Kupi Beungoh
Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan
“Peusijuek” demikian juga biasa dilaksanakan pada momen penting lain dalam hidup masyarakat Aceh, seperti pernikahan, naik haji, atau tonggak karir.
*) Oleh: Suandi (tokoh Masyarakat Samatiga) dan Prof Muhammad Irham (Akademisi USK)
MASYARAKAT Aceh Barat, khususnya di Kecamatan Samatiga, masih melestarikan tradisi peusijuk (tepung tawar) saat alumni perguruan tinggi meraih gelar Sarjana, Magister, Doktor, hingga Profesor.
Menurut data Disdukcapil (2023), dari 204.475 penduduk Aceh Barat terdapat 11.663 orang berijazah S1 dan 752 berijazah S2/S3. Samatiga unggul: meski populasinya hanya 16.250, tetapi memiliki 1.231 sarjana dan 56 pascasarjana.
Tradisi ini digelar tahunan pada Hari Ke-4 Idulfitri, melibatkan organisasi pemuda Samatiga (IPMS, IKASA, FORBANGSA) serta tokoh agama dan adat. Misi peusijuk adalah doa restu dan apresiasi intelektual, sekaligus pengikat sosial dan spiritual masyarakat.
Di tempat lain, praktik peusijuk mulai menurun akibat arus modernisasi dan pengaruh Islam puritan. Artikel ini menyoroti dinamika pendidikan dan budaya lokal Aceh Barat, memberikan data terbaru, serta mengusulkan agar nilai-nilai kearifan ini tetap dirawat dalam konteks masa kini.
Peusijuk, atau tepung tawar, adalah salah satu tradisi adat Aceh yang sarat makna religius dan sosial. Acara ritual ini melibatkan taburan beras dan air tepung di kepala atau tangan sang dipeusijuk, disertai doa-doa keagamaan.
Maknanya dalam konteks akademik melampaui sekadar adat tradisional: upacara ini dimaknai sebagai penyucian diri dan permohonan keberkahan bagi lulusan perguruan tinggi maupun para pemimpin yang berhasil meraih posisi tinggi.
Sebagai contoh, konsep simbolis yang digunakan—seperti beras dan ketan—mengandung pesan moral: beras yang mengenyangkan melambangkan harapan agar sarjana yang dipeusijuk bermanfaat bagi banyak orang.
“Peusijuek” demikian juga biasa dilaksanakan pada momen penting lain dalam hidup masyarakat Aceh, seperti pernikahan, naik haji, atau tonggak karir, menegaskan statusnya sebagai adat lintas generasi.
Warga dan mahasiswa Samatiga melakukan tradisi peusijuk (tepung tawar) bagi guru besar baru dan lulusan sarjana dalam acara Halal Bihalal dan HUT IPMS ke-64 (Meulaboh, April 2024).
Tradisi ini digelar rutin setiap Idul Fitri sebagai penghargaan terhadap generasi terpelajar.
Dalam lintasan sejarahnya, peusijuk pernah menjadi ritual populer di banyak komunitas Aceh. Namun dalam beberapa dekade terakhir tren itu meredup di banyak daerah karena gerakan Islam modernis atau puritan menilai ritual semacam ini bid’ah.
Studi tentang budaya Aceh menyebutkan bahwa “dalam beberapa tahun terakhir peusijuek sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa kelompok masyarakat, pengaruh dari kalangan reformis atau puritan, yaitu gerakan Muhammadiyah…”.
Walau demikian, mayoritas Masyarakat, termasuk di perkotaan, masih melaksanakannya pada acara-acara penting seperti pernikahan dan keberangkatan haji.
Di sinilah Samatiga menonjol, meski banyak kecamatan di Aceh Barat lain sudah tak lagi menyelenggarakan peusijuk khusus untuk lulusan pendidikan tinggi, Samatiga terus menjaga warisan ini sebagai bagian penting identitas lokal.
Secara khusus, di Kecamatan Samatiga tradisi Peusijuk Sarjana telah digelar selama 66 tahun terakhir. Pelaksanaannya biasa dilakukan pada hari keempat Idul Fitri, bertepatan dengan momentum kepulangan perantau ke kampung halaman.
Acara ini diorganisir oleh Ikatan Pelajar Mahasiswa Samatiga (IPMS) dan dukungan organisasi kemasyarakatan seperti FORBANGSA dan IKASA, hingga pemerintah lokal (mukim, geuchik, camat).
Pada kesempatan itu, lulusan S1, S2, S3, bahkan Guru Besar asal Samatiga diundang dan di-peusijuk. Ritus keagamaan diawali doa bersama, pembacaan ayat suci, dan tabur tepung serta beras kuning, lalu diakhiri bersalam-salaman. Selain wujud apresiasi akademik, kegiatan ini mempererat silaturahmi.
Semua lapisan masyarakat hadir untuk memberi motivasi kepada para sarjana sebagai “generasi intelektual” yang diharapkan membangun daerah.
Menurut Sekjen FORBANGSA Samatiga, Suandi, peusijuk sarjana tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi dorongan bagi pemuda untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.
Sama halnya, Ketua IKASA Dr. Suharman menjelaskan bahwa peusijuk merupakan “warisan leluhur yang terus dijaga sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada tokoh atau pejabat yang memiliki peran dalam pembangunan”.
Pernyataan kedua pemimpin pemuda ini memperjelas fungsi sosial budaya peusijuk. ritual Rini menjadi simbol status baru (misalnya Profesor atau kepala daerah) sekaligus media penguatan solidaritas komunitas.
Para peserta yang dipeusijuk, baik akademisi maupun tokoh publik, dihimbau untuk berkontribusi membangun Samatiga bersama masyarakat.
Di samping itu, peusijuk juga diselenggarakan oleh instansi formal di Meulaboh. Misalnya, Kantor Kemenag Aceh Barat mengadakan upacara peusijuk bagi calon jemaah haji (JCH) yang hendak berangkat, menekankan peran ibadah haji sebagai kemuliaan dan keistimewaan.
Kegitan ini juga ditujukan pada ratusan calon jemaah haji Aceh Barat untuk mendengarkan arahan usai ritual peusijuk biasanya di Masjid Agung Baitul Makmur, sebagai bagian pelepasan ke tanah suci.
Peristiwa ini menegaskan bahwa peusijuk, meski awalnya adat local, dianggap juga bernilai religius dan menjadi sarana doa restu bagi keberangkatan ke Tanah Suci.
Beberapa data menunjukkan peristiwa kegiatan peusijuk di beberapa Kecamatan di Aceh Barat dengan nuansa yang berbeda-beda. Sebagai perbandingan mari kita lihat gambar table berikut.
Tabel di atas menyimpulkan bahwa Samatiga adalah satu-satunya kecamatan di Aceh Barat yang secara konsisten menyelenggarakan peusijuk bagi para akademisi secara rutin.
Di Meulaboh (Kecamatan Johan Pahlawan) peusijuk hanya muncul pada acara-acara spesial (misal pelepasan haji, halal bihalal dinas) dan didukung instansi keagamaan.
Sementara di kecamatan-kecamatan lain, peusijuk lebih bersifat sporadis atau tradisional (misal saat pesta pernikahan), dan tingkat pelaksanaannya menurun.
Berikut adalah gambarran evolusi peusijuk di Samatiga dan Aceh Barat. Sekitar 1960-an, tradisi peusijuk untuk para sarjana mulai tercatat di Samatiga (sejak "66 tahun" lalu hingga tahun 2026). Pada 1980-an, penyelenggaraan peusijuk sarjana semakin terstruktur dengan berdirinya IPMS dan ikatan alumni.
Pada era 2000-an, pengaruh gerakan Islam puritanisme menimbulkan kritik dan penurunan praktik peusijuk di beberapa komunitas.
Namun demikian, pada 2020-an, Samatiga tetap mempertahankan tradisi ini sebagai identitas budaya, dengan peusijuk sarjana rutin digelar dan menyorot pencapaian guru besar baru.
Argumen utama ini menekankan bahwa meski tradisi lama seperti peusijuk menghadapi tantangan zaman, nilai-nilai kearifan lokalnya tetap relevan sebagai sarana pembinaan moral dan kebangsaan.
Menjaga tradisi peusijuk sarjana di Samatiga bukan hanya soal kenangan budaya, tetapi juga wujud nyata penghargaan bagi pendidikan dan pengingat komitmen kolektif untuk melanjutkan perjuangan meningkatkan kualitas SDM Aceh Barat.
Data menunjukkan bahwa Aceh Barat sudah memasuki “bonus demografi”, sehingga kualitas sumber daya manusia sangat penting bagi masa depan daerah.
Dengan hampir 12 ribu penduduk berijazah S1 dan ratusan pascasarjana, potensi intelektual Kabupaten Aceh Barat besar –, khususnya bila dikelola melalui jaringan sosial yang rapat seperti yang tercermin dalam tradisi peusijuk ini.
Namun, masih terdapat kekosongan data spesifik mengenai lulusan Master/Doktor dan jumlah profesor asal Aceh Barat.
Disarankan pemerintah daerah atau BPS kabupaten bersama perguruan tinggi (misalnya UTU, STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh) menyusun statistik terperinci tentang lulusan perguruan tinggi warga Aceh Barat, termasuk data jenjang S2/S3 dan guru besar.
Rekomendasi lainnya, agar peusijuk sarjana diperkenalkan sebagai program pendidikan nonformal, misalnya dengan melibatkan para sarjana alumnus Aceh Barat sebagai mentor bagi pelajar. Interaksi ini akan memperkuat semangat kebersamaan dan aspirasi kolektif.
Sebagai penutup, tradisi peusijuk di Aceh Barat, dengan segala dinamika sosialnya, menjadi cermin bahwa kemajuan pendidikan dan tradisi lokal tidak saling bertentangan.
Meskipun beberapa pemuda mungkin enggan meneruskan adat lama, tinjauan masa kini dan data teranyar menunjukkan bahwa peusijuk di Samatiga tetap hidup sebagai simbol prestasi dan kebersamaan.
Menghormati pendidik dan pemimpin melalui adat tradisional ini justru dapat memperkuat ikatan sosial dan memperkokoh identitas kultural Aceh Barat dalam menghadapi tantangan global. Kita perlu memastikan bahwa generasi mendatang, leluhur adat dan intelektual Aceh Barat, tidak terputus tali silaturahmi spiritualnya. (*)
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Suandi-tokoh-Masyarakat-Samatiga-kanan-dan-ProfMuhammad-Irham-Akademisi-USK-kiri.jpg)