Selasa, 2 Juni 2026

KUPIB BEUNGOH

Andaman, Kedaulatan Sarawak, dan Momentum Mualem Menjemput "Petrodollar" Aceh

Blok Andaman adalah momentum emas, mungkin yang terakhir di abad ini bagi Aceh untuk bangkit. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Iskandarsyah bin Syarifuddin, Pekerja Aceh di Sarawak Malaysia 

 Oleh: Iskandarsyah bin Syarifuddin*)
 
DARI pesisir Sarawak, Malaysia, saya memperhatikan dengan seksama dinamika yang sedang terjadi di tanah kelahiran saya. 

Langkah Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, yang menyurati Pemerintah Pusat untuk meminta penundaan persetujuan Plan of Development (PoD) I Blok Andaman adalah sebuah langkah konstitusional yang sangat berani. 

Ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan perjuangan harga diri untuk memastikan bahwa kekayaan alam Aceh tidak lagi hanya "numpang lewat" di depan mata, melainkan benar-benar menetap dan memakmurkan rakyat di darat.

Baca juga: Dukung Langkah Mualem, Puteh Usman: Gas Blok Andaman Sudah Tepat Diolah di KEK Arun 

Sebagai orang yang bekerja di lingkungan industri migas di Sarawak, saya menyaksikan sendiri bagaimana Kerajaan Negeri di sini begitu berdaulat melalui Petros (Petroleum Sarawak Berhad). 

Di sini, tidak ada molekul gas yang boleh keluar dari bumi mereka tanpa memberikan nilai tambah bagi daerah. 

Sarawak tidak mau hanya menjadi penonton atau sekadar menerima "uang bagi hasil" yang pasif.

Mereka terlibat langsung, mengelola infrastruktur di darat, dan memastikan bahwa industri lokal adalah prioritas utama. 

Baca juga: JASA Aceh Dukung Surat Mualem ke Menteri ESDM, ORF di KEK Arun Harus Jadi Pengungkit Ekonomi Aceh

Jika Sarawak mampu berdiri tegak mempertahankan hak ekonominya di hadapan pemerintah federasi, maka Aceh dengan senjata Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) seharusnya bisa melakukan hal yang sama. 

Kita harus mendukung penuh langkah Mualem yang menuntut posisi tawar yang setara ini.

Mengapa Gas Andaman Harus Mendarat di Aceh?

Pilihan untuk mengolah gas Andaman di darat (onshore) melalui fasilitas di Lhokseumawe adalah harga mati bagi masa depan kita. 

Kita tentu tidak ingin melihat kekayaan gas raksasa ini hanya diproses di tengah laut menggunakan kapal terapung yang kemudian langsung dibawa pergi oleh kapal-kapal tanker ke luar negeri. 

Baca juga: VIDEO Petaka bagi AS! Iran Buka 50 Pintu Rudal Jumbo di 18 Fasilitas Bawah Tanah

Jika itu terjadi, Aceh hanya akan mendapatkan sisa-sisa administratif tanpa adanya perputaran ekonomi yang nyata di tengah masyarakat. 

Pengolahan di darat berarti menghidupkan kembali integrasi industri yang selama ini menjadi tulang punggung kita. 

Gas yang mendarat akan menjamin napas panjang bagi PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan menghidupkan kembali kawasan industri di seputaran eks-Arun yang kini mulai sunyi. 

Marwah Kota Petrodollar

Kita semua merindukan kembali suasana Lhokseumawe sebagai "Kota Petrodollar" tempo dulu. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved