Rabu, 15 April 2026

Kupi Beungoh

Bahasa Aceh Terancam Punah: Siapa yang Salah?

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah rumah bagi sejarah, identitas, dan cara sebuah masyarakat memandang dunia. Namun hari ini...

Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
ZHALFA - Siti Ulfatuz Zhalfa, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia USK. 

Oleh:

Siti Ulfatuz Zhalfa, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia USK

SERAMBINEWS.COM - Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah rumah bagi sejarah, identitas, dan cara sebuah masyarakat memandang dunia. Namun hari ini, rumah itu mulai retak. Bahasa Aceh—bahasa yang selama berabad-abad menjadi denyut kehidupan masyarakat Aceh—perlahan kehilangan penghuninya.

Di banyak keluarga, anak-anak Aceh kini lebih fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia, bahkan dalam bahasa asing yang mereka pelajari dari internet dan media sosial. Percakapan di rumah yang dulu dipenuhi dialek Aceh kini sering berganti menjadi bahasa yang dianggap “lebih modern”. Tanpa disadari, perubahan kecil ini menandai pergeseran besar: bahasa ibu mulai ditinggalkan.

Pertanyaannya kemudian muncul: siapa yang salah?

Sebagian orang menuding sistem pendidikan. Di sekolah, Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama, sementara Bahasa Aceh hanya hadir sesekali, bahkan di beberapa tempat hampir tidak diajarkan sama sekali. Anak-anak tumbuh dengan kurikulum yang menekankan bahasa nasional dan global, sementara bahasa daerah perlahan tersisih ke pinggir.

Namun menyalahkan sekolah saja tidaklah cukup. Keluarga justru memiliki peran paling besar. Banyak orang tua yang sengaja tidak lagi menggunakan Bahasa Aceh kepada anak-anaknya. Alasannya beragam: agar anak cepat menguasai Bahasa Indonesia, agar terlihat lebih “terdidik”, atau karena khawatir anak akan kesulitan beradaptasi di lingkungan yang lebih luas.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga ikut memengaruhi. Dunia digital yang dikonsumsi generasi muda didominasi oleh Bahasa Indonesia dan bahasa internasional. Konten dalam Bahasa Aceh masih sangat sedikit. Akibatnya, bahasa ini jarang hadir dalam ruang yang paling sering diakses anak muda saat ini.

Jika ditarik lebih jauh, persoalan ini bukan hanya tentang bahasa, tetapi tentang kebanggaan. Ketika sebuah masyarakat mulai merasa bahwa bahasanya sendiri kurang bergengsi dibandingkan bahasa lain, maka di situlah proses pelupaan dimulai.

Karena itu, mungkin pertanyaan “siapa yang salah?” sebenarnya tidak memiliki satu jawaban. Sekolah memiliki tanggung jawab, pemerintah memiliki peran, orang tua memiliki kewajiban, dan generasi muda memiliki pilihan. Semua berada dalam lingkaran yang sama.

Baca juga: Bahasa Aceh Sumbang 435 Kosakata ke KBBI

Bahasa Aceh tidak akan punah dalam semalam. Kepunahan bahasa selalu terjadi perlahan—dimulai dari satu generasi yang berhenti mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Jika hal itu terus berlanjut, maka suatu hari Bahasa Aceh mungkin hanya tersisa dalam buku, penelitian, atau rekaman lama.

Namun harapan masih ada. Selama masih ada orang yang berbicara, menulis, dan bangga menggunakan Bahasa Aceh, bahasa ini tetap hidup. Mungkin langkahnya sederhana: berbicara dengan anak dalam Bahasa Aceh di rumah, membuat konten digital berbahasa Aceh, atau memasukkan bahasa ini lebih serius dalam pendidikan lokal.

Pada akhirnya, masa depan Bahasa Aceh tidak ditentukan oleh waktu, tetapi oleh pilihan kita hari ini. Jika suatu saat bahasa itu benar-benar hilang, mungkin pertanyaan “siapa yang salah?” akan berubah menjadi penyesalan bersama: mengapa kita tidak menjaganya ketika masih ada kesempatan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved