Senin, 1 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak

Jika anak muda Aceh hari ini ingin mencari bentuk ideal saudagar modern, maka Habib Bugak adalah salah satu model yang paling menarik

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Ketika nama Habib Bugak disebut, kebanyakan orang Aceh langsung mengingat Wakaf Baitul Asyi di Mekah yang hingga kini masih memberi manfaat bagi jamaah haji asal Aceh

Namun tokoh ini sesungguhnya lebih dari sekadar pewakaf yang dermawan. 

Di balik warisan tersebut berdiri seorang saudagar dengan visi ekonomi yang luar biasa, sosok yang menunjukkan bahwa sejarah Aceh tidak hanya dibentuk oleh ulama dan pejuang, tetapi juga oleh para pelaku perdagangan yang mampu membaca perubahan dunia.

Cara kita memahami sejarah Aceh selama ini sering terjebak pada dua narasi besar: perang dan agama.

Padahal, keberadaan figur seperti Habib Bugak mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi dan jaringan perdagangan juga merupakan bagian penting dari fondasi peradaban Aceh

Melalui dirinya, kita dapat melihat bagaimana tradisi saudagar Aceh berperan dalam membangun hubungan lintas kawasan, menciptakan kemakmuran, dan meninggalkan warisan yang manfaatnya bertahan melampaui zamannya.

Baca juga: Baitul Asyi Salurkan Rp 51 Miliar untuk Jamaah Haji Aceh

Nama itu tidak sekadar hidup dalam buku sejarah. Ia hadir dalam pengalaman nyata ribuan jamaah Aceh yang setiap tahun menerima manfaat dari Wakaf Baitul Asyi di Mekah. 

Namun justru karena terlalu sering dikaitkan dengan kisah wakaf dan haji, kita kadang gagal melihat sosok Habib Bugak secara lebih utuh. 

Padahal di balik warisan tersebut berdiri seorang saudagar dengan visi ekonomi yang luar biasa jauh melampaui zamannya.

Ada sesuatu yang perlu direvisi dalam cara kita membaca sejarah Aceh. Terlalu lama Aceh dipahami melalui dua gambar besar: perang dan ulama

Seolah-olah sejarah Aceh hanya dipenuhi dentuman mesiu dan gema khutbah.

Narasi seperti ini memang heroik, tetapi juga menyederhanakan watak masyarakat Aceh yang sebenarnya jauh lebih kompleks. 

Sebab tidak ada masyarakat yang mampu bertahan berabad-abad di jalur perdagangan global hanya dengan keberanian perang atau semangat religius semata.

Baca juga: Jamaah Haji Sabang Hadiahkan Salak dan Cengkeh untuk Nazir Waqaf Habib Bugak di Mekkah

Dunia perdagangan Samudra Hindia tidak memberi belas kasihan kepada mereka yang malas membaca perubahan. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved