Jumat, 22 Mei 2026

Kupi Beungoh

Kritik Bukan Benci: Scopus Q1, Gema Sitasi, dan Martabat Ilmu Aceh  

Perdebatan soal Scopus dan jurnal Q1 di Aceh memanas. Kritik dinilai penting agar reputasi akademik tumbuh dari mutu, bukan gema sitasi sendiri.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid

Dunia akademik Aceh sedang dipaksa menatap cermin dingin. Yang tampak bukan hanya Scopus, Q1, atau sitasi, melainkan pertanyaan telanjang: reputasi kita tumbuh dari mutu, atau membesar dari gema yang berputar di halaman sendiri?

Pertanyaan itu mencuat setelah Prof. TMJ (Kupi Beungoh, 14 Mei 2026) menggugat budaya akademik Aceh dan sebagian jurnal PTKIN yang dinilainya terlalu cepat mabuk indeks, ranking, dan sitasi, sementara pengaruh globalnya belum tentu sepadan. Gugatan itu memantik respons dari penulis (Kupi Beungoh, 15 dan 16 Mei 2026), Dr. Tgk. Tabrani ZA (Kupi Beungoh, 16 Mei 2026), Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim (Kupi Beungoh, 18 Mei 2026), dan menghidupkan kembali gema lama Dr. Ainal Mardhiah (Opini Serambinews, 15 Mei 2023). Rupanya, Scopus, profesor, jurnal, dan martabat ilmu bukan luka baru; ia hanya menunggu satu korek api untuk menyala.

Sayangnya, api diskusi mulai dibelokkan. Kritik dibaca sebagai dengki, pertanyaan dituduh serangan, evaluasi dianggap merusak prestasi.

Padahal kritik bukan pisau pembunuh, melainkan pisau bedah. Skripsi, tesis, disertasi, dan artikel jurnal menjadi kuat karena diuji. Maka aneh jika kampus ingin diakui dunia, tetapi gelisah ketika metadatanya dibaca.

Jika gawang kebobolan, tim dewasa memperbaiki pertahanan; tim kekanak-kanakan menyalahkan wasit, rumput, cuaca, penonton, bahkan bola. Begitu pula jurnal.

Ketika ranking melesat, sitasi lokal mendominasi, dan kutipan kampus sendiri menonjol, jawaban bermartabat bukan marah, melainkan membuka data. Dalam ilmu, angka tidak perlu dibentak; cukup dibaca dengan jujur.

Metadata Scopus: Jejak Digital yang Tak Bisa Berdusta

Berdasarkan metadata Scopus/SJR per 17 Mei 2026, Indonesia hanya memiliki 252 jurnal Scopus dari lebih 29.554 jurnal dunia, sekitar 0,85 persen. Tetapi dari 54 jurnal Indonesia yang sudah duduk di Q1, hanya enam berasal dari sains-teknologi.

Sisanya, 48 jurnal, justru berada di sosial-humaniora. Ini kabar baik, tetapi juga alarm: Q1 sosial-humaniora Indonesia sedang naik cepat, sementara daya jangkau globalnya belum selalu ikut berlari.

Secara agregat, 54 jurnal Q1 Indonesia menerbitkan 9.934 artikel dan meraih 58.771 sitasi. Namun, hanya 20.346 sitasi atau 34,6 persen yang datang dari luar Indonesia. Sebaliknya, sitasi domestik mencapai 49.944 (85 persen) dengan pendekatan full counting. Bahkan, 51.9 persen jurnal menerima sedikitnya 90 persen sitasi dari dalam negeri. Artinya, sebagian Q1 Indonesia masih lebih nyaring di halaman sendiri daripada di panggung dunia.

Aceh hanyalah salah satu cermin dari gejala nasional itu. Samarah, El-Usrah, Jurnal Ilmiah Islam Futura, Petita, Jurnal Ilmiah Peuradeun, dan SiELE memang berhasil masuk Q1. Itu prestasi. Tetapi angka juga punya lidah. Sitasi asing pada sebagian jurnal hanya sekitar 11–30,5 persen.

Sebaliknya, sitasi dalam negeri ada yang menembus lebih dari 95 persen. Sitasi kampus sendiri juga tidak kecil: Samarah 29 persen, El-Usrah 31,7 persen, Jurnal Ilmiah Islam Futura 36,1 persen, dan Petita 51,9 persen. SiELE relatif lebih sehat, dengan sitasi asing 40,5 persen dan sitasi kampus sendiri 10,9 persen.

Bandingkan dengan jurnal yang jauh lebih tua. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM dan Indonesian Journal of International Law UI masih Q3. Harvard Environmental Law Review, terbit sejak 1979, masih Q2. Beberapa jurnal Oxford dan Harvard pun tidak otomatis masuk Q1.

Maka ketika jurnal yang relatif muda melesat cepat ke papan atas, pertanyaannya valid: ini reputasi global yang tumbuh alami, atau mahkota yang masih disangga mesin sitasi domestik?

Ini bukan vonis, melainkan sirene. Sitasi lokal dan kampus sendiri tidak otomatis najis akademik. Tetapi ketika suara dunia hanya bisik-bisik, sementara gema domestik berdentam seperti beduk kemenangan, jurnal mulai tampak seperti ruang tertutup: ramai, tetapi berbicara kepada dirinya sendiri. Apalagi banyak Q1 Indonesia bertumbuh di sosial-humaniora dan lingkungan PTKIN.

Jika reputasi terlalu bergantung pada lingkar sitasi yang rapat, yang retak bukan hanya grafik bibliometrik, tetapi juga wibawa intelektual Muslim Indonesia. Q1 boleh tinggi, tetapi tanpa jangkauan global yang sehat, ia hanya mahkota kardus: gagah di foto, lembek saat hujan audit turun.

Kritik Itu Kopi Pahit, Pujian Itu Gula Berlebih

Ada kisah tentang kera di atas pohon. Saat badai datang, ia selamat karena bahaya membuatnya sadar. Ia menggenggam dahan lebih kuat. Tetapi saat angin sepoi-sepoi membelai, ia merasa aman, terlena, lalu jatuh. Ia bukan tumbang oleh badai, melainkan oleh kenyamanan dan pujian.

Begitulah kritik dan pujian. Kritik yang jujur memang kasar di telinga, mengguncang harga diri, dan membuat wajah akademik memerah.

Tetapi ia membangunkan sebelum jatuh. Pujian yang berlebihan justru bisa membius: pemimpin kehilangan kepekaan, akademisi kehilangan kerendahan hati, institusi kehilangan daya koreksi.

Kritik itu seperti kopi pahit. Tidak selalu memanjakan lidah, tetapi membuka mata. Terlalu banyak gula memang manis, tetapi diam-diam bisa menjadi penyakit. Maka jangan cepat membenci kritik, dan jangan mabuk oleh tepuk tangan.

Kritik tentang Q1, sitasi, dan metadata Scopus memang pahit, tetapi pertanyaannya menyelamatkan: sitasi itu datang dari dunia, atau hanya dari rumah sendiri? Pahit semacam inilah yang menjaga martabat ilmu.

Artikel Disertasi: Jejak Kontribusi, Bukan Jejak Kuasa

Polemik Scopus juga menyentuh kebijakan kampus. Beberapa kampus besar, termasuk USK, mewajibkan mahasiswa doktoral menembus jurnal bereputasi internasional. Dalam proses itu, promotor menjadi co-author. Dari luar, ini mudah disindir sebagai panen publikasi mahasiswa dengan bonus “wet-wet gaki”.

Namun artikel disertasi bukan buah jatuh dari langit akademik. Ia tumbuh dari benih gagasan, akar teori, batang metode, air data, dan cahaya tafsir yang dijaga panjang. Promotor yang ikut menanam, merawat, memangkas, dan mengawal naskah hingga accepted layak menjadi penulis. Yang tercela bukan promotor sebagai co-author, melainkan nama yang datang saat panen tanpa pernah berkeringat di ladang ilmu.

Prinsip ICMJE tegas: penulis harus berkontribusi substansial pada konsep, desain, data, analisis, atau interpretasi; ikut menulis atau merevisi kritis; menyetujui versi final; dan bersedia bertanggung jawab atas integritas artikel. Authorship bukan bunga jabatan, melainkan meterai tanggung jawab ilmiah.

Karena itu, nama penulis tidak boleh menjadi kaligrafi kosong di dinding artikel. “Gift, guest, dan ghost authorships” adalah tiga “Penulis G” yang membuat artikel ramai nama, tetapi sunyi amanah.

Di Indonesia, semangat ini sejalan dengan Permendikbudristek No. 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik, yang menegaskan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepengarangan yang sah. Maka artikel dari disertasi wajib menempatkan mahasiswa doktoral sebagai penulis pertama. Promotor dan kopromotor layak menjadi co-author hanya jika kontribusinya nyata, substansial, dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Bukan karena pangkat, senioritas, tradisi, atau rasa “tidak enak”, tetapi karena ikut membangun ilmu. Dalam akademik yang sehat, authorship mengikuti jejak kontribusi, bukan bayangan kuasa.

Melesat ke Q1, Jangan Terpeleset ke Discontinued

Kritik terhadap jurnal bukan palu peruntuh, melainkan pagar sebelum jurang. Kita tidak ingin jurnal Aceh yang hari ini dielu-elukan sebagai Q1, besok tersandung discontinued dan masuk dalam Scopus Title Discontinuation List.

Jurnal bisa dihentikan indeksasinya karena mutu editorial merosot, artikel membanjir tidak wajar, penulis dan editor terlalu terkonsentrasi, review mencurigakan, sitasi dipoles, atau etika publikasi dilanggar. 

Hal serupa pernah menimpa sejumlah jurnal Indonesia, seperti Human Rights in the Global South, Jurnal Lektur Keagamaan, Kharisma, Prophetic Law Review, Bali Medical Journal, Narra J, dan TELKOMNIKA. Semua ini cukup menjadi pengingat: indeksasi bukan jaminan abadi.

Naik cepat tidak selalu kuat. Jika fondasi rapuh, Q1 bukan mahkota, tetapi bom waktu. Yang paling terluka adalah penulis. Dosen dan mahasiswa S3 bisa membayar puluhan juta, revisi berdarah-darah, artikel terbit, lalu jurnalnya ternyata predator, fake indexing, cloning, atau discontinued.

Artikel ada, tetapi tidak diakui. Dosen gagal memenuhi syarat kenaikan pangkat, BKD, dan kinerja akademik. Mahasiswa S3 terancam gagal memenuhi syarat kelulusan. Uang bisa dicari lagi; waktu, naskah, dan masa akademik yang hangus jauh lebih mahal. Ini tidak boleh menimpa kampus Aceh, pengelola jurnal Aceh, dan akademisi Aceh.

Karena itu, sebelum artikel dikirim, tabayyun akademik wajib dilakukan. Cek jurnal langsung di Scopus Source List: masih aktif atau sudah discontinued, benar terindeks atau sekadar mengaku. Jangan mudah terpikat oleh jampi-jampi “Q1”, “Scopus indexed”, “fast publication”, atau “guaranteed acceptance”.

Broker publikasi tidak menjual ilmu; mereka menjual ketakutan dosen dan kepanikan mahasiswa S3. Aceh punya riwayat cerdik: Teuku Umar pernah memperdaya Belanda. Tetapi sejarah juga mengajarkan, simbol mulia dan janji manis bisa membuat kewaspadaan tertidur. 

Maka akademisi Aceh jangan luluh oleh nama yang tampak saleh, situs yang tampak rapi, dan email yang terdengar sopan. Tanda bahayanya sering terang: penerbit kabur, scope melebar ke mana-mana, artikel membanjir, review kilat, APC agresif, editorial board samar, sitasi berputar, dan status Scopus tidak diverifikasi. Jangan sampai kecerdikan Aceh yang dulu menipu penjajah, hari ini ditipu tautan jurnal palsu, salam manis, dan invoice APC mahal.

Aceh tidak perlu mengecil di hadapan UI, UGM, Oxford, Harvard, Leiden, atau Sorbonne. Aceh bisa sejajar jika pengakuan itu diraih dengan mutu, adab, dan martabat.

Sebagaimana harapan Dr. Tgk. Tabrani ZA, Founder of SCAD Independent, Aceh memiliki keunikan epistemik dalam kajian Islam, syariah, hukum, pendidikan, dan masyarakat. Syariat, dayah, adat, konflik, perdamaian, tsunami, ekonomi Islam, dan peradaban maritim adalah tambang ilmu besar. 

Namun, ia hanya menjadi wibawa global jika ditulis dengan metodologi kokoh, diuji terbuka, dikutip karena relevansi, dan dipercaya karena integritas. Scopus penting, tetapi bukan kiblat terakhir.

Q1 membanggakan, tetapi bukan surat suci akademik. Kritik bukan pemadam harapan, melainkan penjaga martabat agar Aceh besar dengan ilmu yang bersih dan gagasan yang dihormati dunia.

Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved