Kamis, 9 April 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan

Perang ini ambisi Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, bahkan mengajak negara-negara lain agar berada di belakang mereka.

Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Yunidar Z.A (Analis Kebijakan ) 

Oleh: Yunidar Z.A*)

Perang yang diprovokasi oleh Israel dan didukung oleh Amerika Serikat  (AS) sejak 28 Februari 2028 hingga kini telah memporakporandakan wilayah Israel dan Iran juga mengguncang pangkalan militer AS di Kawasan Timur Tengah. 

Perang ini ambisi Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, bahkan mengajak negara-negara lain agar berada di belakang mereka. 

Celakanya, tidak semua negara mendukung AS. Masyarakat AS juga tidak mendukung perang, banyak negara yang menolak keterlibatan langsung dalam perang, bahkan ada juga yang mengancam serangan ke Iran tersebut.

Iran melawan ekspansi perang Amerika – Israel dalam pola asimetris dengan menghidupkan aliansi yang telah lama dibinanya dalam sebuah ideologi. 

Menurut sumber terbuka google disebut Proksi Iran (jaringan Axis of Resistance) adalah kelompok milisi dan politik di Timur Tengah yang didukung Iran untuk memperluas pengaruh dan melawan pengaruh AS serta Israel. 

Baca juga: Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade

Kelompok utamanya meliputi Hizbullah di Lebanon, Hamas dan PIJ (Palestina), Houthi di Yaman, serta berbagai kelompok milisi di Irak dan Suriah. 

Perang panjang pertahanan yang dilakukan oleh Iran, semacam gerilya bahkan “gerilya udara”, Bagaimana dengan AS. 

Presiden Donald Trump dengan ambisi untuk ekspansi perang tersebuat melakukan berbagai klaim informasi sepihak.

Bahkan kebohongan dalam berbagai pemberitaan suatu propaganda yang akan merugikan AS sebagai masyarakat rasional atas berbagai, sikap, perilaku, ,dan tindakannya terhadap  kejahatan kemanusian dan propagandanya. 

Apa yang akan terjadi bila perang yang berkempanjangan dan negosiasi  buntu ? maka perang ini akan menelan biaya besar, menghancurkan peradaban manusia. 

Oleh karenanya perang ini akan berimbas, akan dirasakan dampaknya oleh semua negara dan masyarakat internasional.

Perang yang berkepanjangan dan negosiasi yang terancam buntu akan membuat peradaban mundur ke belakang.

Situasi ini harus menjadi perhatian serius masyarkat dunia dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa - Bangsa  (DK PBB) untuk mendorong kembali para pihak yang berperang dalam perundingan, negosiasi, perdamaian.    

Mandat PPB untuk menghentikan perang suatu yang sangat urgensi dilakukan segera atas nama kemanusiaan, dan kerusakan ekologi.  

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved