KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang
Perang tidak pernah berdiri sendiri. Ia memiliki efek domino yang luas, termasuk pada sektor pariwisata.
Oleh: Yunidar Z.A*)
Sejak Perang Dunia II, berakhir pada tahun 1945, tidak ada perang model dulu lagi yang timbul.
Perang sekarang tidak hanya menghancurkan wilayah konflik, perlombaan senjata, melibatkan negara raksasa, menyewa pangkalan dan menempatkan tentara atau senjata, memberi informasi dan disinformasi intelijen, tetapi juga menjalar jauh hingga ke ruang-ruang kehidupan yang tampak damai.
Dampaknya sering kali tidak disadari secara langsung, celakanya terasa nyata dalam denyut ekonomi, sosial, geopolitik, bahkan pariwisata di daerah yang jauh dari pusat peperangan.
Perjalanan saya ke Sabang, Aceh, pada 19 Maret 2026 menjadi refleksi nyata bagaimana perang global dapat memengaruhi ruang lokal yang selama ini identik dengan kedamaian.
Setibanya di kawasan Pantai Iboih, saya bertemu dengan seorang kawan lama yang akrab disapa Bang Boy, seorang pengusaha penginapan di wilayah tersebut.
Ia menceritakan bahwa sejak eskalasi konflik agresi yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, jumlah wisatawan mancanegara mengalami penurunan drastis.
Wisatawan dari Eropa, Amerika, dan negara maju lainnya cenderung menunda perjalanan luar negeri mereka. Sabang, yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata bahari internasional, ikut merasakan dampaknya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perang tidak pernah berdiri sendiri. Ia memiliki efek domino yang luas, termasuk pada sektor pariwisata yang menjadi sumber penghidupan masyarakat lokal.
Ketidakpastian global, gangguan distribusi energi melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, serta meningkatnya ketegangan politik internasional menciptakan rasa takut dan kehati-hatian di kalangan wisatawan global.
Dunia “pelancongan” seolah ikut berhenti sejenak.
Perjalanan kami dimulai dari Banda Aceh menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Dengan kapal cepat, kami menyeberang menuju Pulau Weh dan tiba di Pelabuhan Balohan sekitar pukul 11.15 WIB.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju titik nol kilometer Indonesia di Sabang, sebuah simbol geografis sekaligus refleksi kebangsaan.
Di tempat ini, terasa bahwa Indonesia berada di ujung barat dunia, namun memiliki posisi strategis dalam percaturan global, hamparan lautan bebas selat Malaka, saya melihat lampu di malam hari lalu lintas kapal-kapal besar di Tengah lautan.
Informasi dari google, Sabang adalah kota paling barat Indonesia di Pulau Weh, Aceh, yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka di utara dan timur.
perang
damai
kupi beungoh
Opini
Serambinews.com
Sabang
Aceh
Perang Dunia
konflik
Eksklusif
multiangle
Meaningful
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-Anggota-Asosiasi-Analis-Kebijkan-Indonesia-AAKI.jpg)