Pojok Humam Hamid
Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak
Jika anak muda Aceh hari ini ingin mencari bentuk ideal saudagar modern, maka Habib Bugak adalah salah satu model yang paling menarik
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Ketika nama Habib Bugak disebut, kebanyakan orang Aceh langsung mengingat Wakaf Baitul Asyi di Mekah yang hingga kini masih memberi manfaat bagi jamaah haji asal Aceh.
Namun tokoh ini sesungguhnya lebih dari sekadar pewakaf yang dermawan.
Di balik warisan tersebut berdiri seorang saudagar dengan visi ekonomi yang luar biasa, sosok yang menunjukkan bahwa sejarah Aceh tidak hanya dibentuk oleh ulama dan pejuang, tetapi juga oleh para pelaku perdagangan yang mampu membaca perubahan dunia.
Cara kita memahami sejarah Aceh selama ini sering terjebak pada dua narasi besar: perang dan agama.
Padahal, keberadaan figur seperti Habib Bugak mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi dan jaringan perdagangan juga merupakan bagian penting dari fondasi peradaban Aceh.
Melalui dirinya, kita dapat melihat bagaimana tradisi saudagar Aceh berperan dalam membangun hubungan lintas kawasan, menciptakan kemakmuran, dan meninggalkan warisan yang manfaatnya bertahan melampaui zamannya.
Baca juga: Baitul Asyi Salurkan Rp 51 Miliar untuk Jamaah Haji Aceh
Nama itu tidak sekadar hidup dalam buku sejarah. Ia hadir dalam pengalaman nyata ribuan jamaah Aceh yang setiap tahun menerima manfaat dari Wakaf Baitul Asyi di Mekah.
Namun justru karena terlalu sering dikaitkan dengan kisah wakaf dan haji, kita kadang gagal melihat sosok Habib Bugak secara lebih utuh.
Padahal di balik warisan tersebut berdiri seorang saudagar dengan visi ekonomi yang luar biasa jauh melampaui zamannya.
Ada sesuatu yang perlu direvisi dalam cara kita membaca sejarah Aceh. Terlalu lama Aceh dipahami melalui dua gambar besar: perang dan ulama.
Seolah-olah sejarah Aceh hanya dipenuhi dentuman mesiu dan gema khutbah.
Narasi seperti ini memang heroik, tetapi juga menyederhanakan watak masyarakat Aceh yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Sebab tidak ada masyarakat yang mampu bertahan berabad-abad di jalur perdagangan global hanya dengan keberanian perang atau semangat religius semata.
Baca juga: Jamaah Haji Sabang Hadiahkan Salak dan Cengkeh untuk Nazir Waqaf Habib Bugak di Mekkah
Dunia perdagangan Samudra Hindia tidak memberi belas kasihan kepada mereka yang malas membaca perubahan.
Ia hanya menghormati satu tipe manusia: mereka yang mampu memahami arus zaman lebih cepat daripada orang lain.
Dan tipe manusia itu pernah hidup di Aceh.
Namanya Habib Bugak al-Asyi.
Jika anak muda Aceh hari ini ingin mencari bentuk ideal saudagar modern, maka Habib Bugak adalah salah satu model yang paling menarik.
Bukan semata karena ia kaya. Banyak orang kaya dalam sejarah. Tetapi karena ia menunjukkan perpaduan yang sangat jarang: kemampuan ekonomi yang tajam sekaligus komitmen moral dan religius yang kuat.
Habib Bugak hidup dalam dunia yang brutal. Abad ke-18 bukan masa yang tenang. Jalur dagang berubah cepat.
Harga komoditas naik turun. Kapal tenggelam. Kekuasaan politik runtuh. Dalam dunia seperti itu hanya ada dua pilihan: belajar atau tersingkir. Dari tekanan sejarah seperti itulah watak saudagar Aceh dibentuk.
Ini penting dipahami. Tradisi ekonomi Aceh lama bukan tradisi yang lahir dari kenyamanan.
Ia tumbuh dari tekanan laut, persaingan dagang internasional, dan kebutuhan untuk bertahan di tengah perubahan global.
Saudagar Aceh harus berpikir lintas wilayah, memahami jaringan internasional, dan membaca momentum jauh sebelum istilah globalisasi dikenal.
Habib Bugak adalah produk paling matang dari ekosistem itu.
Ia memahami sesuatu yang bahkan banyak pebisnis modern gagal pahami: bahwa nilai terbesar tidak selalu terletak pada benda, tetapi pada posisi benda itu dalam arus manusia.
Tanah biasa bisa kehilangan nilai ketika manusia berhenti datang. Tetapi lokasi yang berada di pusat pergerakan manusia akan terus hidup bahkan ketika kerajaan runtuh dan mata uang berubah.
Dan Habib Bugak menemukan titik itu di Mekah.
Di sinilah kecerdasannya menjadi sangat modern. Jika banyak investor masa kini dipuji karena kemampuan membaca aset jangka panjang yang tahan terhadap perubahan zaman, maka Habib Bugak telah melakukan hal yang serupa lebih dari dua abad sebelumnya.
Ia tampaknya menemukan satu aset yang hampir mustahil kehilangan relevansinya: arus manusia menuju Mekah.
Ia melihat sesuatu yang tidak semua orang lihat. Bahwa selama Islam hidup, manusia akan terus bergerak menuju kota itu. Dan selama manusia datang, kebutuhan ekonomi akan terus lahir di sekitarnya.
Baca juga: Nazir Wakaf Habib Bugak Asyi Jamu Perwakilan Jamaah Haji Aceh
Tempat tinggal, logistik, makanan, pelayanan, dan ruang aman akan selalu dibutuhkan. Ini bukan tren sesaat. Ini adalah arus permanen peradaban.
Di sinilah Habib Bugak menunjukkan watak saudagar yang sesungguhnya. Ia membaca masa depan. Ia memahami nilai lokasi. Ia berpikir lintas generasi. Ia tidak terjebak pada keuntungan cepat.
Dan yang paling penting, ia memahami bahwa modal terbesar bukan yang paling cepat diputar, tetapi yang paling sulit kehilangan relevansi sejarah.
Dari pembacaan itulah lahir Wakaf Baitul Asyi.
Namun menyebutnya sekadar “wakaf” sering membuat orang gagal melihat kedahsyatan visi ekonominya.
Sebab di balik tindakan religius itu terdapat keputusan investasi jangka panjang yang sangat cerdas. Habib Bugak menempatkan modalnya tepat di pusat gravitasi dunia Islam.
Dan sejarah membuktikan bahwa ia benar.
Ketika kawasan sekitar Masjidil Haram berkembang menjadi salah satu kawasan properti paling bernilai di dunia Islam, aset wakaf itu tidak mati bersama perubahan zaman.
Ia justru bertransformasi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi modern Mekah.
Hari ini aset Wakaf Baitul Asyi terhubung dengan kawasan strategis seperti Ajyad, Misfalah, Jarwal, dan Aziziyah yang hidup dari arus jamaah haji dan umrah sepanjang tahun.
Nilai asetnya diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Namun angka itu bukan bagian paling penting dari cerita ini.
Yang jauh lebih penting adalah bahwa keputusan ekonomi yang dibuat lebih dari dua abad lalu masih terus menghasilkan manfaat hingga hari ini.
Setiap musim haji, jamaah asal Aceh menerima bantuan yang bersumber dari hasil pengelolaan aset wakaf tersebut.
Ini bukan sedekah sesaat.
Ini adalah manfaat sosial yang lahir dari keputusan ekonomi jangka panjang.
Tetapi Habib Bugak penting bukan hanya sebagai individu. Ia penting karena merepresentasikan sesuatu yang lebih besar: tradisi saudagar Aceh yang selama ini terlalu sering berada di pinggir narasi sejarah.
Fondasi ekonomi
Selama berabad-abad, Aceh tidak tumbuh di persimpangan dunia Islam dan dunia Asia hanya karena keberanian para panglimanya atau kedalaman ilmu para ulamanya.
Aceh juga dibangun oleh para pedagang yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan Samudra Hindia, membaca perubahan pasar, membangun jaringan lintas negara, dan menciptakan kemakmuran yang menjadi fondasi bagi kekuatan politik maupun perkembangan intelektual.
Jika ditelusuri lebih jauh, tradisi ini memiliki akar yang panjang. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, Aceh muncul sebagai salah satu penerima terbesar arus perdagangan Muslim yang berpindah ke utara Selat Malaka.
Pada abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan Aceh berkembang menjadi simpul baru perdagangan internasional yang menghubungkan dunia Arab, India, dan Nusantara.
Baca juga: VIDEO Calhaj Bireuen Dipeusijuek dan Ziarahi Makam Habib Bugak
Pada masa Sultan Iskandar Muda, kekuatan politik dan ekonomi Aceh mencapai puncaknya. Pelabuhan Aceh menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai bangsa.
Inilah fase ketika Aceh tampil bukan hanya sebagai kerajaan yang kuat, tetapi juga sebagai salah satu pusat perdagangan terpenting di kawasan Samudra Hindia.
Tradisi itu tidak berhenti ketika kekuatan politik Aceh mulai melemah. Pada abad ke-18 muncul figur-figur saudagar kosmopolitan seperti Habib Bugak yang bergerak hingga ke Hijaz.
Pada abad ke-19, jaringan saudagar Aceh tetap aktif di Penang, Singapura, dan berbagai kota pelabuhan di Selat Malaka. Ketika kekuatan negara melemah, jaringan saudagar tetap bergerak.
Jejaknya bahkan masih terlihat pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Ketika republik yang baru lahir menghadapi keterbatasan sumber daya, para saudagar dan masyarakat Aceh berhasil menghimpun dana untuk membantu pembelian pesawat Seulawah.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi Aceh tidak hanya berfungsi untuk kepentingan pribadi atau daerah, tetapi juga dapat dikonversi menjadi modal sosial dan politik bagi bangsa yang lebih besar.
Karena itu, mungkin sudah saatnya sejarah Aceh dibaca melalui tiga lensa sekaligus: ulama yang membentuk intelektualitas, pejuang yang menjaga kedaulatan, dan saudagar yang menciptakan kemakmuran.
Perang memang menghasilkan kisah-kisah heroik yang mudah diingat. Ulama melahirkan warisan intelektual yang menjadi sumber identitas masyarakat.
Tetapi perdaganganlah yang selama berabad-abad menyediakan sumber daya, membangun jaringan internasional, dan membuka ruang mobilitas yang memungkinkan keduanya berkembang.
Baca juga: Wagub Fadhlullah Undang Pengelola Wakaf Habib Bugak ke Aceh
Dengan kata lain, perang membentuk legenda Aceh. Ulama membentuk jiwanya. Tetapi saudagar menyediakan fondasi ekonomi yang membuat keduanya mungkin bertahan.
Habib Bugak adalah salah satu bukti paling jelas dari tradisi itu. Ia tidak sekadar mewariskan kekayaan.
Ia mewariskan cara berpikir: bahwa modal harus dibaca secara strategis, bahwa masa depan harus dilihat jauh melampaui umur manusia, dan bahwa kekayaan mencapai makna tertingginya ketika berubah menjadi institusi yang terus memberi manfaat bagi generasi yang tidak pernah mengenal nama pendirinya.
Mungkin karena itulah, lebih dari dua abad setelah wafatnya, sejarah masih terus membayar keputusan yang pernah ia buat.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
| Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional |
|
|---|
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Profesor-Humam-Hamid-di-Amerika.jpg)