Minggu, 3 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Di Aceh, Siapa yang Melindungi Perempuan?

Belum selesai dengan korban yang tengah memperjuangkan haknya di pengadilan, kini muncul lagi peristiwa yang memicu kekecewaan publik.

Tayang:
Editor: Yocerizal
IST/SERAMBINEWS.COM
Miftahul Jannah, Sahabat Saksi dan Korban wilayah Aceh. 

Oleh: Miftahul Jannah, SKM., M.K.M *)

Titipan Cinta yang Berakhir Luka

Beberapa hari terakhir, kasus kekerasan kembali meresahkan di Aceh. Belum selesai dengan korban yang tengah memperjuangkan haknya di pengadilan, kini muncul lagi peristiwa yang memicu kekecewaan publik—terlebih karena usia korban yang masih sangat belia.

Pada usia yang seharusnya dipenuhi kasih sayang, pelukan hangat, dan perhatian orang tua, justru ada anak-anak yang mengalami luka dan trauma. 
Ada ibu yang, demi bertahan hidup, menitipkan anaknya ke sebuah yayasan dengan harapan mendapat perawatan dan perlindungan. 

Namun kenyataan berkata lain. Lembaga yang seharusnya menjadi perpanjangan tangan kasih sayang justru melahirkan korban.

Anak-anak terlalu cepat menanggung luka yang bahkan belum mampu mereka ungkapkan. Lebih miris lagi, trauma itu justru lahir dari tangan-tangan yang seharusnya menjadi ruang aman.

Suara yang tak Pernah Sempat Hidup

Sungguh menyayat hati ketika seorang bayi mungil, bak malaikat kecil, ditemukan tak bernyawa di dalam kardus. Tanpa selembar kain pun untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya bumi.

Seolah dari sudut pandang sang bayi, kisah itu dapat dibayangkan sebagai berikut:

“Ketika ibu tidak menginginkan kehadiranku, bahkan tidak memberiku kesempatan melihat dunia. Tidak ada pelukan pertama, tidak ada wajah manusia yang menyapa. Aku dibiarkan mengalir di atas air, tanpa memikirkan apakah tubuh kecilku akan menjadi santapan hewan buas,"

"Dengan keyakinan tidak seorang pun tahu keberadaanku, padahal Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Melalui tangan hamba-Nya yang baik, aku dipulangkan dengan layak, bersih, dan wangi, karena surga telah menungguku. Untuk orang tua, jagalah diri dari perbuatan zalim ini. Semoga tidak ada lagi kisah seperti aku.” (monolog imajiner korban)

Bukan Ibu yang Tak Sayang

Sering kali kita terlalu cepat menghakimi, terlalu mudah melabeli seorang ibu sebagai 'tak punya hati'. 

Padahal, di balik setiap kasus pembuangan bayi yang kami dampingi, selalu ada cerita yang jauh lebih kompleks daripada sekadar vonis moral.

Baca juga: Satu Nelayan Aceh Timur yang Ditahan Otoritas Thailand Bebas, 18 Lainnya Masih Ditahan

Baca juga: VIDEO Baru Umumkan Akhiri Perang, Trump Sebut Serangan ke Iran Bisa Terjadi Lagi

Ada perempuan muda yang hamil akibat kekerasan seksual dan tidak tahu harus mengadu ke mana. Ada ibu yang hidup dalam keterbatasan ekonomi tanpa perlindungan. Ada perempuan yang takut diusir, dihakimi, dan ditinggalkan jika kehamilannya diketahui.

Pembuangan bayi bukan lahir dari ketiadaan cinta, melainkan dari ketiadaan pilihan. Bahkan, ketika orang terdekat pun tidak lagi menjadi tempat aman.

Ketika Angka Berbicara Lebih Keras dari Tangisan

Kasus kekerasan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sepanjang 2025, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat 967 kasus kekerasan yang terlaporkan.

Sementara banyak kasus lain tidak dilaporkan karena dianggap aib atau diselesaikan secara adat yang belum tentu berpihak pada keadilan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved