KUPI BEUNGOH
Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh
Sejak remaja, Ismail Rasyid tergolong berpandangan progresif dan free will. Dia tak percaya bahwa masa depannya gelap.
Oleh: Jafar Insya Reubee & Hasan Basri M. Nur*)
Capaian pembangunan diukur dari tiga aspek kesejahteraan: Ekonomi, kesehatan, pendidikan. Capaian Human Development Index (HDI) setiap negara dilakukan evaluasi oleh badan dunia United Nations Development Programme (UNDP).
HDI Indonesia masih berada pada peringkat 112 dari 193 negara, beda dengan Singapura yang kerap masuk peringkat 10 besar negara sejahtera di dunia.
Aspek kesejahteraan ekonomi dan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang koin, antara satu sisi dengan lainnya tak mungkin dipisahkan.
Baca juga: Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri
Kemapanan sosial ekonomi ikut mendongkrak pendidikan bermutu. Sebaliknya pendidikan bermutu ikut mengangkat derajat ekonomi seseorang.
Masa depan seseorang adalah rahasia ilahi. Ada anak yang terlahir dari keluarga kaya, dan sebaliknya.
Ismail Rasyid terlahir dari keluarga miskin di Matangkuli, Aceh Utara, pada 1968.
Dia sempat bekerja mocok-mocok, seperti jak u blang, hingga kondektur labi-labi. Ini semua dilakukan agar dia bertahan hidup.
Baca juga: VIDEO SAKSI KATA Bersama Sekjend DEA, Ismail Rasyid: Investasi Tak Jalan, Jika Lahan Belum Selesai
Sejak remaja, Ismail Rasyid tergolong berpandangan progresif dan free will. Dia tak percaya bahwa masa depannya gelap.
Dia pun berusaha mencari jalan agar dapat mengubah nasib, yaitu keluar dari lingkaran setan kemiskinan.
Kuliah di FEB USK
Menyadari pentingnya pendidikan dalam mengubah nasib, Ismail Rasyid mencoba peruntungan dengan cara bersaing mendapatkan satu bangku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK) pada era 1980-an akhir.
Ismail Rasyid tergolong siswa cerdas. Ia diterima di FEB USK dengan mulus, tanpa perlu memakai gacok dalam proses testing.
FEB USK menjadi kampus idaman bagi alumni SMA/MAN se-Aceh. Kala itu, belum lahir PTN di level kabupaten seperti Unimal Lhokseumawe, Unsam Langsa, UTU Meulaboh, dan lain-lain.
Ismail dapat menyelesaikan pendidikan di USK dengan mulus. Ia mendapatkan ijazah asli yang boleh dibawa ke laboratorium forensik mana pun.
Baca juga: Ismail Rasyid Raih Gelar Doktor di ITL Trisakti, Lulus dengan Predikat Cumlaude
Berbekal ijazah dari PTN bergengsi, dia melamar kerja pada perusahaan besar yang ada di Aceh Utara. Kala itu, Aceh Utara dikenal sebagai kawasan Petro Dollar setelah eksplorasi migas.
kupi beungoh
opini serambi
Ismail Rasyid
Trans Continent
opini pembaca
serambi
Serambi Indonesia
Serambinews
| Usia 18 Tahun, Bawaslu Mengawasi |
|
|---|
| Bercanda yang Kebablasan: Saat Kata Jadi Awal Kekerasan Seksual |
|
|---|
| Saree di Persimpangan Jalan: Akankah UMKM Tergilas Roda Tol Sibanceh? |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh, Kehadiran Negara dalam Krisis Sampah - Bagian III |
|
|---|
| Sinyal Otsus Diperpanjang, Apresiasi atas Lobi dan Komunikasi Politik Mualem |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hasan-Basri-dan-Jafar-Insya-Reubee.jpg)