Kupi Beungoh
Kritik Bukan Benci: Scopus Q1, Gema Sitasi, dan Martabat Ilmu Aceh
Perdebatan soal Scopus dan jurnal Q1 di Aceh memanas. Kritik dinilai penting agar reputasi akademik tumbuh dari mutu, bukan gema sitasi sendiri.
Oleh: M. Shabri Abd. Majid
Dunia akademik Aceh sedang dipaksa menatap cermin dingin. Yang tampak bukan hanya Scopus, Q1, atau sitasi, melainkan pertanyaan telanjang: reputasi kita tumbuh dari mutu, atau membesar dari gema yang berputar di halaman sendiri?
Pertanyaan itu mencuat setelah Prof. TMJ (Kupi Beungoh, 14 Mei 2026) menggugat budaya akademik Aceh dan sebagian jurnal PTKIN yang dinilainya terlalu cepat mabuk indeks, ranking, dan sitasi, sementara pengaruh globalnya belum tentu sepadan. Gugatan itu memantik respons dari penulis (Kupi Beungoh, 15 dan 16 Mei 2026), Dr. Tgk. Tabrani ZA (Kupi Beungoh, 16 Mei 2026), Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim (Kupi Beungoh, 18 Mei 2026), dan menghidupkan kembali gema lama Dr. Ainal Mardhiah (Opini Serambinews, 15 Mei 2023). Rupanya, Scopus, profesor, jurnal, dan martabat ilmu bukan luka baru; ia hanya menunggu satu korek api untuk menyala.
Sayangnya, api diskusi mulai dibelokkan. Kritik dibaca sebagai dengki, pertanyaan dituduh serangan, evaluasi dianggap merusak prestasi.
Padahal kritik bukan pisau pembunuh, melainkan pisau bedah. Skripsi, tesis, disertasi, dan artikel jurnal menjadi kuat karena diuji. Maka aneh jika kampus ingin diakui dunia, tetapi gelisah ketika metadatanya dibaca.
Jika gawang kebobolan, tim dewasa memperbaiki pertahanan; tim kekanak-kanakan menyalahkan wasit, rumput, cuaca, penonton, bahkan bola. Begitu pula jurnal.
Ketika ranking melesat, sitasi lokal mendominasi, dan kutipan kampus sendiri menonjol, jawaban bermartabat bukan marah, melainkan membuka data. Dalam ilmu, angka tidak perlu dibentak; cukup dibaca dengan jujur.
Metadata Scopus: Jejak Digital yang Tak Bisa Berdusta
Berdasarkan metadata Scopus/SJR per 17 Mei 2026, Indonesia hanya memiliki 252 jurnal Scopus dari lebih 29.554 jurnal dunia, sekitar 0,85 persen. Tetapi dari 54 jurnal Indonesia yang sudah duduk di Q1, hanya enam berasal dari sains-teknologi.
Sisanya, 48 jurnal, justru berada di sosial-humaniora. Ini kabar baik, tetapi juga alarm: Q1 sosial-humaniora Indonesia sedang naik cepat, sementara daya jangkau globalnya belum selalu ikut berlari.
Secara agregat, 54 jurnal Q1 Indonesia menerbitkan 9.934 artikel dan meraih 58.771 sitasi. Namun, hanya 20.346 sitasi atau 34,6 persen yang datang dari luar Indonesia. Sebaliknya, sitasi domestik mencapai 49.944 (85 persen) dengan pendekatan full counting. Bahkan, 51.9 persen jurnal menerima sedikitnya 90 persen sitasi dari dalam negeri. Artinya, sebagian Q1 Indonesia masih lebih nyaring di halaman sendiri daripada di panggung dunia.
Aceh hanyalah salah satu cermin dari gejala nasional itu. Samarah, El-Usrah, Jurnal Ilmiah Islam Futura, Petita, Jurnal Ilmiah Peuradeun, dan SiELE memang berhasil masuk Q1. Itu prestasi. Tetapi angka juga punya lidah. Sitasi asing pada sebagian jurnal hanya sekitar 11–30,5 persen.
Sebaliknya, sitasi dalam negeri ada yang menembus lebih dari 95 persen. Sitasi kampus sendiri juga tidak kecil: Samarah 29 persen, El-Usrah 31,7 persen, Jurnal Ilmiah Islam Futura 36,1 persen, dan Petita 51,9 persen. SiELE relatif lebih sehat, dengan sitasi asing 40,5 persen dan sitasi kampus sendiri 10,9 persen.
Bandingkan dengan jurnal yang jauh lebih tua. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM dan Indonesian Journal of International Law UI masih Q3. Harvard Environmental Law Review, terbit sejak 1979, masih Q2. Beberapa jurnal Oxford dan Harvard pun tidak otomatis masuk Q1.
Maka ketika jurnal yang relatif muda melesat cepat ke papan atas, pertanyaannya valid: ini reputasi global yang tumbuh alami, atau mahkota yang masih disangga mesin sitasi domestik?
Ini bukan vonis, melainkan sirene. Sitasi lokal dan kampus sendiri tidak otomatis najis akademik. Tetapi ketika suara dunia hanya bisik-bisik, sementara gema domestik berdentam seperti beduk kemenangan, jurnal mulai tampak seperti ruang tertutup: ramai, tetapi berbicara kepada dirinya sendiri. Apalagi banyak Q1 Indonesia bertumbuh di sosial-humaniora dan lingkungan PTKIN.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)