Kupi Beungoh
Perang dan Damai – Bagian 17, Selamat Jalan Perang, Menuju Perdamaian
Harapan damai Iran-AS mulai terbuka. Di tengah konflik dan blokade Hormuz, dunia menanti akhir perang yang menguras kemanusiaan.
Oleh: Yunidar Z.A
Perkembangan terbaru perdamaian di Iran akan segera terwujud, mengarah pada negosiasi yang sukses untuk mengakhiri permusuhan militer dan membuka Kembali selat Hormuz.
Sebelumnya Iran menetapkan tenggat waktu kepada Amerika Serikat (AS) selama satu bulan untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan tidak akan memenuhi permintaan tersebut dan tetap mempertimbangkan opsi militer (Pratama Aditya 2006, 6 Mei. https://mpi.sindonews.com).
Blokade AS terhadap selat Hormuz untuk mengekang ekonomi Iran, hal ini untuk menambah skala malapetaka, duka untuk rakyat Iran
Jika malapetaka diukur menurut skala Foster, yakni berdasarkan jumlah korban, jumlah penduduk terdampak, serta luasnya kehancuran. Maka, sejarah mencatat bahwa malapetaka terbesar yang pernah dialami umat manusia adalah Perang Dunia II.
Setelah itu, wabah pes pada Abad pertengahan di Eropa yang dikenal sebagai Maut Hitam (Black Death), menjadi tragedi kemanusiaan yang meluluhlantakkan peradaban, kemudian disusul oleh Perang Dunia I, dan di bawahnya tragedi bom atom di Hiroshima (T. Jacob, 1992, hal. 93).
Catatan sejarah ini memberi satu pelajaran penting, ketika perang ditabuh menjadi pilihan, maka kemanusiaan selalu menjadi korban pertama dan terakhir.
Dunia yang tidak ada kepastian hari ini, dunia kembali berdiri di persimpangan yang serupa sebagaimana sejarah masa lalu, perebutan terhadap kebutuhan energi, kekuasaan atau hanya karena keputusan “ugal-ugalan” penguasa untuk berperang.
Baca juga: Perang Iran vs AS Mulai Mereda, Ancaman Baru Muncul dari Perompak Somalia
Demikian terjadinya konflik agresi militer AS yang dimulai 28 Februari 2026 lalu menyerang Iran, kini telah berlangsung lebih dari enam puluh hari, bukan hanya telah menguras sumber daya, namun juga menggerus harapan, mahalnya kebutuhan hidup dan energi seluruh dunia.
Bagi rakyat Iran, penderitaan, luka yang ditinggalkan bukan sekadar luka fisik, hancurnya ekologi, fasilitas publik, sekolah, rumah sakit, perumahan, melainkan luka batin kolektif yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.
Dalam situasi seperti ini, wacana tentang perdamaian suatu keniscayaan kebutuhan mendesak bagi kelangsungan ekologi dan peradaban manusia.
Dunia modern kini semua terhubung dalam bahasa dan ilmu pengetahuan, teknologi tinggi manusia terasing dalam keadaan ketidakpastian dalam kecanggihan, ilmu pengetahuan dan kecerdasan bertambah, namun tertinggal terhadap keamanan kemanusiaan, kurang empati dan hilang nurani kemanusiaan.
Konflik dengan kekerasan terbukti masih terjadi di banyak negara, namun pada hakikatnya manusia mendambakan kehidupan yang damai.
Masyarakat global dalam menggapai perjuangan untuk kesejahteraan berharap dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya, energi murah, tanpa ketakutan, dapat berlayar melintasi samudra tanpa ancaman, berwisata berpergian ke seluruh dunia tidak ada hambatan, serta dapat membangun hubungan antarbangsa yang dilandasi saling percaya, setara, adil, merdeka, bermartabat.
Baca juga: Dari Sopir Truk Menjadi Pengusaha: Raja Khatami Berbagi Waktu untuk Bisnis Sambil Kuliah di UNIKI
Dalam kerangka ini, keamanan tidak lagi semata dipahami sebagai kekuatan militer, tapi sebagai keamanan manusia human security yang mencakup keselamatan, kesejahteraan, dan martabat setiap individu.
Dalam konteks tersebut, Iran seringkali diposisikan dalam narasi global yang penuh kecurigaan, sebagai masyarakat “tertutup”.
Namun, sebenarnya pemaknaan yang lebih dalam menunjukkan bahwa Iran adalah sebuah negeri “terbuka” dengan akar peradaban yang sangat tua, kaya, dan kompleks.
Dari lanskap alamnya yang eksotis hingga warisan intelektualnya yang luas, lanskap bangunan tua sebagai warisan peradaban dunia. Iran merepresentasikan sebuah bangsa yang tidak hanya bertahan dalam sejarah, namun juga terus berkontribusi pada peradaban dunia.
Alam Iran, dengan pegunungan yang kokoh, gurun yang luas, dan taman-taman yang merefleksikan filosofi harmoni, sesungguhnya menyimpan pesan damai. Di balik dinamika politiknya, terdapat masyarakat yang berilmu pengetahuan luas intelektual tercerahkan, berbudaya tinggi, dan memiliki kesadaran sejarah yang kuat. Mereka adalah bagian dari tradisi panjang yang menghargai akal, ilmu, seni, budaya peradaban dan dialog.
Oleh karena itu, bila ada kekuasaan yang melihat Iran semata sebagai ancaman adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Perspektif keamanan manusia mengajak kita untuk melihat lebih jauh, bahwa sebuah bangsa tidak bisa direduksi menjadi konflik atau kebijakan politik sesaat. Iran, sebagaimana bangsa lain, adalah entitas peradaban yang memiliki hak untuk hidup merdeka dalam damai dan berkontribusi pada tatanan global yang lebih adil.
Perundingan perdamaian dalam konteks ini harus melampaui pendekatan konvensional yang hanya berfokus pada keseimbangan kekuatan.
Perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat dicapai jika kebutuhan dasar manusia terpenuhi dengan rasa aman, akses terhadap energi, kebebasan mobilitas, serta pengakuan atas identitas budaya. Tanpa itu, perjanjian damai hanya akan menjadi jeda sementara sebelum konflik berikutnya muncul.
Konflik yang berlangsung lebih dari dua bulan ini telah menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas global. Jalur pasok energi terganggu, perdagangan internasional terhambat, dan ketegangan geopolitik meningkat.
Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang tetap konstan, keinginan masyarakat dunia untuk hidup damai bahkan warga AS yang dalam kehidupan demokratis menolak perang dan kekerasan. Keinginan ini melintasi batas negara, agama, dan ideologi.
Dalam narasi yang lebih luas, alam Iran sendiri seakan menjadi saksi bisu dari absurditas perang. Ia tetap menghadirkan ketenangan di tengah kekacauan, kebersamaan malam panjang masyarakat di Iran seolah mengingatkan bahwa harmoni adalah keadaan alami, sementara konflik adalah penyimpangan.
Sungai yang mengalir, angin yang berhembus di gurun, dan pegunungan yang berdiri tegak, semuanya mencerminkan keseimbangan yang seharusnya juga menjadi prinsip dalam hubungan antarbangsa.
Bagaimana sebenarnya memaknai Iran dalam kerangka keamanan kemanusiaan? Jawabannya terletak pada kemampuan kita untuk melihatnya sebagai bagian dari komunitas global yang setara.
Sebagai bangsa berperadaban, Iran memiliki potensi untuk menjadi jembatan dialog antara tradisi dan modernitas, antara Timur dan Barat. Potensi ini hanya dapat terwujud jika ruang diskusi untuk dialog dibuka, bukan ditutup oleh prasangka, stereotipe.
Negosiasi, jalur diplomatik, perundingan perdamaian harus mengedepankan prinsip inklusivitas. Semua pihak yang terlibat harus dipandang sebagai subjek, bukan objek. Kepentingan keamanan tidak boleh mengorbankan kemanusiaan.
Dalam hal ini, pendekatan keamanan manusia menjadi relevan karena menempatkan individu, bukan negara sebagai pusat perhatian.
Sejarah telah menorehkan bahwa perdamaian yang dipaksakan tidak akan bertahan lama. Sebaliknya, perdamaian yang dibangun di atas keadilan, saling pengertian, setara dan penghormatan terhadap peradaban kemanusiaan akan memiliki daya tahan yang lebih kuat, karenanya, penting untuk menggeser paradigma dari “menang atau kalah” menjadi “hidup bersama”.
Dalam dunia yang semakin terhubung, tidak ada konflik yang benar-benar lokal. Dampaknya selalu meluas, mempengaruhi stabilitas regional dan global. Karena itu, tanggung jawab untuk menciptakan perdamaian juga bersifat kolektif “jaringan perdamaian”.
Negara-negara, organisasi internasional, dan masyarakat sipil harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi dialog. Menegakkan mandat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk ambil bagian dalam menciptakan perdamaian dunia
Perang mungkin dapat mengubah peta politik, tapi hanya perdamaian yang dapat membangun masa depan. Luka yang ditinggalkan oleh konflik tidak akan sembuh dengan sendirinya. Ia membutuhkan rekonsiliasi, pemulihan, dan komitmen jangka panjang untuk memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang.
dunia tidak hanya membutuhkan ketiadaan perang, namun kehadiran perdamaian positif yang aktif. Perdamaian yang memungkinkan manusia untuk hidup dengan martabat, berkembang, mandiri, merdeka dan berkontribusi pada peradaban. Iran, dengan segala kompleksitasnya, adalah bagian dari upaya tersebut.
Kompromi dan menyelesaikan beberapa isu strategis terkait pengelolaan Selat Hormuz yang perlu kesetaraan dan kesepahaman bersama para pihak yang bertikai membutuhkan waktu yang Panjang, Negosiasi yang sukses hari ini untuk mengakhiri permusuhan militer dan membuka jalan menuju perdamaian, pertanda kabar baik untuk masyarakat dunia.
Penderitaan dan kelelahan yang dirasakan oleh rakyat Iran akibat konflik yang berkepanjangan, kini berbuah harapan perdamaian. Alam Iran tetap berkehendak damai.
Demikian pula manusia di dalamnya. Harapan damai sebagai kampanye solidaritas manusia di seluruh dunia. Pada dasarnya menginginkan hal yang sama, kehidupan yang bermartabat, damai, tenang, aman, Sejahtera, bermakna dan harmoni.
*) PENULIS adalah anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI)
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Tradisi, Patriarki, dan Hak Individu di Aceh |
|
|---|
| Trust Issue: Sinyal Darurat Kesehatan Mental atau Sekedar Drama Remaja |
|
|---|
| Menjaga Kesehatan Saat Menunaikan Ibadah Haji |
|
|---|
| Membaca Angka Statistik Partisipasi Usia Sekolah di Aceh |
|
|---|
| Interprofessional Education Bukan Hanya Belajar Bersama, tetapi Tentang Bertahan Bersama |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-Terbaru.jpg)