Jurnalisme Warga
Saat Mahasiswa Jadi Pelopor Tertib Berlalu Lintas
Pemerintah, melalui institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), terus-menerus mencurahkan energi dan perhatiannya untuk merumuskan
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Pemerintah, melalui institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), terus-menerus mencurahkan energi dan perhatiannya untuk merumuskan berbagai strategi demi menekan angka kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Salah satu implementasi nyata dari keseriusan tersebut diwujudkan melalui agenda kampanye masif serta sosialisasi mendalam mengenai "Edukasi Keselamatan Berkendara dan Penanganan Darurat Apabila Terjadi Kecelakaan di Jalan Raya".
Kegiatan ini dilaksanakan di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) Bireuen beberapa hari lalu. Sasaran utama acara ini adalah komunitas akademik, khususnya kelompok mahasiswa.
Acara ini berlangsung berdasarkan permintaan dari pihak Jasa Raharja bekerja sama dengan Polres Bireuen. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya budaya tertib berlalu lintas dan kemampuan dasar penanganan darurat kecelakaan di jalan raya.
Kepala Unit Keamanan dan Keselamatan (Kanit Kamsel) Satlantas Polres Bireuen, Aipda Hidayat Parulian, didampingi Aipda Rahmat Hidayat yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat dan pengguna media sosial, memaparkan beberapa kasus kecelakaan yang terjadi di wilayah Bireuen dan proses penanganannnya.
Di samping itu, petugas pelayanan PT Jasa Raharja Bireuen, Agus Setiawan, juga menyampaikan pentingnya surat laporan dari kepolisian untuk klaim Asuransi Jasa Raharja.
Melengkapi rantai edukasi tersebut, dr Dira hadir selaku pemateri yang memfokuskan bahasannya pada aspek medis dan keselamatan jiwa. Beliau memaparkan secara detail mengenai tata cara serta protokol yang benar dalam memberikan pertolongan pertama pada kasus kecelakaan lalu lintas.
Penjelasan medis ini disajikan secara interaktif melalui visualisasi beberapa contoh slide. Berdasarkan perspektif medis yang disampaikannya, sebuah kesalahan kecil sekalipun dalam memberikan pertolongan pertama pada kasus kecelakaan justru berpotensi besar memperparah kondisi fisik korban.
Risiko fatal ini mencakup seluruh tindakan krusial, termasuk kesalahan fatal pada saat memindahkan tubuh korban dari lokasi kejadian ke tempat yang lebih aman.
Pentingnya tema yang diusung membuat acara ini menjadi daya tarik bagi civitas akademika Uniki dan mahasiswa, terbukti dengan kehadiran ratusan mahasiswa yang berasal dari berbagai program studi (prodi). Acara ini juga didukung penuh oleh kehadiran seluruh unsur pimpinan universitas, di antaranya, Rektor, Wakil Rektor, Kepala Biro, Kepala Badan Penjamin Mutu (BPM), para dekan beserta jajaran strukturalnya, hingga melibatkan seluruh karyawan Uniki.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan sangat meriah dan dinamis. Ruang komunikasi dibuka lebar melalui sesi diskusi yang memberikan kesempatan emas bagi mahasiswa serta dosen untuk bertanya secara langsung mengenai variasi kasus di jalan raya beserta prosedur penanganannya.
Civits akademika juga diingtkan jangan takut melapor jika terjadi kecelakaan. Itu pesan Pak Polisi.
Sebagai wujud apresiasi dan stimulasi partisipasi aktif, pihak Jasa Raharja secara khusus memberikan kesempatan berharga bagi para dosen untuk turut serta menyampaikan edukasi singkat bertema keselamatan di jalan raya. Mereka yang terpilih dan berhasil memberikan edukasi terbaik, diberikan apresiasi berupa hadiah helm standar sebagai bentuk ucapan terima kasih.
Di sela-sela momentum berharga tersebut, Rektor Uniki dalam pidato sambutannya menitipkan pesan mendalam yang ditujukan kepada segenap mahasiswa dan seluruh civitas akademika Uniki. Beliau tegaskan dengan lantang, “Keselamatan harus menjadi prioritas utama ketika berkendara. Gunakanlah helm standar, lengkapi surat kendaraan, dan patuhi aturan lalu lintas agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.”
Edukasi mengenai keselamatan dan pertolongan pertama pada kasus kecelakaan di jalan raya bagi mahasiswa sangatlah penting, karena diharapkan mahasiswa mampu menjadi pelopor tertib lalu lintas sebagai ‘agent of change’ (agen perubahan). Mereka memiliki kekuatan moral dan sosial untuk mengedukasi masyarakat, dimulai dari lingkungan kampus hingga ranah publik yang lebih luas.
Untuk itu, mahasiswa jadi pelopor tertib berlalu lintas dimulai dari kampus untuk keselamatan bangsa.
Saat ini angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih didominasi oleh usia produktif, termasuk remaja dan mahasiswa di dalamnya. Kenyataan ini menuntut peran aktif mahasiswa tidak hanya sebagai pengguna jalan, tetapi juga sebagai pelopor keselamatan berkendara (safety riding). Sehingga, kampus harus menjadi laboratorium budaya tertib hukum, termasuk dalam berlalu lintas.
Terkadang kita berpikir mengapa harus mahasiswa? Karena, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam struktur sosial masyarakat dengan beberapa alasan utama, yaitu ‘role model’ (suri teladan). Dengan perilaku berkendara yang tertib, mahasiswa akan menjadi contoh langsung bagi pelajar sekolah menengah dan masyarakat sekitar.
Mahasiswa sebagai agen edukasi, dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik, mampu menyampaikan pesan-pesan keselamatan dengan cara yang lebih persuasif dan kekinian. Mahasiswa juga sebagai pengguna jalan terbesar karena aktivitas akademik yang tinggi membuat mobilitasnya sangat erat dengan jalan raya, sehingga kedisiplinan mereka akan berdampak signifikan pada penurunan angka pelanggaran.
Langkah nyata mahasiswa sebagai pelopor lalu lintas tidak harus dimulai dari hal-hal yang besar, cukup dengan melakukan kegiatan yang meyentuh, seperti edukasi internal dan kampanye kreatif, menginisiasi kampanye ‘safety riding’ di kampus melalui kolaborasi antara organisasi mahasiswa (seperti BEM atau UKM) dengan Satlantas Polres Bireuen seperti yang pernah dilakukan dengan memasang rambu keselamatan berkendaraan di sisi jalan menuju Kampus Uniki.
Ikhtiar lannya adalah memanfaatkan media sosial kampus untuk menyebarkan konten edukatif yang menarik tentang pentingnya helm SNI, fungsi spion, dan bahaya menggunakan ponsel saat berkendara.
Mahasiswa juga dapat membantu pihak Uniki dalam menerapkan Kawasan Tertib Lalu Lintas (KTL) di kampus dengan memarkir kendaraan sesuai dengan tempat yang sudah disediakan.
Sebagai wujud kepatuhan hukum yang paling mendasar bagi setiap pengendara wajib memiliki surat izin mengemudi (SIM) dan surat tanda nomor kendaraan (STNK) yang aktif, menghindari perilaku berkendara agresif, seperti menerobos lampu merah, melawan arus, atau menggunakan knalpot yang tidak sesuai standar (knalpot brong) yang mengganggu kenyamanan publik.
Pada akhirnya, tertib berlalu lintas secara keseluruhan bukanlah sekadar upaya mekanis untuk menghindari sanksi tilang dari aparat kepolisian. Lebih dalam dari itu, kesadaran berkendara adalah wujud nyata dari penghormatan tertinggi terhadap hak hidup, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain yang berbagi ruang di jalan raya.
Semua perubahan besar ini harus diawali dari diri masing-masing. Dengan menanamkan karakter disiplin sejak dini, kita sedang meletakkan batu pertama bagi fondasi sosial yang lebih kuat. Transformasi individu ini lambat laun akan membentuk sebuah generasi sosiologis baru, sebuah generasi yang tidak lagi melihat aturan sebagai beban, melainkan menempatkan keselamatan di jalan raya sebagai bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern, bernilai estetika tinggi, dan beradab, sebagai cerminan budaya bangsa. Semua hal itu dimulai dari bagaimana cara kita mengemudikan kendaraan hari ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/CHAIRUL-BARIAH-BARU-LAGI-OKE.jpg)