Kamis, 9 April 2026

Kupi Beungoh

Remaja Aceh dan Rokok: Ancaman Nyata yang Dianggap Biasa

Ini bukan lagi fenomena yang jarang ditemui, justru sudah mulai dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal, kondisi ini menunjukkan...

Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
FATIH - dr Fatih Ramadhan, Koordinator Sub Unit SAFE GEN-A. 

Ringkasan Berita:
  • Kebiasaan merokok pada remaja di Aceh masih tinggi dan menjadi masalah kesehatan serius.
  • Faktor utama meliputi lingkungan, kemudahan akses rokok, serta pengaruh teman sebaya dan media.
  • Diperlukan upaya menyeluruh dari keluarga, sekolah, dan pemerintah untuk menekan angka perokok remaja.

 

Oleh: dr Fatih Ramadhan 

Koordinator Sub Unit SAFE GEN-A

SERAMBINEWS.COM - Sebagai seorang tenaga kesehatan sekaligus bagian dari masyarakat Aceh, dalam praktik sehari-hari saya masih sering menemukan remaja yang sudah terbiasa merokok sejak usia yang sangat muda. Ini bukan lagi fenomena yang jarang ditemui, justru sudah mulai dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal, kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok pada remaja di Aceh masih menjadi persoalan kesehatan yang serius dan belum tertangani secara optimal.

Data juga mendukung hal tersebut, di mana prevalensi merokok pada remaja di Aceh mencapai sekitar 31,76 persen. Bahkan, di beberapa sekolah, hingga 50 % siswa pernah terpapar atau mencoba merokok. Angka ini tentu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.

Tingginya kebiasaan merokok pada remaja ini tidak terjadi begitu saja. Banyak remaja tumbuh di lingkungan di mana merokok sudah menjadi pemandangan sehari-hari, baik dari orang tua maupun teman sebaya. Ditambah lagi, rokok sangat mudah didapatkan, bahkan di warung kecil tanpa adanya pembatasan usia.

Dalam kondisi seperti ini, tidak heran jika remaja akhirnya menganggap merokok sebagai sesuatu yang wajar. Penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh teman sebaya dan keluarga menjadi faktor yang sangat kuat dalam mendorong perilaku merokok pada remaja.

Ironinya, di tengah berbagai kampanye kesehatan yang terus digaungkan, akses terhadap rokok justru masih terbuka lebar. Penjualan rokok secara bebas tanpa pengawasan usia masih dapat ditemukan di banyak tempat. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian yang ada belum berjalan secara optimal.

Di satu sisi, kita berbicara tentang bahaya rokok, namun di sisi lain, remaja tetap dapat dengan mudah membelinya. Kondisi ini secara tidak langsung memperkuat anggapan bahwa merokok bukanlah sesuatu yang benar-benar dilarang.

Selain faktor lingkungan dan akses, pengaruh media juga tidak bisa diabaikan. Di era digital saat ini, remaja sangat mudah terpapar berbagai konten yang secara tidak langsung membentuk persepsi terhadap rokok. Iklan, promosi terselubung, hingga tampilan gaya hidup di media sosial kerap menggambarkan merokok sebagai sesuatu yang biasa bahkan menarik.

Tanpa disadari, hal ini dapat memperkuat rasa penasaran remaja dan mendorong mereka untuk mencoba, terutama ketika tidak diimbangi dengan pengawasan yang memadai.

Di sisi lain, peran keluarga sebagai lingkungan pertama juga menjadi sangat penting. Kurangnya pengawasan serta kebiasaan merokok yang dilakukan oleh orang tua di rumah dapat menjadi contoh yang ditiru oleh anak.

Baca juga: Satpol PP-WH Banda Aceh Tegur Musafir Merokok di Ruang Terbuka Saat Puasa

Dalam banyak kasus, remaja yang tumbuh di lingkungan keluarga perokok memiliki risiko lebih tinggi untuk ikut merokok. Oleh karena itu, upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan pada remaja itu sendiri, tetapi juga harus dimulai dari lingkungan terdekat mereka.

Edukasi kesehatan yang selama ini diberikan sering kali hanya berhenti pada penyampaian informasi, belum sampai pada perubahan perilaku. Remaja mungkin tahu bahwa merokok itu berbahaya, tetapi pengetahuan tersebut belum cukup kuat untuk membuat mereka menjauhinya. Ini yang menjadi masalah utama.

Tanpa perubahan pendekatan, edukasi hanya akan menjadi formalitas, bukan solusi. Diperlukan metode edukasi yang lebih interaktif, kontekstual, dan mampu menyentuh sisi psikologis remaja agar pesan yang disampaikan benar-benar berdampak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved