Kamis, 16 April 2026

KUPI BEUNGOH

Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh

Sejak remaja, Ismail Rasyid tergolong berpandangan progresif dan free will. Dia tak percaya bahwa masa depannya gelap. 

Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Hasan Basri M Nur (kiri), alumnus Universiti Utara Malaysia (UUM) Negeri Kedah Darul Aman, dan Jafar Insya Reubee (kanan), perantau asal Pidie di Negeri Selangor Darul Ehsan Malaysia. 

Oleh: Jafar Insya Reubee & Hasan Basri M. Nur*)

Capaian pembangunan diukur dari tiga aspek kesejahteraan: Ekonomi, kesehatan, pendidikan. Capaian Human Development Index (HDI) setiap negara dilakukan evaluasi oleh badan dunia United Nations Development Programme (UNDP). 

HDI Indonesia masih berada pada peringkat 112 dari 193 negara, beda dengan Singapura yang kerap masuk peringkat 10 besar negara sejahtera di dunia.

Aspek kesejahteraan ekonomi dan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang koin, antara satu sisi dengan lainnya tak mungkin dipisahkan. 

Baca juga: Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri

Kemapanan sosial ekonomi ikut mendongkrak pendidikan bermutu. Sebaliknya pendidikan bermutu ikut mengangkat derajat ekonomi seseorang. 

Masa depan seseorang adalah rahasia ilahi. Ada anak yang terlahir dari keluarga kaya, dan sebaliknya. 

Ismail Rasyid terlahir dari keluarga miskin di Matangkuli, Aceh Utara, pada 1968.

Dia sempat bekerja mocok-mocok, seperti jak u blang, hingga kondektur labi-labi. Ini semua dilakukan agar dia bertahan hidup.

Baca juga: VIDEO SAKSI KATA Bersama Sekjend DEA, Ismail Rasyid: Investasi Tak Jalan, Jika Lahan Belum Selesai

Sejak remaja, Ismail Rasyid tergolong berpandangan progresif dan free will. Dia tak percaya bahwa masa depannya gelap. 

Dia pun berusaha mencari jalan agar dapat mengubah nasib, yaitu keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

Kuliah di FEB USK

Menyadari pentingnya pendidikan dalam mengubah nasib, Ismail Rasyid mencoba peruntungan dengan cara bersaing mendapatkan satu bangku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK) pada era 1980-an akhir.

Ismail Rasyid tergolong siswa cerdas. Ia diterima di FEB USK dengan mulus, tanpa perlu memakai gacok dalam proses testing. 

FEB USK menjadi kampus idaman bagi alumni SMA/MAN se-Aceh. Kala itu, belum lahir PTN di level kabupaten seperti Unimal Lhokseumawe, Unsam Langsa, UTU Meulaboh, dan lain-lain.

Ismail dapat menyelesaikan pendidikan di USK dengan mulus. Ia mendapatkan ijazah asli yang boleh dibawa ke laboratorium forensik mana pun. 

Baca juga: Ismail Rasyid Raih Gelar Doktor di ITL Trisakti, Lulus dengan Predikat Cumlaude

Berbekal ijazah dari PTN bergengsi, dia melamar kerja pada perusahaan besar yang ada di Aceh Utara. Kala itu, Aceh Utara dikenal sebagai kawasan Petro Dollar setelah eksplorasi migas. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved