KUPI BEUNGOH
Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan
Ismail Rasyid lahir di Matangkuli Aceh Utara pada tanggal 3 Juni 1968, sebagai putra kedua dari pasangan H.M. Rasyid S dan Salamah.
Oleh: Mahfuddin Ismail, MAP*)
RABU, 15 April 2026, menjadi salah satu hari paling bersejarah bagi Ismail Rasyid.
Pada hari itu, pengusaha multinasional asal Matangkuli Aceh Utara ini, resmi meraih gelar Doktor Manajemen dengan predikat cum laude dari ITL Trisakti Jakarta.
Sebuah pencapaian yang tidak hanya menambah daftar panjang prestasi akademiknya, tetapi juga meneguhkan dirinya sebagai sosok inspiratif yang lahir dari keterbatasan, lalu menembus batas-batas kemungkinan.
Maka tidak berlebihan jika penulis mengawali tulisan ini dengan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya untuk Abangda Ismail Rasyid, yang telah mencetak sejarah baru dalam dunia pengusaha di Indonesia, khususnya Aceh.
Dilansir Serambinews.com, Rabu (15/4/2026), tokoh nasional asal Aceh,
Dr. Sofyan A. Djalil, menyebut pencapaian Ismail Rasyid ini sebagai sesuatu yang langka.
“Ini spesies langka. Tidak mudah meraih doktor cum laude sambil tetap aktif bekerja. Kita berharap Ismail Rasyid dapat memberikan kontribusi besar, karena tidak banyak pengusaha yang memiliki kedalaman intelektual seperti ini,” ungkap Sofyan Djalil.
Sofyan menambahkan bahwa pengalaman Ismail mengikuti pendidikan di Lemhannas menjadi nilai tambah dalam membangun kapasitas kepemimpinan dan wawasan kebangsaan.
Apresiasi juga datang dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria yang memuji Ismail Rasyid sebagai pengusaha intelektual dengan visi strategis yang kuat.
Nezar mengapresiasi pemikiran Ismail, khususnya terkait integrasi sistem logistik dan digitalisasi yang sejalan dengan visi pemerintah, seperti yang tertuang dalam disertasinya.
Baca juga: Ismail Rasyid Raih Gelar Doktor di ITL Trisakti, Lulus dengan Predikat Cumlaude
Baca juga: Wamenkomdigi Nezar Patria Puji Disertasi Doktor Ismail Rasyid: Solusi Cerdas Logistik Modern
Tidak hanya dari tokoh nasional asal Aceh, apresiasi atas pencapaian Ismail Rasyid ini juga diungkap oleh Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla), Laksamana Madya TNI Dr. Irwansyah.
Ia berharap ilmu yang diperoleh Ismail dapat berkontribusi pada pembangunan nasional dan membuka peluang kolaborasi lintas sektor hingga ke tingkat kementerian.
"Mari kita doakan semoga Dr Ismail Rasyid jadi menteri, " kata Laksamana Madya Irwansyah, seperti dilansir Serambinews.com Rabu (15/4/2026).
Mengubah Persepsi tentang Pengusaha
Bagi penulis, kesuksesan Ismail Rasyid meraih gelar Doktor di ITL Trisaksi ini, akan mengubah persepsi orang tentang sosok pengusaha.
Selama ini, banyak orang menganggap, pengusaha yang telah sukses tidak lagi perlu bersekolah.
Bahkan, banyak pengusaha di level lokal Aceh, nasional, bahkan internasional berasal dari kalangan putus sekolah, atau paling banter hanya bergelar S-1.
Bisa dikatakan, sosok Ismail Rasyid hanya sedikit contoh pengusaha sukses yang masih ingat dengan pendidikan di tengah padatnya kesibukan, bukan hanya untuk level Aceh, tapi juga untuk level nasional, mungkin juga untuk level internasional.
Menariknya, Ismail Rasyid baru memulai pendidikan magister (S-2) di ITL Trisakti, setelah 27 tahun lebih menyelesaikan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (tamat tahun 1993).
Menurut penulis, jalan yang ditempuh Ismail Rasyid untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S-2 dan kemudian S-3 di tengah kesibukannya mengurus usaha ini, patut untuk diteliti agar menjadi inspirasi bagi pengusaha muda, khusunya di Aceh.
Mungkin ini merupakan bagian dari strategi bagi Ismail Rasyid untuk memperkuat dan memperluas jejaring sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan.
Sebab, sebelum memutuskan melanjutkan kuliahnya, Ismail Rasyid, terlebih dahulu mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) PPSA (23) XXIII Tahun 2021.
Semua jenjang pendidikan lanjutan ini, ditempuh Ismail Rasyid, setelah dia sukses membawa perusahaannya benar-benar dalam posisi yang mapan.
Dalam pandangan penulis, keputusan Ismail Rasyid menempuh pendidikan di Lemhanas dan program magister (S-2) di ITL Trisaksi, bukanlah keputusan yang mudah.
Buktinya, butuh waktu lebih dari 27 tahun bagi Ismail Rasyid hingga kemudian dia memutuskan masuk Lemhanas (pada tahun 2021) dan S-2 di ITL Trisaksi pada tahun 2023.
Setelah menyelesaikan S-2, tentu tidak lagi sulit bagi Ismail untuk menyelesaikan S-3 atau meraih doktor.
Karena dia sudah semakin akrab dengan dunia akademik, dan tentunya juga karena usahanya sudah sangat mapan.
Baca juga: Dari Aceh ke Panggung Nasional: Kisah Ismail Rasyid Membangun Trans Continent
Inspirasi untuk Pengusaha Aceh
Yang perlu dicatat dan menjadi inspirasi, untuk pengusaha asal Aceh, Ismail Rasyid mungkin satu-satunya pengusaha yang bergelar Doktor, dan tidak tertutup kemungkinan akan menjadi profesor.
Dalam catatan penulis, selain Ismail Rasyid, adalah satu nama pengusaha nasional asal Aceh yang juga memiliki gelar pendidikan mentereng.
Pengusaha itu adalah Ir. Hamdani Bantasyam, ST., M.MT., IPU., ASEAN Eng, yang kini menjabat sebagai Co-Founder dan Direktur PT Energi Quarto Indonesia.
Adik dari Saifuddin Bantasyam SH, MA, ini merupakan alumni program doktoral di Sekolah Interdisiplin Manajemen Teknologi (SIMT) ITS. Hamdani juga meraih gelar sarjana Teknik Kimia dari ITS pada tahun 1991 (K31), sebelum melanjutkan studi dan meraih gelar Magister Manajemen Teknologi (MMT) dari SIMT ITS.
Karir gemilangnya dimulai dengan bekerja di perusahaan Multi Nasional (MNC) asal Amerika yang bergerak di bidang Water, Chemical & Hygiene. Di sana, beliau menghabiskan 23 tahun dan mencapai posisi tertinggi sebagai Indonesia Business Head.
Hanya saja, nama Ir. Hamdani Bantasyam ini kurang begitu terdengar di Aceh, mungkin karena beliau masih fokus membangun usahanya di luar Aceh.
Dari Matangkuli dan Pernah Jadi Kernet Labi-labi
Ismail Rasyid lahir di Matangkuli Aceh Utara pada tanggal 3 Juni 1968, sebagai putra kedua dari pasangan H.M. Rasyid S dan Salamah.
Masa kecilnya penuh keterbatasan.
Untuk bisa kuliah di Universitas Syiah Kuala, ia harus bekerja sebagai kernet labi-labi jurusan Pasar Aceh – Kampus Darussalam. (Serambinews.com, Minggu, 8 Maret 2020 dengan judul Pernah Jadi Kernet Labi-labi Jurusan Pasar Aceh - Lhoknga, Ismail Rasyid Kini Bos di 7 Perusahaan).
Visi bisnisnya sudah dimulai saat itu.
Pilihannya menjadi kernet labi-labi, bukan hanya sekedar menghemat uang, tapi juga dia bisa pamer ke teman-temannya.
Ketika kawan-kawannya pergi ke kampus dengan bus robur (sejenis damri) karena murah, Ismail Rasyid bahkan bisa pamer pergi ke kampus dengan labi-labi (angkutan kota) yang kala itu menjadi moda transportasi mewah untuk ukuran mahasiswa.
Hidup sederhana dengan cara cerdas itu, membentuk daya juang yang kelak menjadi modal utama dalam menapaki dunia usaha.
Setelah lulus S-1 pada 1993, ia sempat ditolak oleh empat perusahaan besar di kampung halamannya.
Kala itu, tahun 1990-an, sejumlah perusahaan multinasional dan nasional beroperasi di Aceh Utara dan Lhokseumawe, sehingga terkenal dengan julukan daerah Petro Dollar.
Penolakan oleh perusahaan itu tidak membuat Ismail Rasyid menyerah.
Ia memilih merantau ke Batam, Singapura, Malaysia, dan Thailand, mencari pengalaman lintas negara.
Dari Perantauan ke Puncak Bisnis
Setelah beberapa bulan melanglangbuana di negara tetangga, Ismail Rasyid kemudian memutuskan pulang ke Batam, tempat ia memulai perantauan.
Dalam perantauan keduanya di Batam, Ismail bekerja di perusahaan asing bidang ekspor-impor.
Di perusahaan ini, Ismail dipercayakan di beberapa jabatan strategis.
Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 2003, ia mendirikan PT Trans Continent di Balikpapan.
Kini, perusahaan itu menjadi salah satu pemain penting di sektor logistik nasional, dengan 23 kantor cabang di 16 Provinsi, dari Aceh hingga Sulawesi, serta tiga kantor cabang luar negeri (Filipina, Australia, dan Malaysia).
Sebagai anggota dari asosiasi Globalink Network, PT Trans Continent memiliki jaringan di lebih 60 negara.
Namun, yang membuat kisahnya berbeda bukan hanya sukses bisnis.
Ismail tetap menaruh perhatian besar pada pendidikan.
Setelah 27 tahun menyelesaikan S-1, ia melanjutkan S-2 di ITL Trisakti (2023), lalu S-3 di bidang Manajemen Logistik (2026).
Sebelumnya, ia juga menempuh pendidikan di Lemhanas, memperluas jejaring sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan.
Kisah Ismail Rasyid adalah bukti bahwa pendidikan dan kerja keras bisa berjalan beriringan.
Dari kernet labi-labi hingga doktor cum laude, ia menegaskan bahwa pengusaha tidak selalu identik dengan “tidak bersekolah.”
Justru, dengan pendidikan, pengusaha bisa menjadi teladan, pemimpin, dan inspirasi bagi bangsa.(*)
Profil Singkat
Nama: Ismail Rasyid
Lahir: Matangkuli, Aceh Utara, 3 Juni 1968
Pendidikan:
S-1 Ekonomi & Pembangunan, Universitas Syiah Kuala (1993)
S-2 Manajemen Logistik Material, ITL Trisakti (2023)
S-3 Doktor Manajemen Logistik, ITL Trisakti (2026)
Karier:
General Manager di PT Megantrindo Nusantara Abadi
General Manager di PT C&P Logistic Indonesia
Pendiri & CEO PT Trans Continent (2003–sekarang)
Keluarga:
- Ayah: H.M. Rasyid S
- Ibu: Salamah
- Istri: Erni Molisa (Menikah 2001)
- Anak:
- Jibril Gibran (Master of Science, University of Manchester)
- Syifa Aulia (Marketing Communications, University of Melbourne)
*) PENULIS adalah Tokoh Masyarakat Pidie, berdomisili di Pidie, Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel Kupi Beungoh lainnya di SINI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mahfuddin-Ismail-dan-Ismail-Rasyid.jpg)