Kupi Beungoh
Menagih Tanggung Jawab Rektor: Kampus Aceh sebagai Mesin Pencetak Pengangguran Bertitel
Pengangguran sarjana di Aceh kian parah. Kampus megah, tapi lulusan kalah bersaing. Saatnya rektor fokus membenahi mutu, bukan politik kampus.
Oleh: Redha R. Thogam, S.Sos.I, Sp.PSM
SERAMBINEWS.COM – Terdapat dua berita menyayat hati yang diangkat media ini dalam semester pertama tahun 2026. Kedua berita tersebut adalah tentang fenomena pengangguran yang kian parah di Aceh.
Berita pertama, pada awal tahun ini Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh fenomena pengangguran di Aceh didominasi oleh lulusan universitas (https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1010640/lulusan-perguruan-tinggi-jadi-penyumbang-pengangguran-terbanyak-di-aceh)
Berita kedua, Harian Serambi Indonesia edisi 7 Mei 2026 melaporkan, jumlah pengangguran di Aceh bertambah signifikan, yaitu 7.430 orang.
Tragisnya kedua berita tak pernah dibahas oleh pimpinan perguruan tinggi di Aceh. Para rektor, entah sengaja atau tidak, terkesan menutup mata dalam melihat fenomena pengangguran dari kalangan alumni kampus.
Gedung Megah, Alumni Kalah
Di balik gedung-gedung megah kawasan Darussalam yang berdiri kokoh dengan dana miliaran rupiah, tersimpan sebuah ironi pahit yang kian sulit disembunyikan.
Adalah fakta, Aceh rajin mencetak sarjana dengan berbagai titel di belakang nama orang, tapi gagal mencetak manusia unggulan yang tidak kalah dalam persaingan nasional dan global. Ini bukan tuduhan. Ini fakta yang terpampang telanjang dalam data Webometrics 2026.
Pada April lalu, media nasional merilis daftar perguruan tinggi terbaik Indonesia. Hasilnya sungguh menyayat. Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry, dua "jantong hate" pendidikan tinggi Aceh yang selama ini dibanggakan, tidak masuk dalam 20 besar PTN terbaik nasional.
Bahkan di kategori Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), UIN Ar-Raniry pun absen dari daftar 10 besar. Ironinya, satu dekade lalu USK rutin bertengger di papan atas. Kini nama itu nyaris tak terdengar dalam percakapan pendidikan nasional.
Yang lebih menyakitkan, penurunan peringkat itu berjalan beriringan dengan meningkatnya jumlah wisudawan setiap semester.
Ribuan sarjana terus dilahirkan dari kampus-kampus Aceh tiap semester. Setelah mengikuti seremoni wisuda dengan gegap gempita lalu mereka menganggur.
Tapi ribuan sarjana itu pula yang kemudian memadati kantor dinas, antre formulir CPNS, atau sekadar menganggur di rumah dengan ijazah tergantung dalam bingkai di dinding rumah orangtua mereka.
Lulusan S1 menganggur. Lulusan S2 menganggur. Bahkan penyandang gelar doktor pun tak luput dari nasib serupa.
Ini bukan kabar burung ini judul-judul berita yang muncul di media Aceh sendiri dalam sepekan terakhir (Baca tulisan Salsabila dan Nurul Amalia: https://aceh.tribunnews.com/opini/1024302/s1-hingga-s3-menganggur-menyoal-arah-kebijakan-pembangunan-aceh).
Kampus Pabrik Ijazah?
Kampus-kampus di Aceh, tanpa disadari, telah berubah menjadi semacam pabrik ijazah. Sibuk memproses mahasiswa masuk dan keluar, tanpa dengan sungguh-sungguh memastikan mereka pergi (diluluskan) sebagai manusia yang siap bersaing, berinovasi, dan membangun daerahnya sendiri.
| Ius Constituendum: Menata Hukum Masa Depan di Tengah Perubahan |
|
|---|
| Paradoks Pendidikan Indonesia: Antara Link and Match dan Realitas Lapangan |
|
|---|
| Standar Medis RSUDZA Dipaksa Berkompromi |
|
|---|
| Menggenjot Promotif-Preventif: Solusi Menyelamatkan Fiskal Kesehatan Aceh |
|
|---|
| Dari Hak Menjadi Syarat: Wajah Baru Layanan Kesehatan di Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Redha-R-Thogam-SSosI-SpPSM-Alumnus-S2.jpg)