Rabu, 20 Mei 2026

Kupi Beungoh

Psikologi Forensik dan Perilaku Kejahatan di Masyarakat 

Perilaku kejahatan atau kriminalitas di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hal ini ditunjukkan dengan posisi Indonesia...

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
HAIYUN NISA - Dr. Haiyun Nisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Dosen Psikologi FK USK, Ketua APSIFOR Perwakilan Aceh.  

Faktor psikologis di balik kejahatan menunjukkan bahwa perilaku kriminal terbentuk melalui kombinasi pengalaman hidup, kondisi mental, tekanan sosial, dan lingkungan sekitar (Davies, 2017; Schmidt et al., 2021). Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak hanya fokus menghukum pelaku, tetapi juga memahami akar masalah yang melatarbelakangi tindakan kriminal. 

Kejahatan di Era Digital 

Perkembangan dunia digital menghadirkan sejumlah tantangan baru dalam proses penanganan permasalahan perilaku kejahatan. Tindak kejahatan tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga berkembang di ruang digital, seperti penipuan online, peretasan, pencurian data, perundungan siber, hingga eksploitasi seksual digital (Kakade et al., 2025). Perilaku kejahatan ini menjadi ancaman nyata bagi masyarakat modern. 

Kejahatan siber memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kejahatan konvensional, antara lain faktor anonimitas internet yang menyebabkan individu menjadi lebih berani melakukan tindakan agresif yang mungkin tidak akan dilakukan di dunia nyata. Penelitian menunjukkan bahwa sebagai pelaku kejahatan siber memiliki keinginan untuk melakukan tindak kejahatan yang dilandasi oleh kebutuhan akan kekuasaan, rasa ingin diakui, dan kepuasan intelektual ketika berhasil menembus sistem keamanan (Kabeer and Shaikh, 2008).  

Oleh karena itu, psikologi forensik memiliki peran penting untuk memahami profil pelaku kejahatan dan melakukan upaya pencegahan melalui pendidikan moral, penguatan kesehatan mental dan pembangunan kualitas hidup masyarakat.  Psikologi forensik diharapkan dapat membantu masyarakat untuk memahami bahwa kejahatan bukan sekedar persoalan benar dan salah, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara kondisi psikologis, lingkungan sosial, budaya, dan perkembangan teknologi.(*) 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved