Kamis, 23 April 2026

Opini

Merawat Tradisi Meuseuraya Toet Lemang

TRADISI meuseuraya toet lemang merupakan sebuah perayaan budaya yang tidak hanya menghadirkan cita rasa kuliner khas Aceh Barat Daya

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/HO 
Jufri SAg MM, Pemerhati Sosial dan Budaya, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Sekretariat Daerah Kabupaten Abdya 

Jufri SAg MM, Pemerhati Sosial dan Budaya, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Sekretariat Daerah Kabupaten Abdya

TRADISI meuseuraya toet lemang merupakan sebuah perayaan budaya yang tidak hanya menghadirkan cita rasa kuliner khas Aceh Barat Daya (Abdya), tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, identitas, dan penggerak ekonomi masyarakat. Di balik aroma ketan bercampur santan yang dibakar dalam bambu, tersimpan nilai kesabaran, kerja sama, dan cinta terhadap warisan leluhur yang diwariskan lintas generasi. Lemang adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi, memperkuat ikatan sosial, dan menumbuhkan kesejahteraan lokal di tengah arus modernitas.Lemang adalah bagian dari tradisi kuliner yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan rasa kebersamaan yang hangat. Leumang juga menyimpan cerita tentang kesinambungan tradisi. Ia bukan sekadar makanan, melainkan warisan yang terus dihidupkan dari generasi ke generasi. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari kebersamaan dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh cinta dan perhatian.

Lebih jauh, lemang menghadirkan pelajaran tentang keseimbangan. Ketan yang lembut berpadu dengan santan yang gurih, lalu dibakar perlahan hingga matang, menunjukkan bahwa harmoni tercipta dari perpaduan unsur yang berbeda. Dengan demikian, leumang bukan hanya kuliner khas, tetapi juga cerminan nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakat di Abdya.
Sekitar tahun 80 hingga 90-an, tradisi toet lemang bersama keluarga bukan hanya tentang menghasilkan makanan, melainkan tentang menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat. Api yang menyala, bambu yang berjajar, dan aroma santan yang meresap ke dalam ketan menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang membentuk kenangan. Proses ini mengajarkan bahwa makanan tradisional tidak sekadar hasil akhir, tetapi juga perjalanan kerja sama, kesabaran, dan rasa syukur.

Namun, perubahan zaman yang menghadirkan budaya serba cepat dan instan perlahan menggeser tradisi tersebut. Membeli lemang di pasar memang praktis, tetapi ada dimensi rasa yang hilang. Bukan pada cita rasa ketan dan santannya, melainkan pada pengalaman yang menyertainya. Di sinilah letak kehilangan yang sesungguhnya; “bukan sekadar hilangnya sebuah cara memasak, melainkan hilangnya ruang kebersamaan yang dulu menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga”.

Tradisi toet lemang yang semakin jarang dilakukan membuat anak-anak terputus dari warisan kuliner khas daerahnya. Mereka tidak lagi merasakan bagaimana sebuah makanan bisa menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya. Padahal, tradisi seperti ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus sarana untuk menanamkan nilai kesabaran, kerja sama, dan cinta terhadap budaya sendiri. Hilangnya tradisi bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga ingatan kolektifnya agar tetap hidup di tengah arus modernitas.

Langkah Pemerintah Kabupaten Abdya yang menjadikan “Meuseuraya Toet Lemang” sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 patut diapresiasi sebagai upaya nyata menjaga tradisi.  Keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam acara meuseuraya toet leumang mencerminkan sebuah harmoni sosial yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran Pemerintahan Gampong, Mukim, SKPK, sekolah, instansi vertikal, BUMD hingga BUMN menunjukkan tradisi ini telah melampaui batas kelompok tertentu dan menjelma menjadi milik bersama yang memperkuat identitas kolektif.

Simbol kebersamaan

Kegiatan toet lemang yang diadakan di bantaran Krueng Beukah menghadirkan suasana haru. Ketika semua elemen berkumpul di bantaran sungai, suasana yang tercipta bukan hanya sekadar menikmati sengatan aroma leumang yang menggoda, tetapi juga mendatangkan energi kebersamaan yang menyatukan hati warga.
Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, Meuseuraya Toet Leumang dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal kembali akar tradisi. Dengan demikian, acara ini memastikan bahwa lemang tetap hidup sebagai simbol kebersamaan dan identitas masyarakat Bumoe Breuh Sigupai. Selain menjadi ajang pelestarian tradisi, meuseuraya toet leumang juga memiliki dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat.

Dengan kebutuhan sekitar 17 ribu batang buluh bambu, 7,5 ton beras ketan, daun pisang, kelapa, dan kayu bakar, seluruh rantai produksi lokal ikut terlibat dalam prosesnya. Para petani merasakan peningkatan permintaan hasil panen, pedagang memperoleh peluang memperluas pasar, dan penyedia bahan lokal menikmati keuntungan dari tingginya kebutuhan.

Perputaran ekonomi yang tercipta menjadikan acara ini lebih dari sekadar tradisi budaya, melainkan motor penggerak kesejahteraan daerah. Kehadiran masyarakat yang ramai juga membuka kesempatan bagi pedagang kecil untuk menjajakan minuman dan makanan ringan, sehingga suasana perayaan tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan dan kemandirian ekonomi lokal.
Kegiatan ini memberi napas baru bagi ekonomi rakyat kecil. Kehadiran ribuan masyarakat di bantaran sungai Krueng Beukah menciptakan pasar dadakan yang semarak. Momentum ini bukan hanya sekadar transaksi jual beli, melainkan juga wujud nyata dari perputaran ekonomi yang tumbuh dari bawah, memperlihatkan betapa kuatnya daya hidup masyarakat lokal ketika tradisi dan ekonomi berjalan beriringan.

Meuseuraya toet lemang tidak hanya menghidupkan kembali warisan budaya, tetapi juga memperkokoh ekosistem ekonomi rakyat kecil, sekaligus menegaskan bahwa tradisi mampu menjadi sumber kesejahteraan bersama. Menariknya, selain lemang, acara ini juga menghadirkan “tape” sebagai makanan pendamping. Sinergi antara tradisi, ekonomi, dan kuliner ini menjadikan acara meuseuraya toet lemang bukan hanya sebuah perayaan, melainkan momentum penting untuk memperkuat identitas budaya sekaligus kesejahteraan masyarakat Abdya.

Harapan agar meuseuraya toet lemang dapat memecahkan rekor MURI tentu menjadi motivasi tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Abdya. Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah yang memperluas jangkauan tradisi, memperkuat rasa memiliki di kalangan masyarakat Abdya. Kehadiran tamu dari luar daerah menambah semarak suasana, memperlihatkan bahwa tradisi lokal memiliki daya tarik yang melampaui batas geografis.
Momentum ini bukan hanya sekadar perayaan, melainkan juga sarana strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya nanggroe Sigupai kepada khalayak yang lebih luas. Dari sisi ekonomi, kehadiran tamu dari luar daerah jelas memberi dampak yang signifikan bagi geliat sektor perhotelan, kuliner, dan perdagangan di Abdya, baik itu restoran, warung makan, kafe, hingga pedagang kecil memperoleh peluang untuk meningkatkan pendapatan dari meningkatnya kunjungan.

Dengan demikian, meuseuraya toet leumang tidak hanya berfungsi sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai strategi pembangunan daerah yang menyatukan tradisi, kebersamaan, dan kesejahteraan. Bagi Gen-Z, kegiatan ini menjadi laboratorium budaya yang hidup, di mana mereka tidak hanya menikmati hasil akhir berupa leumang yang matang, tetapi juga menyaksikan seluruh proses yang sarat makna.

Sementara bagi masyarakat secara luas, meuseuraya toet lemang menghadirkan peluang ekonomi yang nyata. Dengan demikian, acara ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupkan ekonomi rakyat. Harapan besarnya-tradisi toet leumang peluang baru dalam menggerakkan ekonomi. Semoga.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved