Jumat, 8 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai - Bagian 18, Berhaji dengan Tenang dalam Perdamaian

Kesepakatan damai para pihak sebagai hadiah bagi tamu Allah yang berhaji ke Baitullan dengan aman dan damai.

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Yunidar dan Laini keduanya adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Mahasiswi Pascasarjana Ahlulbayt University Hukum Pidana dan Kriminologi – Iran 

Oleh: Yunidar Z.A dan Laini*)

Menunaikan ibadah haji dengan tenang kini menjadi kenyatan sebelumnya dilaporkan  keadaan tidak pasti dalam situasi konflik Timur Tengah yang memerlukan persiapan mental, spiritual, dan koordinasi yang baik dalam pelaksaan haji tahun ini.

Kesepakatan damai para pihak sebagai hadiah bagi tamu Allah yang berhaji ke Baitullan dengan aman dan damai.

Perdamaian pada akhirnya bukan hanya cita-cita sebuah negara, melainkan kebutuhan seluruh umat manusia. 

Tidak ada masyarakat  di dunia ini yang benar-benar menginginkan perang, apalgi berlangsung tanpa akhir. 

Semua bangsa mendambakan kehidupan yang sejahtera, aman, dan bebas dari ketakutan akibat kekerasan dan perang. 

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 17, Selamat Jalan Perang, Menuju Perdamaian

Di tengah dunia golobal yang terus berubah, kesadaran itu tumbuh semakin kuat, bahwa masa depan manusia tidak dapat dibangun di atas reruntuhan konflik kekerasan, melainkan di atas keberanian untuk berdialog, setara dan saling memahami.

Di berbagai belahan dunia, jaringan-jaringan perdamaian terus bekerja tanpa lelah. Para mediator, aktivis kemanusiaan, pemuka agama, akademisi, dan masyarakat sipil bergerak melampaui batas negara untuk menghentikan peperangan, membuka blokade dan mengkampanyekan nilai nir-kekerasan. 

Mereka percaya bahwa setiap nyawa manusia memiliki martabat yang sama, dan bahwa kemenangan sejati bukanlah menaklukkan lawan, tapi menghentikan penderitaan dan duka bersama. 

Di dalam ruang-ruang diplomasi yang sunyi maupun di jalan-jalan tempat masyarakat bersuara meneriakkan perdamaian, semangat perdamaian terus dijaga dikampanyekan agar dunia tidak kehilangan nuraninya.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diharapkan mampu menjalankan mandatnya secara konsisten terhadap seluruh negara tanpa pengecualian. 

Dunia membutuhkan lembaga internasional yang berdiri tegak dalam menegakkan keadilan, kesetaraan, ketenteraman dan perdamaian, bukan hanya ketika kepentingan politik mengizinkan, namun dalam setiap keadaan. 

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian

Ketika hukum internasional diterapkan secara adil dan suara kemanusiaan dihormati, harapan terhadap perdamaian global akan tetap hidup dalam ketenteraman di tengah berbagai kepentingan, ketegangan geopolitik dunia.

Bayangkan di kawasan Teluk Iran, Selat Hormuz yang sangat padat, tetap menjadi simbol penting bagi jalur perdagangan dan hubungan antarbangsa. 

Tanpa Ancaman Blokade

Selat Hormuz Iran, bukan sekadar jalur laut strategis, tapi juga pengingat bahwa perdamaian harus dapat berlayar bebas tanpa ancaman blokade, perang. 

Stabilitas di kawasan itu membawa dampak besar bagi ekonomi dunia, jalur rantai pasok energi dan kehidupan jutaan manusia. 

Baca juga: Anggota Kongres AS Sorot Program Nuklir Israel, Tuntut Menlu Rubio Buka-bukaan

Karena itu, setiap langkah menuju negosiasi, dialog dan penghentian konflik kekerasan patut diapresiasi sebagai kemenangan akal sehat dan kemanusiaan.

Sikap demokratis yang mendorong penghentian perang dan membuka jalan menuju perdamaian dari para pemimpin maupun rakyat Amerika juga layak dihargai. 

Upaya para perunding, diplomat, dan mediator yang sejak awal terlibat untuk membangun jembatan dialog menunjukkan bahwa dunia masih memiliki orang-orang yang memilih jalan damai dibanding konfrontasi militer. 

Mereka memahami bahwa keberanian terbesar dalam politik bukanlah memperpanjang permusuhan, melainkan menciptakan ruang kepercayaan, kesetaraan agar perdamaian dapat diwujudkan  dalam aksi secara nyata.

Baca juga: Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ungkap Isi Pertemuan dengan Mojtaba Khamenei

Iran sendiri adalah bangsa besar dengan peradaban yang tinggi. Iran memiliki sejarah panjang sebagai pusat ilmu pengetahuan, filsafat, sastra, dan kebudayaan dunia. 

Dari tanah itu lahir ilmuwan, penyair, dan pemikir yang warisannya masih dipelajari hingga hari ini. 

Melihat Iran hanya dari sudut konflik politik berarti mengabaikan identitas besarnya sebagai gudang intelektual tercerahkan dan bagian penting dari sejarah peradaban manusia.

Dalam dunia kontemporer, harapannya di masa depan, Iran memiliki potensi menjadi jembatan penyatuan jalur pasok energi kebutuhan masyarakat dunia, antara Timur dan Barat, antara dunia Islam dan agama-agama lain, antara tradisi dan modernitas. 

Baca juga: VIDEO - PT GLEH Resmikan Insinerator Limbah Medis B3, Digadang Jadi Sumber PAD Puluhan Miliar Aceh

Posisi sejarah dan kebudayaannya memberi peluang besar untuk membangun dialog antar peradaban yang lebih luas.

Ketika bangsa-bangsa mulai memandang satu sama lain dengan lebih adil dan manusiawi, maka ruang untuk kerja sama akan terbuka lebih besar daripada ruang permusuhan, steriotipe.

Tanggung Jawab Bersama

Perdamaian seharusnya menjadi kesadaran bersama seluruh masyarakat dunia, bukan hanya tanggung jawab negara-negara yang sedang berkonflik. 

Seruan untuk menghentikan perang dan membebaskan negara-negara yang masih berjuang untuk merdeka seperti Negara Palestina pun harus dipahami sebagai panggilan kemanusiaan universal, bukan sekadar isu politik semata. 

Palestina adalah bagian dari nurani dunia yang mengingatkan bahwa penderitaan manusia tidak boleh dibiarkan menjadi hal biasa.

Baca juga: Skandal Korupsi di China: Dua Eks Menteri Pertahanan Dihukum Mati dengan Penangguhan

Perdamaian di Timur Tengah akan membawa pengaruh besar bagi stabilitas dunia, baik secara sosial, perdaban, ekonomi, geopolitik, maupun moral. 

Karena itu, dunia membutuhkan cara pandang yang lebih bijaksana terhadap bangsa lain, dengan menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan konflik dan kebencian. 

Dengan memahami sejarah, peradaban, dan realitas yang lebih luas, harapan tentang dunia yang damai tidak lagi menjadi slogan kosong, melainkan tujuan bersama yang terus diperjuangkan oleh umat manusia.

Baca juga: USK Kembali Buka Pendaftaran Prodi Pendidikan Profesi Psikologi, Catat Tanggalnya!

Bagi umat muslimin seluruh dunia, saat menanti bulan haji yang segera tiba, jamaah yang telah berdatangan ke Baitullah memenuhi panggilan Allah Subhanawata’ala.

Sebagai hamba dan umat besar tentu saja berharap perdamaian suatu solusi yang bermartabat dan kedamaian di Timur Tengah suatu keniscayan sehingga dapat menjalan ibadah mahdah dengan tenang dan damai. Semoga.(*)

*) Kedua Penulis adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Mahasiswi Pascasarjana Ahlulbayt University Hukum Pidana dan Kriminologi – Iran

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com

Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved