Jumat, 22 Mei 2026

Pojok Budaya

Jauh Dulu, Baru Pulang: Validasi Dulu Baru Dapat Kesempatan?

Saya mengenalnya sebelum semua itu. Ia belajar di Sekolah Musik Moritza sekitar 2018. Kemampuannya terbentuk di sini, di kota ini.

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Moritza Thaher, musisi Aceh yang juga pendiri Sekolah Musik Moritza 

Oleh: Moritza Thaher*)

April lalu, Lapangan Blang Padang jadi tempat perayaan HUT ke-821 Banda Aceh. Malam puncak. Panggung besar. Salah satu pengisi acaranya adalah Nabila Taqiyyah — penyanyi asal Aceh, runner-up Indonesian Idol 2023.

Saya mengenalnya sebelum semua itu. Ia belajar di Sekolah Musik Moritza sekitar 2018. Kemampuannya terbentuk di sini, di kota ini.

Baca juga: Pustaka yang Kekurangan Mulut

Yang membuat saya berhenti sebentar bukan penampilannya.

Yang membuat saya berhenti adalah urutannya: ia harus pergi dulu ke Jakarta, masuk kompetisi nasional, menang di tingkat yang ditonton jutaan orang — baru kemudian dipanggil ke panggung utama kotanya sendiri.

Ini soal apa yang harus dilalui seseorang sebelum kota tempatnya tumbuh menganggapnya layak untuk panggung utamanya.

Baca juga: Kenduri dan Hal-hal yang Tidak Ikut Masuk Panggung

Nabila berhasil melewati jalur itu. Tapi ia satu orang. Di kota yang sama, ada yang kemampuannya setara. Mereka tetap di sini karena hidup menahan mereka di sini. 

Biaya. Pilihan. Akar yang dalam. Tetap berkarya. Tetap menunggu. Pertanyaannya: kenapa mereka harus pergi dulu untuk dianggap layak?

Dua Tahun, Pola yang Sama

Dua tahun sebelumnya, September 2024, pemerintah menggelar Aceh Local Band di Taman Budaya — bagian dari rangkaian PON. Dua hari, musisi lokal, panggung apresiasi. Di waktu yang sama, acara-acara berskala provinsi menghadirkan nama dari luar.

Baca juga: Di Antara Mimpi Allende dan Keteguhan Castro, Kemana Arah Perubahan Indonesia?

Saya mengikuti ini dari pinggir. Sebagai pengamat dari dalam.

Polanya sederhana dan konsisten. Musisi lokal mendapat panggung apresiasi. Panggung utama menghadirkan nama yang sudah divalidasi dari luar.

Nama dari luar masuk lebih dulu. Karena nama yang sudah dikenal lebih mudah dijual — ke panitia, ke sponsor, ke publik. Musisi lokal dipertimbangkan belakangan. 

Baca juga: VIDEO - Baru Saja Sah, Pengantin Pria Mendadak Kabur Tinggalkan Istri Menangis Histeris

Jika ada slot tersisa. Jika anggaran cukup. Jika ada yang merekomendasikan dari dalam lingkaran. Hasilnya kebiasaan yang tidak pernah dipertanyakan.

Antara 2024 dan April 2026 — apa yang berubah?

Sebelum Nama Itu Dipanggil

Ada band di Aceh yang sudah rekaman. Materinya solid. Ada penyanyi perempuan dengan basis pendengar lokal yang besar. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved