Jumat, 24 April 2026

KUPI BEUNGOH

Ruang Publik atau Panggung Personal? Menakar Etika dan Marwah Komunikasi Lembaga

Dalam lanskap ini, sebuah hal yang tampak sederhana—ucapan ulang tahun pimpinan di akun resmi—menjadi menarik untuk direnungkan. 

Editor: Subur Dani
@pegadaian.kanwilmedan
Dr. Febyolla Presilawati, S.E., M.M, dosen tetap pada Program Magister Manajemen Pascasarjana UNMUHA. 

Oleh : Dr. Febyolla Presilawati, S.E., M.M*)

Di tengah derasnya arus informasi, cara sebuah lembaga berkomunikasi bukan lagi sekadar aktivitas teknis. Ia telah menjadi cermin yang memantulkan nilai, arah, dan kedewasaan berpikir. 

Apa yang ditampilkan di ruang publik hari ini tidak hanya dilihat, tetapi juga ditafsirkan—membentuk persepsi yang perlahan menjadi kepercayaan, atau sebaliknya.

Akun resmi lembaga, dalam konteks ini, bukan sekadar media informasi. Ia adalah wajah dan suara institusi. 

Ia berbicara atas nama tanggung jawab. Karena itu, setiap pesan yang hadir di dalamnya semestinya lahir dari kesadaran, bukan sekadar kebiasaan.

Baca juga: Ketegangan Iran Picu Pembatasan Selat Hormuz, Sejumlah Negara Diizinkan Melintas, Kenapa RI Belum?

Dalam lanskap ini, sebuah hal yang tampak sederhana—ucapan ulang tahun pimpinan di akun resmi—menjadi menarik untuk direnungkan. 

Sekilas, ia terasa hangat dan manusiawi. Sebuah ekspresi penghormatan yang tumbuh dari budaya yang menjunjung tinggi etika dan rasa hormat kepada atasan.

Ucapan dan Bahasa Kedekatan

Tidak ada yang keliru dari niat tersebut. Dalam banyak konteks, ucapan adalah bahasa kedekatan. 

Ia merawat hubungan, memperkuat kebersamaan, dan menghadirkan sisi humanis dalam organisasi.

Di dalam ruang internal, ia bahkan bisa menjadi perekat yang memperkuat solidaritas.

Baca juga: Haji 2026: Problema dan Transformasi Layanan Berkeadilan

Namun, ketika ucapan itu hadir di ruang publik, maknanya tidak lagi tunggal. Ia memasuki wilayah tafsir yang lebih luas. 

Publik tidak melihatnya sebagai bagian dari relasi internal, tetapi sebagai bagian dari komunikasi institusional.

Dan di sinilah muncul pertanyaan yang sederhana namun penting: untuk siapa ruang ini dihadirkan?

Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan, melainkan ajakan untuk lebih jernih melihat fungsi. 

Akun resmi lembaga pada dasarnya hadir untuk melayani publik—memberikan informasi, menjelaskan kebijakan, dan menunjukkan kinerja. 

Ketika ruang tersebut diisi dengan konten personal, meskipun dengan niat baik, terjadi pergeseran makna yang halus.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved