Breaking News
Senin, 18 Mei 2026

Kupi Beungoh

Hipertensi Dulu Penyakit Orang Tua, Kini Darurat pada Anak Muda

Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir 60% anak muda yang mengalami tekanan darah tinggi tidak menyadarinya karena jarang...

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
SABARINA - Ns. Sabarina, S.Kep, Edukator Kesehatan GEN-A 

Oleh:

Ns. Sabarina, S.Kep, Edukator Kesehatan GEN-A

SERAMBINEWS.COM - Lelah yang kita banggakan bisa jadi tanda bahaya. Suatu hari saya duduk di ruang tunggu puskesmas. Seorang bapak paruh baya di sebelah bertanya kepada seorang anak muda, “Periksa apa, Nak?”

“Cek tekanan darah,” jawab anak muda itu.

Ia terkejut. “Masa anak muda cek tensi? Bukannya tekanan darah tinggi itu penyakit orang tua?”

Saya sering mendengar pertanyaan seperti itu. Dari keluarga, teman, bahkan dari dalam hati saya sendiri. Tapi lama-kelamaan saya melihat sendiri bahwa tekanan darah tinggi tidak lagi memandang usia. 

Teman sekuliah saya, umur 24 tahun, badannya ideal dan rajin olahraga, tapi tiba-tiba mengalami pusing berat saat presentasi. Kami mengukur tekanan darahnya 150/95 mmHg. Dia kaget, saya pun juga ikut kaget.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa satu dari tiga orang dewasa di Indonesia memiliki tekanan darah tinggi dan 12 persen terjadi pada usia 18-30 tahun dan trennya terus meningkat setiap tahun.

Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir 60 % anak muda yang mengalami tekanan darah tinggi tidak menyadarinya karena jarang memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. Mereka baru sadar setelah mengalami gejala yang tidak biasanya, tiba-tiba pingsan di kampus, gagal tes kesehatan kerja atau sakit kepala yang tak tertahankan. 

Coba bayangkan, di usia yang seharusnya penuh energi, tekanan darah tinggi memaksa jantung bekerja lebih keras setiap hari. Efeknya tidak langsung, seperti tetesan air yang membentuk batu, lambat laun pembuluh darah kehilangan elastisitasnya. Stroke dan serangan jantung kini mulai mengintai di usia 20-an.
Kenapa ini penting?

Karena Tekanan Darah diatas nilai normal diusia produktif bukan hanya sekadar hasil pemeriksaan kesehatan. Nilai tersebut sebagai alarm dari tubuh yang sering kita abaikan. Alarm itu tidak berbunyi keras, ia datang sebagai lelah yang kita banggakan.

Kita hidup di zaman yang memuja kesibukan. Lembur dianggap prestasi. Begadang dibanggakan. Media sosial membuat kita merasa tidak cukup jika tidak sibuk. Kita bangga dengan Lelah, seolah itu lambang kerja keras.

Padahal, tubuh kita tidak dirancang untuk terus-menerus dalam keadaan tegang. Setiap kali stres, hormon kortisol dan adrenalin meningkat. Jantung berdetak lebih cepat, pembuluh darah menyempit. Sekali-sekali tidak masalah, tapi jika setiap hari, tekanan darah akan naik dan menetap.

Para ahli kini sepakat bahwa anak muda di kota besar mengalami peningkatan tekanan darah yang signifikan. Hampir dua kali lipat dibanding satu dekade lalu, terutama karena stres kronis dan kurang tidur.

Belum lagi kebiasaan lain, kopi susu tiga kali sehari (gula dan kafein tinggi), makanan instan yang asin, malas gerak karena capek, dan tidur berantakan karena main HP sampai larut. Semua itu memperparah keadaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved