Kupi Beungoh
Energi Global Kacau, Indonesia Jangan Terjebak Ilusi “Aman”
Di atas kertas, gangguan tertentu terlihat mulai longgar. Selat Hormuz, urat nadi energi dunia, disebut mulai terbuka secara parsial.
Kita perlu berani mengambil keputusan yang mungkin tidak populer hari ini demi keamanan energi generasi mendatang.
Krisis energi global hari ini menegaskan satu hal mendasar, yaitu stabilitas energi dunia tidak lagi bisa diasumsikan.
Bahkan ketika jalur “terbuka”, pasar tetap kacau karena faktor biaya, logistik, dan risiko yang saling berkelindan.
Jika Indonesia masih merasa “aman”, maka itu bukan karena sistem kita kuat, melainkan karena kita belum benar-benar diuji oleh badai yang sesungguhnya.
Dalam politik ekonomi, ujian biasanya datang ketika ruang persiapan sudah menipis dan ketika itu terjadi, strategi seringkali terlambat untuk diwujudkan.
Sudah saatnya Indonesia meninggalkan ilusi “aman” dan beralih pada pekerjaan berat dengan membangun ketahanan energi yang nyata, terukur, dan berjangka panjang.
Energi adalah urusan hidup warga, stabilitas fiskal, serta kemampuan negara untuk berdaulat di tengah dunia yang semakin tidak menentu.
Sinyal yang terus diulang dari berbagai laporan internasional harus kita baca dengan kepala dingin.
Ketidakpastian hari ini kemungkinan besar bukan pengecualian, melainkan norma baru dalam tatanan global. Kita tidak bisa lagi menunggu badai reda untuk mulai memperbaiki atap rumah kita.
Kesadaran akan kerentanan ini adalah langkah pertama menuju ketahanan yang sejati. Tanpa langkah konkret sekarang, kita hanya sedang menunggu giliran untuk terpukul oleh realitas pasar yang tidak kenal kompromi.
*) PENULIS adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala dan Pemerhati Energi
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Kemerdekaan yang Direnggut dari Langit Aceh |
|
|---|
| New Media: Masa Depan Komunikasi Publik dan Dilema Kedekatan dengan Kekuasaan |
|
|---|
| Setengah Abad Aceh “Digigit” Anjing Gila |
|
|---|
| Menagih Tanggung Jawab Rektor: Kampus Aceh sebagai Mesin Pencetak Pengangguran Bertitel |
|
|---|
| Ius Constituendum: Menata Hukum Masa Depan di Tengah Perubahan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Bidang-Geologi-Kelautan-USK-Prof-Muhammad-Irham.jpg)