengan mengabaikan realitas hidup peserta didiknya.

Ke depan, kegiatan kokurikuler kebencanaan di SMA Negeri 1 Matangkuli memiliki peluang besar untuk berkembang dari program berbasis sekolah menjadi model pembelajaran kontekstual yang dapat direplikasi.

Ketika isu kebencanaan diolah secara sistematis melalui kokurikuler, sekolah tidak hanya membangun kesiapsiagaan internal, tetapi juga berkontribusi pada penguatan literasi kebencanaan di tingkat komunitas.

Siswa yang terlibat aktif dalam kajian mitigasi dan pemulihan pascabencana berpotensi menjadi duta pengetahuan di lingkungan keluarga dan masyarakatnya, menjembatani pengetahuan ilmiah dengan praktik keseharian. Dengan demikian, sekolah tidak lagi berdiri sebagai institusi tertutup, melainkan simpul penting dalam ekosistem pengurangan risiko bencana.

Dalam jangka panjang, integrasi kokurikuler kebencanaan dan pengembangan buku membuka jalan bagi lahirnya tradisi intelektual sekolah yang berakar pada konteks lokal dan tantangan global.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved