Senin, 13 April 2026

Kupi Beungoh

Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Pakai Gadget

Apakah kita benar-benar sudah melek digital? Atau selama ini kita hanya melek layar? Indonesia masuk dalam daftar....

Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
MEUTIA ULFA - Meutia Ulfa Anzib, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia USK. 

Oleh:

Meutia Ulfa Anzib, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia USK

SERAMBINEWS.COM - Apakah kita benar-benar sudah melek digital? Atau selama ini kita hanya melek layar? Indonesia masuk dalam daftar negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Ribuan orang setiap hari menjadi korban dari penipuan online, berita palsu yang menyebar cepat, dan kebocoran data pribadi mereka.  

Mendefinisikan Ulang Literasi Digital  

Kesalahpahaman terbesar di tengah masyarakat adalah mengira literasi digital sama saja dengan kemampuan teknis dalam mengoperasikan alat elektronik. Padahal, literasi digital jauh lebih dalam lagi, yaitu kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan teknologi secara kritis, aman, serta bertanggung jawab.

Kemampuan menekan tombol dan menggeser layar hanya mulai dari awal, bukan akhirnya. Beberapa fenomena mencerminkan kondisi saat ini:  

  • Hoaks dan informasi palsu masih beredar luas, bahkan di kalangan orang yang pendidikannya tinggi. 
  • Korban penipuan online terus bertambah, seperti investasi palsu, dan pinjaman ilegal.
  • Kesadaran perlindungan data pribadi sangat rendah.  
  • Ucapan kasar semakin banyak terjadi, terutama saat mendekati acara politik.   

Baca juga: Literasi Digital di Aceh: Ancaman atau Peluang?

Akar Masalah. Kurikulum terjebak di permukaan,  pendidikan masih fokus pada aspek teknis. Pemikiran kritis, etika dalam bermedia, dan perlindungan data hampir tidak diajarkan dalam kurikulum sekolah formal.  Minimnya kesadaran hak digital, masyarakat belum menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk dilindungi dalam hal data, privasi, dan informasi yang benar.  

Ukuran keberhasilan yang keliru.  Pemerintah masih menilai kemajuan digital berdasarkan jumlah orang yang menggunakan internet, bukan berdasarkan kualitas dan tingkat keamanan penggunaannya. Empat  Dimensi Literasi Digital yang diabaikan yaitu  Berpikir kritis terhadap informasi artinya memeriksa sumbernya, mengenali kemungkinan bias, dan membedakan antara pendapat dengan fakta.  Keamanan pribadi , pelajari cara mengenali penipuan.  Privasi dan perlindungan data diri,  pahami pentingnya serta risiko informasi pribadi.  Etika digital, setiap postingan dan komentar yang kita buat bisa memengaruhi orang lain secara nyata.     

Solusi dan Rekomendasi dengan Integrasikan pendidikan literasi digital kritis ke dalam materi pembelajaran sejak tingkat dasar.  Melaksanakan pelatihan yang berbasis komunitas dan mencapai masyarakat yang menjadi akar rumput.  

Platform digital wajib secara aktif memberi edukasi kepada pengguna, bukan hanya fokus pada meningkatkan interaksi.  Pacu pembuatan peraturan yang benar-benar menjaga hak digital masyarakat.  Bangun budaya jeda sebelum berbagi yaitu berhenti dulu, periksa lagi, baru kemudian bagikan. 

Kemajuan digital sebuah negara tidak boleh dinilai dari jumlah warga negara yang memiliki akun di media sosial. Yang lebih penting adalah seberapa cerdas, aman, dan tanggung jawab masyarakat dalam mengarungi dunia digital.

Sudah waktunya semua pihak memikirkan ulang apa yang dimaksud dengan “melek digital” bukan hanya bisa menghidupkan layar, tetapi juga bisa berpikir dengan jelas di baliknya.  Dunia digital membutuhkan orang yang berpikir, bukan hanya orang yang menekan tombol.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved