Opini
Partai Aceh Antara Harapan dan Ujian Kepercayaan
MENYO kon ie, mandum leuhob. Meunyo koen droe, mandum gob.” Pepatah Aceh ini bukan sekadar kata indah, melainkan refleksi panjang
PA perlu menyadari bahwa mereka bukan hanya milik eks kombatan atau kelompok tertentu. Mereka adalah milik seluruh masyarakat Aceh. Dukungan yang dulu diberikan kepada GAM tidak datang dari ruang hampa. Ia lahir dari solidaritas masyarakat luas. Tanpa dukungan itu, sejarah mungkin akan berjalan berbeda.
Oleh karena itu, menjaga hubungan dengan masyarakat bukan sekadar strategi politik, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral. Jika Partai Aceh ingin tetap relevan di masa depan, mereka harus mampu membuktikan bahwa kekuasaan yang dimiliki benar-benar digunakan untuk kepentingan bersama.
Saat ini, panggung politik sedang berada di tangan mereka. Ini adalah kesempatan sekaligus ujian. Kesempatan untuk menunjukkan kapasitas dan integritas, serta ujian untuk melihat apakah mereka mampu memenuhi harapan yang telah dibangun selama ini.
Dalam politik, masyarakat pada akhirnya adalah penilai paling jujur. Mereka mungkin diam, tetapi tidak buta. Mereka mungkin sabar, tetapi tidak lupa. Jika kebijakan yang diambil dirasakan adil dan berpihak, kepercayaan akan tumbuh. Sebaliknya, jika yang terlihat justru ketimpangan dan eksklusivitas, maka jarak antara rakyat dan pemerintah akan semakin lebar.
Masa depan Partai Aceh sangat bergantung pada bagaimana mereka mengelola kepercayaan ini. Apakah mereka akan menjadi partai yang benar-benar merepresentasikan seluruh rakyat Aceh, ataukah terjebak dalam lingkaran kepentingan kelompok?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan ditentukan oleh retorika, tetapi oleh tindakan nyata. Oleh kebijakan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Oleh keberanian untuk mengoreksi diri ketika ada kesalahan.
Pada akhirnya, menjadi “awak nanggroe” bukan hanya soal asal-usul, tetapi juga soal keberpihakan. Dan keberpihakan itu harus dibuktikan, bukan hanya saat kampanye, tetapi terutama saat kekuasaan telah berada di tangan.
Ke depan, Partai Aceh dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Mereka bisa tetap bertahan dengan pola lama yang berisiko menggerus kepercayaan, atau berani melakukan pembenahan yang lebih mendasar. Jika keberanian itu muncul, maka peluang untuk tetap menjadi harapan rakyat Aceh akan terbuka lebar. Namun jika tidak, sejarah politik akan berjalan dengan caranya sendiri. Masyarakat akan mencari alternatif lain yang dianggap lebih mampu mewakili suara dan kepentingan mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/waketum-kadin-aceh-jafaruddin-husin.jpg)