Selasa, 14 April 2026

Pojok Humam Hamid

Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah

Negara yang semula ingin dihancurkan kini justru menjadi penentu nasib energi dan stabilitas global

|
Editor: Subur Dani
for serambinews
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Jika Perang Iran–AS dan Israel ditulis ulang dalam historiografi yang jujur, bukan narasi propaganda militer negara-negara besar, kita akan melihat satu fenomena yang lebih ironis dari pada tragedi. 

Negara yang semula ingin dihancurkan kini justru menjadi penentu nasib energi dan stabilitas global. 

Iran mungkin telah kehilangan infrastruktur tertentu di hadapan tank dan pesawat tempur lawan, tetapi secara strategis Iran telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada apapun yang bisa diwujudkan oleh serangan udara. 

Yang dimaksud adalah kontrol atas chokepoint - “lamuek” dalam bahasa Aceh - paling sensitif di dunia dan kemampuan diplomatik untuk memainkan program nuklir laten sebagai alat negosiasi dengan kekuatan besar.

Baca juga: Skenario Akhir Trump: Tumpulnya Strategi Bisnis Dalam Perang Iran

Bayangkan Selat Hormuz seperti pintu sempit menuju hidangan paling lezat di dunia. 

Dalam kearifan Aceh klasik, posisi sebagai “pemegang kunci pintu” ini dikenal sebagai Lamuek. 

Iran memahami betul makna ini: mereka tak harus memiliki pasukan terbesar - cukup berada di titik sempit tersebut sambil menggenggam “kendali jarak jauh” atas aliran minyak global. 

Hormuz adalah Lamuek dalam bentuk paling utuh: arena penyergapan sekaligus lumbung ekonomi. 

Baca juga: Perang Iran vs AS dan Israel: Bukti Hidup Negara Peradaban 

Siapa yang menguasainya dapat menentukan siapa yang lewat dan siapa yang tertahan - sebuah posisi strategis yang membuat lawan serba salah, seperti terjebak di gerbang tol dengan palang yang tak kunjung terbuka.

Pasca gencatan senjata dan sepuluh butir kesepakatan awal yang dipaksakan oleh baku hantam geopolitik, Iran keluar dari konflik sebagai kekuatan yang sama sekali berbeda dari yang digambarkan oleh propaganda Barat sejak 1979. 

Selat Hormuz - sempit, maritim, terasa sepele bagi para jenderal yang lebih menyukai bom dan rudal - sekarang adalah mesin tekanan global. 

Di sini, di tempat di mana hanya beberapa puluh mil laut memisahkan Teluk Persia dari Samudra Hindia, Iran memegang kunci energi dunia. 

Negeri itu kini memiliki kapasitas untuk menaikkan harga minyak, menaikkan biaya premi risiko, memaksa negosiasi, dan merobek keyakinan bahwa dunia Barat bisa memisahkan keamanan energi dari realitas politik Timur Tengah.

Dalam bahasa strategi, inilah contoh klasik unintended consequences - hukum konsekuensi tak terduga bekerja dengan kejam, di mana kekuatan militer Barat, dalam usahanya mencoba menghilangkan ancaman, justru memberi Iran “hadiah” yang tak ternilai dalam sistem energi global. 

Hormuz adalah Kunci

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved