KUPI BEUNGOH
Di Aceh, Siapa yang Melindungi Perempuan?
Belum selesai dengan korban yang tengah memperjuangkan haknya di pengadilan, kini muncul lagi peristiwa yang memicu kekecewaan publik.
Oleh: Miftahul Jannah, SKM., M.K.M *)
Titipan Cinta yang Berakhir Luka
Beberapa hari terakhir, kasus kekerasan kembali meresahkan di Aceh. Belum selesai dengan korban yang tengah memperjuangkan haknya di pengadilan, kini muncul lagi peristiwa yang memicu kekecewaan publik—terlebih karena usia korban yang masih sangat belia.
Pada usia yang seharusnya dipenuhi kasih sayang, pelukan hangat, dan perhatian orang tua, justru ada anak-anak yang mengalami luka dan trauma.
Ada ibu yang, demi bertahan hidup, menitipkan anaknya ke sebuah yayasan dengan harapan mendapat perawatan dan perlindungan.
Namun kenyataan berkata lain. Lembaga yang seharusnya menjadi perpanjangan tangan kasih sayang justru melahirkan korban.
Anak-anak terlalu cepat menanggung luka yang bahkan belum mampu mereka ungkapkan. Lebih miris lagi, trauma itu justru lahir dari tangan-tangan yang seharusnya menjadi ruang aman.
Suara yang tak Pernah Sempat Hidup
Sungguh menyayat hati ketika seorang bayi mungil, bak malaikat kecil, ditemukan tak bernyawa di dalam kardus. Tanpa selembar kain pun untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya bumi.
Seolah dari sudut pandang sang bayi, kisah itu dapat dibayangkan sebagai berikut:
“Ketika ibu tidak menginginkan kehadiranku, bahkan tidak memberiku kesempatan melihat dunia. Tidak ada pelukan pertama, tidak ada wajah manusia yang menyapa. Aku dibiarkan mengalir di atas air, tanpa memikirkan apakah tubuh kecilku akan menjadi santapan hewan buas,"
"Dengan keyakinan tidak seorang pun tahu keberadaanku, padahal Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Melalui tangan hamba-Nya yang baik, aku dipulangkan dengan layak, bersih, dan wangi, karena surga telah menungguku. Untuk orang tua, jagalah diri dari perbuatan zalim ini. Semoga tidak ada lagi kisah seperti aku.” (monolog imajiner korban)
Bukan Ibu yang Tak Sayang
Sering kali kita terlalu cepat menghakimi, terlalu mudah melabeli seorang ibu sebagai 'tak punya hati'.
Padahal, di balik setiap kasus pembuangan bayi yang kami dampingi, selalu ada cerita yang jauh lebih kompleks daripada sekadar vonis moral.
Baca juga: Satu Nelayan Aceh Timur yang Ditahan Otoritas Thailand Bebas, 18 Lainnya Masih Ditahan
Baca juga: VIDEO Baru Umumkan Akhiri Perang, Trump Sebut Serangan ke Iran Bisa Terjadi Lagi
Ada perempuan muda yang hamil akibat kekerasan seksual dan tidak tahu harus mengadu ke mana. Ada ibu yang hidup dalam keterbatasan ekonomi tanpa perlindungan. Ada perempuan yang takut diusir, dihakimi, dan ditinggalkan jika kehamilannya diketahui.
Pembuangan bayi bukan lahir dari ketiadaan cinta, melainkan dari ketiadaan pilihan. Bahkan, ketika orang terdekat pun tidak lagi menjadi tempat aman.
Ketika Angka Berbicara Lebih Keras dari Tangisan
Kasus kekerasan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sepanjang 2025, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat 967 kasus kekerasan yang terlaporkan.
Sementara banyak kasus lain tidak dilaporkan karena dianggap aib atau diselesaikan secara adat yang belum tentu berpihak pada keadilan.
Opini Tentang Perlindungan Perempuan
Opini Kupi Beungoh Miftahul Jannah
Komunitas Sahabat Saksi dan Korban
| Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian |
|
|---|
| Menghindari JKA Sebagai Sumbu Konflik: Urgensi Cooling Down bagi Elite Aceh |
|
|---|
| Dokter Internsip dalam Jerat Bullying Sistemik |
|
|---|
| Hardiknas dan Ruang Kelas yang Sunyi: Benarkah Anak Sudah Merdeka Belajar? |
|
|---|
| Ruang Aman Bagi Anak dalam Sistem Pengasuhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Miftahul-Jannah_1.jpg)