Kupi Beungoh
Regenerasi Kepemimpinan Fakultas: Smart Humanocracy Governance
Guru Besar USK menilai regenerasi kepemimpinan fakultas penting untuk mencegah kejenuhan jabatan dan memperkuat transformasi kampus.
Kepemimpinan berbasis amanah pada dasarnya berorientasi pada kontribusi nyata bagi institusi, penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta pemberdayaan generasi dosen muda agar mampu tumbuh menjadi penerus yang berkualitas.
Pemimpin dengan pendekatan ini umumnya membangun budaya kerja yang sehat melalui pengambilan keputusan yang partisipatif, kolaboratif, terbuka terhadap kritik, serta didasarkan pada pertimbangan data dan kepentingan institusi dalam jangka panjang.
Dalam proses regenerasi, pemimpin tidak merasa terancam oleh munculnya kader baru, melainkan justru aktif mempersiapkan suksesi kepemimpinan secara matang dan berkelanjutan. Tekanan kerja dikelola melalui pendelegasian kewenangan yang sehat sehingga organisasi tetap berjalan stabil tanpa bergantung pada satu figur semata.
Sebaliknya, kepemimpinan yang mulai mengalami kejenuhan atau kecanduan jabatan cenderung lebih berfokus pada upaya mempertahankan kekuasaan, mengamankan posisi struktural, dan menjaga kepatuhan birokratis. Pola pengambilan keputusan sering kali menjadi lebih defensif, sentralistik, dan minim ruang musyawarah karena terlalu kuat mempertahankan status quo.
Dalam konteks regenerasi, muncul kecenderungan untuk menghambat lahirnya pemimpin baru, mempertahankan dominasi kelompok tertentu, bahkan memanfaatkan celah regulasi untuk memperpanjang pengaruh kekuasaan.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menimbulkan kelelahan psikologis dan penurunan efektivitas kepemimpinan akibat beban struktural yang terus dipertahankan tanpa mekanisme distribusi tanggung jawab yang sehat.
Pada akhirnya, regenerasi kepemimpinan bukan sekadar pergantian jabatan struktural, melainkan upaya menjaga keberlanjutan marwah akademik, budaya inovasi, serta kesehatan organisasi perguruan tinggi. USK membutuhkan pemimpin fakultas yang cakap secara administratif, memiliki integritas, memiliki visi kolaboratif, berani melakukan pembaruan, serta bersedia mempersiapkan generasi penerus.
Karena institusi besar tidak dibangun oleh kekuasaan yang dipertahankan terlalu lama, melainkan oleh kepemimpinan yang mampu membangun sistem yang sehat, kader yang kuat, dan warisan akademik yang bermartabat. (email:rajuddin@usk.ac.id)
Penulis adalah Guru Besar Fakultas kedokteran Universitas Syiah Kuala
| Janji Helsinki Belum Lunas: Menimbang Suara Delapan Fraksi dalam Revisi UUPA |
|
|---|
| Surga Tersembunyi di Lembah Beutong, Irigasi Ulee Jalan Menjelma Jadi Objek Wisata Lokal |
|
|---|
| Tarik Ulur Gas Andaman: Akankah Pemerintah RI Korbankan Masa Depan Industri Aceh? |
|
|---|
| Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal Daerah di Tengah Dinamika Global |
|
|---|
| Americano No, Acehpungono Yes |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ProfDrdr-Rajuddin-SpOGKSubspFER.jpg)