Jumat, 10 April 2026

KUPI BEUNGOH

Mencari Nafas Pendidikan di Tengah Tekanan Birokrasi

Guru hari ini bukan hanya pendidik. Ia juga operator data, penyusun laporan, pengisi instrumen evaluasi, hingga penanggung jawab unggahan sistem

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul-Jakarta 

Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd*)

Pagi di sebuah sekolah negeri selalu dimulai dengan derap langkah yang tergesa. Guru guru datang lebih awal, bukan semata untuk menyiapkan bahan ajar atau menyusun strategi pembelajaran, melainkan untuk memastikan lembar administrasi telah lengkap dan laporan daring telah terunggah tanpa cela. 

Di ruang guru, tumpukan map berwarna warni bersanding dengan layar komputer yang tak pernah benar benar mati. 

Di sanalah pendidikan sering kali kehilangan napasnya bukan di ruang kelas, melainkan di antara tabel, format, dan tanda tangan.

Birokrasi pada dasarnya lahir dari niat baik: menciptakan keteraturan, akuntabilitas, dan standar mutu. Dalam konteks pendidikan, regulasi diharapkan menjadi pagar yang menjaga kualitas sekaligus menjamin pemerataan. 

Sejak diberlakukannya berbagai kebijakan seperti program Merdeka Belajar, semangat perubahan sebenarnya telah digaungkan. 

Sekolah didorong untuk lebih otonom, guru diberi ruang berinovasi, dan siswa ditempatkan sebagai subjek utama pembelajaran. Namun di lapangan, idealisme kebijakan sering kali tersandung oleh praktik administratif yang kian kompleks.

Guru hari ini bukan hanya pendidik. Ia juga operator data, penyusun laporan, pengisi instrumen evaluasi, hingga penanggung jawab unggahan sistem. Setiap kegiatan belajar harus terdokumentasi, setiap rencana pembelajaran harus sesuai format, setiap capaian harus terukur dan tercatat. 

Baca juga: UNIMAL dan Serambi Indonesia Sepakat Perkuat Sinergi Pendidikan dan Media

Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, pekerjaan administratif bukannya berkurang, melainkan bertambah dalam bentuk baru. Platform berubah, sistem diperbarui, namun beban tetap menumpuk.

Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk merancang pengalaman belajar yang bermakna justru tersita oleh rutinitas teknis. 

Guru lebih khawatir pada kelengkapan berkas dibandingkan kedalaman diskusi di kelas. Kepala sekolah lebih sibuk memastikan kesesuaian dokumen dengan regulasi dibandingkan memikirkan kultur akademik yang sehat. Pendidikan pun perlahan tereduksi menjadi sekadar kepatuhan prosedural.

Di ruang kelas, siswa mungkin tidak menyadari betapa rumitnya sistem yang mengatur sekolah mereka. Mereka hanya merasakan dampaknya: guru yang tampak lelah, pembelajaran yang terburu buru, dan kreativitas yang terbatasi. 

Padahal, esensi pendidikan terletak pada interaksi manusia pada dialog, empati, dan proses menemukan makna. Ketika energi pendidik terkuras untuk memenuhi tuntutan birokrasi, kualitas interaksi itu ikut tergerus.

Tekanan birokrasi juga menciptakan budaya formalitas. Program disusun demi laporan, bukan demi kebutuhan nyata. Kegiatan diadakan agar terdokumentasi, bukan agar berdampak. 

Evaluasi dilakukan untuk memenuhi kewajiban, bukan untuk refleksi mendalam. Dalam situasi seperti ini, inovasi menjadi risiko. Guru yang ingin mencoba pendekatan baru sering kali harus berhadapan dengan format yang kaku dan indikator yang seragam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved