KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang
Perang tidak pernah berdiri sendiri. Ia memiliki efek domino yang luas, termasuk pada sektor pariwisata.
Lokasinya sangat strategis sebagai pintu masuk pelayaran internasional (Selat Malaka) dan berdekatan dengan India, Malaysia, dan Thailand.
Sejarah mencatatnya sebagai pelabuhan transit penting dan kini menjadi kawasan perdagangan bebas serta destinasi wisata.
Perjalanan berlanjut menuju Pantai Iboih, dengan pemandangan langsung ke Pulau Rubiah yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya.
Terumbu karang yang masih alami dan kehidupan biota laut yang harmonis menjadi bukti bahwa alam dapat tetap lestari ketika manusia menjaganya dengan bijak. Keindahan ini menjadi kontras yang tajam dengan kehancuran yang terjadi di wilayah konflik.
Pada malam harinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Klah. Dalam suasana malam yang tenang, di bawah langit penuh bintang, perjalanan laut selama sekitar 15 menit terasa begitu magis.
Tidak ada suara ledakan, tidak ada ketegangan, hanya suara ombak dan angin malam yang menenangkan. Di pulau kecil tersebut, kami menyaksikan kejernihan air laut, ikan-ikan kecil yang berenang bebas, serta suasana yang begitu damai.
Namun, kedamaian itu justru menghadirkan pertanyaan reflektif: mengapa di satu sisi dunia manusia dapat hidup dalam harmoni dengan alam, sementara di sisi lain manusia saling menghancurkan?
Pengalaman di Sabang menunjukkan bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia nyata, hadir, dan dapat dirasakan, selama manusia memilih untuk menjaganya.
Kearifan lokal masyarakat Aceh khususya hukom laot di Sabang juga memberikan pelajaran penting. Tradisi ame “pantangan laut” sasi pada hari Jumat menunjukkan adanya nilai keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Dalam konteks ini, masyarakat tidak hanya hidup dari alam. Tapi juga menghormatinya.
Nilai-nilai semacam ini menjadi fondasi penting dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan, hal ini juga saya saksikan sebagaimana kearifan alam, hukum adat laut dalam pengelolaan hasil alam, penghasil, lobster dan mutiara terbaik, suatu Ketika diundang ke Kepulauan Aru Kota Dobo Provinsi Maluku.
Perjalanan ini semakin menegaskan bahwa perang adalah anomali dalam peradaban manusia. Ia bertentangan dengan hakikat manusia sebagai makhluk berakal, ber Tuhan dan berbudaya.
Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat, tetapi juga oleh masyarakat global, termasuk mereka yang hidup jauh dari zona konflik perang.
Ketika wisatawan enggan bepergian, ekonomi lokal terganggu. Ketika jalur energi terganggu, harga kebutuhan hidup meningkat. Semua ini menunjukkan bahwa perang adalah kerugian bersama.
Dalam keheningan malam di Pulau Klah, di bawah langit yang dipenuhi bintang, muncul kesadaran bahwa perdamaian adalah kebutuhan mendasar bagi umat manusia.
perang
damai
kupi beungoh
Opini
Serambinews.com
Sabang
Aceh
Perang Dunia
konflik
Eksklusif
multiangle
Meaningful
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-Anggota-Asosiasi-Analis-Kebijkan-Indonesia-AAKI.jpg)